- Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons serangan AS dan Israel pada Februari yang menewaskan Ayatollah Khamenei dan pejabat tinggi.
- Senator Schumer mengkritik Presiden Trump karena meminta bantuan China mengatasi blokade, menunjukkan kebijakan yang dianggap tanpa perencanaan matang.
- Trump meminta negara-negara lain mengerahkan kapal ke Selat Hormuz, namun China memilih jalur diplomasi tanpa komitmen militer langsung.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah kini memasuki fase kritis yang menyeret kekuatan-kekuatan besar dunia ke dalam pusaran ketegangan diplomatik dan militer.
Situasi ini memanas setelah Iran mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Penutupan ini merupakan respons langsung atas serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari dalam negeri Amerika Serikat. Anggota senator dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, secara terbuka mengejek Presiden Donald Trump.
Schumer menyoroti langkah Trump yang dianggap kontradiktif karena meminta bantuan kepada China, negara yang selama ini sering menjadi rival geopolitik AS, untuk membantu mengatasi blokade Iran di Selat Hormuz.
Kritik tajam tersebut disampaikan Schumer melalui platform media sosial X. Ia mempertanyakan logika kebijakan luar negeri yang diambil oleh sang presiden di tengah situasi perang yang sedang berkecamuk.
"Donald Trump bilang dia berharap China membantu kami membersihkan Selat Hormuz. Anda bercanda?" kata Schumer di X pada Senin (16/3).
Menurut Schumer, tindakan Trump di kawasan Timur Tengah tidak didasari oleh perencanaan yang matang. Ia menilai kebijakan militer yang diambil justru menjadi bumerang bagi stabilitas kawasan dan kepentingan nasional Amerika Serikat sendiri.
"Donald Trump menciptakan kekacauan di Timur Tengah dan dia jelas tak punya cara bagaimana mengakhirinya," imbuh dia.
Baca Juga: Trump Berang! Sindir Sekutu Ogah Kirim Kapal ke Selat Hormuz Meski 40 Tahun Dilindungi AS
Pemicu utama dari kemarahan Iran dan penutupan jalur maritim tersebut adalah serangan brutal yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari.
Gempuran udara tersebut membawa dampak yang sangat signifikan bagi struktur kepemimpinan di Teheran. Serangan itu menyebabkan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sejumlah pejabat top pertahanan, serta ribuan warga sipil tewas.
Kehilangan pemimpin tertinggi dan kerusakan infrastruktur pertahanan membuat Iran melancarkan aksi balasan yang masif.
Militer Iran tidak tinggal diam dan segera mengarahkan serangan ke wilayah Israel serta berbagai aset militer Amerika Serikat yang tersebar di negara-negara Teluk.
Sebagai senjata pamungkas untuk menekan ekonomi global, pemerintah yang berbasis di Teheran tersebut secara resmi menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak.
Langkah Iran menutup jalur perdagangan minyak global ini tampaknya benar-benar memukul pemerintahan Trump.
Berita Terkait
-
Trump Berang! Sindir Sekutu Ogah Kirim Kapal ke Selat Hormuz Meski 40 Tahun Dilindungi AS
-
Serangan AS ke Pulau Kharg, Upaya Trump Matikan Pasokan Minyak Iran
-
Analisis Militer: Iran Pakai Strategi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Putus Asa
-
Donald Trump Naik Pitam, Keir Starmer Bersikeras Inggris Ogah Bantu AS Lawan Iran
-
Trump Ancam Serang Kuba, Presiden Miguel Daz Canel Siapkan 'Neraka' untuk Pasukan AS
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular