- Survei terbaru menunjukkan 56% warga AS menilai perang melawan Iran lebih menguntungkan Israel dibanding kepentingan nasional.
- Mayoritas responden, yaitu 53%, tidak setuju dengan langkah militer Presiden Trump terkait isu kebijakan tersebut.
- Banyak pemilih mendukung Kongres membatasi kewenangan militer presiden dalam mengambil keputusan perang.
Suara.com - Mayoritas warga Amerika Serikat menilai perang melawan Iran lebih menguntungkan Israel dibanding kepentingan nasional mereka sendiri.
Hasil ini terungkap dalam survei terbaru yang menyoroti meningkatnya penolakan publik terhadap kebijakan militer Donald Trump.
Survei yang dirilis IMEU Policy Project dan Demand Progress, serta dilakukan oleh Data For Progress, menunjukkan 56 persen responden percaya perang tersebut lebih menguntungkan Israel.
Sementara hanya 29 persen yang menilai Amerika Serikat mendapat manfaat lebih besar.
“Mayoritas pemilih tidak setuju dengan serangan terhadap Iran dan melihatnya sebagai kebijakan yang tidak menguntungkan AS,” demikian isi laporan survei tersebut seperti dilansir dari Tasnim News Agency.
Sebanyak 53 persen responden menyatakan tidak setuju dengan langkah militer Trump, berbanding 43 persen yang mendukung.
Hasil survei juga menunjukkan dorongan kuat agar Kongres membatasi kewenangan militer presiden.
Sebanyak 51 persen responden mendukung resolusi pembatasan kekuatan perang, sementara 44 persen menolak.
Dampak politiknya mulai terasa menjelang pemilu. Sebanyak 43 persen pemilih mengaku cenderung tidak akan mendukung Partai Republik akibat perang ini, sementara hanya 31 persen yang justru semakin mendukung.
Baca Juga: Miguel Diaz-Canel Bakal 'Di-Maduro-kan', Pemerintah Kuba Tegas Melawan AS
Di sisi lain, Partai Demokrat berpotensi diuntungkan jika mengambil posisi berbeda.
Kandidat Demokrat yang berjanji mengurangi dukungan terhadap Israel dan fokus pada isu domestik unggul hingga 15 poin dalam simulasi pemilu.
Survei juga mengungkap perpecahan di internal Partai Republik, terutama berdasarkan usia.
Sebanyak 61 persen pemilih Republik di bawah usia 45 tahun lebih memilih kandidat yang ingin mengurangi dukungan ke Israel, sementara kelompok usia di atas 45 tahun cenderung sebaliknya.
Selain itu, 43 persen responden menilai Israel memiliki pengaruh terlalu besar terhadap kebijakan luar negeri AS. Hanya 5 persen yang menganggap pengaruh tersebut masih kurang.
“Temuan ini menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam persepsi publik terhadap hubungan AS-Israel,” tulis laporan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kasus PRT Loncat dari Lantai 4, Polisi Tetapkan Pengacara Adriel Viari Purba Tersangka
-
Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus 'Majikan Sadis' di Benhil, Ini Perannya!
-
Pemilik Blueray Cargo Didakwa Suap Rp61,3 Miliar ke Pejabat Bea Cukai demi Loloskan Barang Impor
-
Wamendagri Ribka Haluk Dorong Peran Perempuan Usai Raih Penghargaan
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Sinergi Pusat dan Daerah untuk Hadapi Tantangan Global
-
Anggota Komisi III DPR Dukung RUU Polri Atur Jabatan Polisi di Luar Institusi Dibatasi: Supaya Jelas
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Pemerintah Telah Salurkan Dana Rp 10,65 Triliun untuk Kebut Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
-
Kabar Gembira! Pajak Kendaraan Listrik di Jakarta Tetap Nol Rupiah, Ini 5 Fakta Terbarunya
-
Eks Ketua BPK Sebut Audit Kerugian Negara Rp1,5 Triliun di Kasus Chromebook Cacat