- Kepala Iklim PBB Simon Stiell menyoroti perang Iran mengganggu 20 persen pasokan minyak dunia, memicu kelangkaan energi global.
- Stiell mendesak percepatan transisi energi terbarukan sebagai solusi stabilitas ekonomi dan keamanan energi dunia.
- Ketergantungan pada energi fosil terbukti rentan terhadap konflik, menyebabkan kerugian signifikan dan pembatasan energi di Asia.
Suara.com - Gangguan pasokan energi global akibat perang Iran menjadi peringatan serius bagi negara-negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Hal ini disampaikan Kepala Iklim PBB Simon Stiell dalam forum Green Growth Summit di Brussels.
Dalam pidatonya, Stiell menegaskan bahwa ketergantungan pada energi fosil membuat dunia rentan terhadap krisis berulang.
Ia mendesak pemerintah untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan demi menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan energi.
“Kerja sama iklim adalah solusi dari kekacauan yang terjadi saat ini,” ujar Stiell.
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan telah mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Dampaknya, terjadi kelangkaan energi dan lonjakan harga di berbagai negara.
Stiell menyebut situasi ini sebagai pelajaran yang seharusnya tidak diabaikan. Menurutnya, terus mengandalkan energi fosil justru memperbesar risiko krisis serupa di masa depan.
“Ini benar-benar tidak masuk akal. Sejarah menunjukkan krisis energi fosil akan terus terjadi berulang kali,” tegasnya.
Sebagai alternatif, Stiell mendorong negara-negara—terutama di Eropa—untuk memperkuat kebijakan energi terbarukan. Selain lebih ramah lingkungan, energi bersih dinilai lebih stabil dan tidak mudah terdampak konflik global.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi dari krisis iklim. Dalam satu musim panas saja, cuaca ekstrem di Eropa menyebabkan kerugian hingga 43 miliar euro. Di sisi lain, industri bahan bakar fosil masih menerima subsidi besar dari pemerintah di berbagai negara.
Baca Juga: Netanyahu Buka Suara! Kirim Pesan Keras ke Teheran Usai Klaim Tewaskan Ali Larijani
“Ketergantungan pada impor energi fosil akan membuat negara terus terjebak dalam krisis, dan masyarakat yang akhirnya menanggung biayanya,” kata Stiell.
Dampak krisis energi ini sudah terasa di berbagai negara. Pakistan menutup sekolah sementara untuk menghemat bahan bakar. India mengalami kelangkaan gas memasak hingga memicu protes. Sementara Bangladesh, Myanmar, dan Filipina mulai menerapkan pembatasan penggunaan energi.
Menurut analis dari Asia Society Policy Institute, Kate Logan, pernyataan Stiell menunjukkan nada yang lebih mendesak dibanding biasanya.
“Situasi global saat ini membuat kebutuhan untuk meninggalkan energi fosil menjadi semakin jelas,” ujarnya.
Stiell menegaskan, energi terbarukan dapat menjadi solusi jangka panjang karena tidak bergantung pada jalur distribusi yang rentan konflik.
“Sinar matahari tidak bergantung pada jalur pelayaran yang sempit dan rawan. Angin juga tidak membutuhkan perlindungan militer,” katanya.
Meski transisi energi juga memiliki tantangan, para ahli menilai sistem energi berbasis terbarukan lebih tersebar dan tidak mudah terganggu seperti minyak dan gas.
Di tengah ketidakpastian global, PBB menilai percepatan transisi energi bersih bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk mencegah krisis yang lebih besar di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel
-
El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemkab Lahat, Dukung Akselerasi Ekonomi Daerah
-
6 Fakta Pemecatan dan Sanksi Pungli 4 ASN di Pemprov Banten
-
Usut Mutilasi Depok, Polisi Temukan HP Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Macet Jalur Bojonegara Bikin Sopir Angkot Merugi, Pemprov Banten Janjikan Keputusan Baru 4 Hari Lagi
-
Tumbangkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden 2026
-
KPK Bedah Dugaan Permainan Jalur Hijau dan Jalur Merah di Kasus Suap Bea Cukai
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek