News / Internasional
Jum'at, 13 Maret 2026 | 21:00 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan).
Baca 10 detik
  • Perubahan rezim di Iran sulit tercapai tanpa intervensi darat masif, menguatkan posisi kekuasaan mereka saat ini.
  • Terdapat keretakan strategi antara AS dan Israel, fokus Washington pada ekonomi versus fokus Tel Aviv pada militer.
  • Eskalasi konflik memicu kenaikan harga bensin di AS sebesar 60 sen, memaksa pelepasan cadangan minyak strategis.

Pengabaian terhadap risiko ekonomi ini kini menjadi senjata makan tuan bagi posisi politik Trump di dalam negeri.

Kenaikan Harga Bensin dan Janji Kemakmuran yang Kandas

Kesalahan kalkulasi Trump terhadap respons pasar energi telah memicu guncangan hebat bagi warga Amerika.

Meskipun tingkat produksi minyak di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi, hal itu tidak cukup untuk membendung kenaikan harga akibat ketidakpastian di Teluk Persia.

Para ahli ekonomi secara blak-blakan menyebut pemerintahan Trump meremehkan dampak konfrontasi tersebut terhadap pasar global.

Kegagalan antisipasi ini menyebabkan harga bensin naik 60 sen per galon dalam waktu kurang dari dua minggu.

Angka ini merupakan lonjakan tercepat dalam sejarah modern AS selama konflik berlangsung.

Situasi ini telah menempatkan janji kampanye Trump tentang "zaman keemasan kemakmuran" dalam konflik langsung dengan inflasi yang meningkat tajam di seluruh negeri.

Warga Amerika di kota-kota besar kini mulai merasakan dampak langsung dari kebijakan luar negeri yang agresif tersebut, yakni meroketnya biaya hidup.

Baca Juga: Krisis Landa Banyak Negara, Prabowo: Rakyat Harus Tenang, Kita Masih Punya Kekuatan dan Kemampuan

Ketidakpuasan publik ini menjadi ancaman serius bagi narasi ekonomi yang dibangun oleh pemerintahan Trump sejak awal menjabat.

Langkah Darurat Pelepasan Cadangan Minyak

Menyadari pasar global yang mulai panik, Trump mencoba mengambil langkah-langkah darurat untuk menstabilkan harga.

Namun, langkah ini dinilai terlambat oleh banyak pengamat. Upaya komunikasi yang dilakukan oleh Menteri Energi Chris Wright sebelumnya gagal total dalam meyakinkan para investor global.

Sebagai respons terakhir, Trump mencoba menenangkan kekhawatiran pasar dengan memerintahkan pelepasan 172 juta barel dari cadangan minyak strategis (SPR) Amerika Serikat.

Namun, para analis pasar meragukan langkah ini akan memberikan efek jangka panjang jika jalur navigasi di Selat Hormuz tetap berada dalam ancaman gangguan militer.

Situasi domestik Trump semakin dipojokkan oleh serangan politik dari dalam negeri sendiri.

Gubernur California, yang dikenal sebagai kritikus keras kebijakan pemerintah pusat, secara terbuka menuding bahwa ada pihak-pihak di lingkaran dalam Trump yang justru mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini.

Dilema Militer dan Ekonomi

Tanpa adanya protes internal skala besar di Iran, AS dan Israel kini berada di persimpangan jalan.

Mempertahankan tekanan militer berarti siap menghadapi lonjakan harga energi yang lebih ekstrem, sementara menarik diri akan dianggap sebagai kekalahan strategis di mata internasional.

Teheran tampaknya menyadari betul posisi tawar mereka melalui kontrol terhadap pasokan energi dunia.

Ketidakmampuan Washington untuk memprediksi ketahanan rezim Iran, dan dampak ekonomi global dari konflik ini, menunjukkan adanya lubang besar dalam proses pengambilan keputusan strategis di Gedung Putih.

Jika konfrontasi ini terus berlanjut tanpa strategi keluar yang jelas, janji kemakmuran ekonomi yang digembar-gemborkan bisa berubah menjadi krisis inflasi yang berkepanjangan bagi warga dunia.

Load More