- Korea Utara meluncurkan sepuluh rudal balistik dari Sunan menuju Laut Jepang pada Sabtu (14/3/2026) sebagai respons latihan militer sekutu.
- Peluncuran rudal masif ini terjadi kontradiktif dengan kabar mengenai potensi dibukanya kembali dialog tingkat tinggi antara Washington dan Pyongyang.
- Ketegangan diperburuk ancaman konsekuensi mengerikan dari adik Kim Jong Un terkait latihan militer gabungan Freedom Shield.
Salah satu skenario yang beredar adalah pertemuan puncak yang berpotensi digelar saat kunjungan Trump ke Beijing pada April mendatang.
Kim Min-seok, yang baru saja kembali dari pertemuan dengan Trump di Washington, menyatakan bahwa sang Presiden AS melihat adanya peluang baik dalam komunikasi langsung.
Menurutnya, pertemuan dengan Kim Jong Un akan menjadi sesuatu yang baik dan berpotensi terjadi selama kunjungan Trump ke Beijing yang dimulai akhir Maret.
Trump sendiri, dalam catatan perjalanannya ke Asia pada Oktober lalu, sempat menegaskan bahwa dirinya "100 persen" terbuka untuk bertemu dengan Kim Jong Un.
Meski demikian, pernyataan tersebut sempat tidak mendapat respons berarti dari pihak Korea Utara selama beberapa waktu.
Perubahan sikap mulai terlihat saat Kim Jong Un baru-baru ini menyatakan bahwa kedua negara dapat "hidup berdampingan dengan baik", jika Washington secara resmi mengakui status nuklir Pyongyang—sebuah syarat berat yang selama ini dihindari oleh Gedung Putih.
Ancaman Nyata di Tengah Latihan 'Freedom Shield'
Di balik isu diplomasi yang berembus, situasi di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Sejak awal pekan ini, Korea Selatan dan Amerika Serikat memulai latihan militer musim semi berskala besar yang diberi nama Freedom Shield.
Latihan ini melibatkan sekitar 18.000 personel tentara Korea Selatan dan dirancang untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman dari Utara.
Baca Juga: Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Bagi Pyongyang, latihan militer semacam ini bukan sekadar simulasi pertahanan, melainkan provokasi langsung untuk berperang.
Korea Utara yang memiliki senjata nuklir telah lama menyebut latihan militer gabungan tersebut sebagai latihan untuk melakukan invasi.
Ketegangan ini diperparah oleh pernyataan tajam dari Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan luar negeri negara tersebut.
Ia memperingatkan bahwa latihan Freedom Shield yang berlangsung hingga 19 Maret tersebut bisa menjadi pemicu konflik yang lebih luas.
"Latihan gabungan tersebut bisa menimbulkan konsekuensi mengerikan dan tak terbayangkan," katanya.
Kim Yo Jong juga menyoroti bahwa tindakan sekutu dilakukan di tengah kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil.
Ia menilai latihan tersebut dilakukan pada saat situasi keamanan global sedang memburuk.
"Ketika keamanan global sedang krisis, perang akan secara cepat pecah di berbagai belahan dunia."
Menurut analisis Kim Yo Jong, ketidakstabilan ini merupakan hasil dari "tindakan ceroboh dari para perusuh internasional yang keterlaluan".
Selain mengarahkan kritik ke Seoul dan Washington, Pyongyang juga memperluas retorikanya dengan mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pihak Korea Utara menyebut tindakan tersebut sebagai agresi ilegal dan bukti nyata dari sifat "negara perusuh" yang melekat pada Amerika Serikat.
Hubungan Antar-Korea di Titik Nadir
Peristiwa peluncuran 10 rudal ini semakin mempertegas sikap keras Kim Jong Un terhadap tetangganya di Selatan.
Bulan lalu, Kim telah mengeluarkan pernyataan yang secara efektif memutus hubungan persaudaraan antara kedua negara yang telah terbagi sejak Perang Korea.
"Kami sama sekali tak punya urusan dengan Korsel. Bagi entitas paling bermusuhan, akan secara permanen dikeluarkan dari kategori sesama bangsa," kata Kim Jong Un.
Dengan penghapusan status "sesama bangsa", ruang untuk rekonsiliasi domestik tampaknya telah tertutup, digantikan oleh konfrontasi militer murni.
Tag
Berita Terkait
-
Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
-
Dasco Ungkap Pembicaraannya dengan Prabowo soal Strategi 'Take Over' Gaza
-
AS Tawarkan Hadiah Rp169 Miliar untuk Informasi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei
-
Donald Trump Umumkan Pengeboman Terdahsyat dalam Sejarah Timur Tengah, Kilang Iran Dilindungi
-
Serangan Brutal AS-Israel Sengaja Targetkan Anak-anak, Kemenkes Iran Rilis Data Mengerikan
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Benarkah Jokowi Segera Jadi Ketua Dewan Pembina? PSI Kasih 'Kode Keras' Begini
-
Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!
-
Mirip-mirip One Piece, Wibu Jogja Sebut Penguasa Saat Ini Menindas Rakyat Kecil
-
Sambil Menangis, Kepala BGN Ungkap Kekecewaan: Saya Tak Tega, Niat Baik Prabowo Dikhianati
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Komunitas Muratara Bernafas: Penertiban PETI Percuma Tanpa Penataan Wilayah dari Pemerintah
-
Peneliti UGM Pastikan Api di Rumah Sleman Bukan dari Gas Alam, Lalu Apa Pemantiknya?
-
Turun ke Posko dan SMAN 3 Semarang, Ahmad Luthfi Pastikan SPMB Jateng Berjalan Lancar
-
Siapa ANH? Pria yang Ditetapkan Sebagai Tersangka karena Bawa Bom Molotov saat Demo 12 Juni
-
Peneliti UGM Tamatkan Misteri Rumah Api di Sleman: Bukan Dipicu Gas Alam atau Medan Elektromagnetik