- Pemprov DKI Jakarta memberikan insentif pajak kendaraan listrik berupa pembebasan penuh PKB dan BBNKB untuk seluruh masyarakat.
- Kebijakan yang ditetapkan pada Mei 2026 ini merupakan tindak lanjut atas instruksi pemerintah pusat melalui Kemendagri.
- Langkah tersebut bertujuan mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan guna menekan polusi udara secara signifikan di wilayah Jakarta.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan keberlanjutan pemberian insentif fiskal bagi kendaraan listrik berbasis baterai dengan mempertahankan pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) serta Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepatuhan otoritas daerah terhadap instruksi pemerintah pusat guna mengakselerasi penggunaan transportasi ramah lingkungan dan menekan angka polusi di wilayah Ibu Kota.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, Lusiana Herawati, menjelaskan kebijakan ini merupakan tindak lanjut langsung dari Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900.1.13.1/3764/SJ.
"Kebijakan Pemprov DKI Jakarta sejalan dengan ketentuan tersebut, yakni tetap memberikan insentif berupa pembebasan PKB dan BBNKB bagi kendaraan listrik berbasis baterai,” ujar Lusiana, dikutip pada Rabu (6/5/2026).
Untuk memahami lebih mendalam mengenai detail aturan dan dampak dari kebijakan ini bagi warga Jakarta, berikut adalah 5 fakta penting yang perlu diketahui.
1. Pembebasan Penuh Pajak PKB dan BBNKB
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memastikan bahwa seluruh kendaraan listrik berbasis baterai akan terus mendapatkan keistimewaan berupa fasilitas pajak sebesar nol rupiah.
Skema insentif fiskal yang komprehensif ini secara spesifik mencakup pembebasan penuh terhadap kewajiban Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) serta penghapusan biaya Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).
Dengan adanya kebijakan tersebut, masyarakat yang memiliki atau mengoperasikan kendaraan listrik kini sepenuhnya terbebas dari beban finansial pada dua instrumen perpajakan utama yang biasanya menjadi kewajiban rutin para pemilik kendaraan
Baca Juga: Sedia Payung dan Jas, BMKG Ingatkan Jakarta Potensi Hujan Sore Ini!
Di balik penetapan kebijakan ini, terdapat alasan fundamental yang mendasari langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Gubernur Pramono Anung dan Kepala Bapenda DKI Jakarta, Lusiana Herawati, menyatakan secara konsisten bahwa aturan mengenai pajak nol rupiah ini adalah wujud nyata dari sinkronisasi kebijakan antara daerah dan nasional.
Komitmen ini diperkuat dengan merujuk langsung pada payung hukum berupa Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 900.1.13.1/3764/SJ.
Dokumen resmi tersebut menjadi acuan bagi Pemprov DKI dalam menjalankan amanat nasional, yang mana pemerintah daerah diminta untuk memberikan dukungan berupa insentif fiskal secara total guna memicu masyarakat dalam mengadopsi kendaraan berbasis energi bersih
3. Sempat Ada Usul Pajak Berjenjang, Namun Dibatalkan
Sebelum menetapkan kebijakan insentif fiskal yang bersifat menyeluruh bagi seluruh jenis kendaraan listrik, Pemprov DKI Jakarta pada awalnya sempat mempertimbangkan sebuah wacana mengenai penerapan skema pajak yang diklasifikasikan berdasarkan rentang harga jual unit di pasaran.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Tragis di Negeri Rantau, PMI Asal Aceh dan Bayinya Tewas Diduga Dibunuh di Malaysia
-
Iran vs Barat: Skema Asuransi Selat Hormuz Bisa Lumpuhkan Perdagangan Dunia
-
Profil Andy Burnham Calon PM Inggris: Penganut Manchesterism yang Diteriaki Bukan Messiah
-
Tangis Tertahan Keir Starmer: Mundur sebagai PM Inggris, Tekanan Partai Jadi Pemicu
-
Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang di PN Jakarta Timur!
-
Akses KRL ke JIS Sudah Aktif: Ini Rute dan Jam Operasionalnya!
-
Niat ke Lombok Malah Dibuang ke Terminal Bayangan, WNA Uzbekistan Terlunta-lunta Ditipu Taksi Gelap
-
Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!
-
KPK Incar 'Pemain' Lain di Skandal Korupsi MBG
-
Terancam 5 Tahun Bui Tapi Tak Ditahan, Eggi Sudjana: Ada 'Tangan' Politik di Kasus Roy Suryo!