- Lonjakan konflik di Selat Hormuz mengganggu distribusi energi global, mengakibatkan harga minyak dan gas melonjak tajam.
- Krisis ini memperkuat seruan untuk transisi energi bersih, meskipun para ahli menilai penggantian fosil membutuhkan waktu.
- Negara dengan diversifikasi energi dan adopsi kendaraan listrik lebih tinggi menunjukkan ketahanan lebih baik terhadap guncangan pasokan.
Suara.com - Lonjakan konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, telah mengganggu distribusi energi secara signifikan.
Sejumlah kapal dilaporkan terblokir, bahkan terbakar, sehingga jalur vital tersebut praktis lumpuh.
Dampaknya langsung terasa. Harga minyak dan gas melonjak tajam, memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan perlambatan ekonomi.
Seperti dikutip dari The Independent, Senin (23/3/2026), Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.”
Seiring krisis yang belum menunjukkan tanda mereda, seruan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil pun semakin menguat.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan bahwa energi bersih menjadi jalan keluar jangka panjang.
“Sumber energi di era energi bersih tidak bisa diblokade atau dijadikan senjata,” ujarnya.
Uni Eropa merespons dengan mengumumkan rencana investasi energi bersih senilai €75 miliar. Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut krisis ini sebagai pelajaran penting tentang perlunya kemandirian energi.
Namun, di balik optimisme tersebut, para ahli mengingatkan bahwa transisi energi bukan solusi instan.
Baca Juga: Minyak Dunia Memanas: Brent Tembus USD 112 di Tengah Eskalasi Perang Iran-AS
Chris Wright, analis utama di Carbon Bridge, menilai bahwa energi terbarukan memang berkembang pesat, tetapi belum mampu sepenuhnya menggantikan peran bahan bakar fosil dalam waktu dekat.
“Pemanfaatan energi terbarukan untuk listrik adalah langkah awal yang penting, tetapi menggantikan bahan bakar fosil di seluruh sektor ekonomi belum realistis dalam jangka menengah,” ujarnya.
Saat ini, energi terbarukan memang telah menyumbang sekitar sepertiga produksi listrik global. Biaya energi surya bahkan turun lebih dari 90 persen sejak 2010. Meski demikian, sektor lain seperti transportasi, industri, dan pertanian masih sangat bergantung pada minyak dan gas.
Gas masih menjadi tulang punggung industri, sementara minyak tetap dominan dalam transportasi, termasuk pengiriman barang, pelayaran, dan penerbangan.
Direktur Program Timur Tengah di Defence Priorities, Rosemary Kelanic, menyebut bahwa tantangan terbesar ada di sektor transportasi.
“Selama puluhan tahun, minyak tidak punya pengganti nyata di sektor ini. Kehadiran kendaraan listrik memang mengubah situasi, tetapi adopsinya belum cukup cepat,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
KPK Bedah Dugaan Permainan Jalur Hijau dan Jalur Merah di Kasus Suap Bea Cukai
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek
-
Potensi RI Punya 89 Ribu Ton Uranium, BRIN Paparkan Ambisi Nuklir ke Prabowo
-
Internal Golkar Wonosobo Bergolak, Mahkamah Partai Diminta Turun Tangan
-
Rakyat Akan Marah! 470 Kepala Daerah Tak Mampu Bayar PPPK Tapi Minta Naik Gaji
-
Gunakan Uang Hasil Sikat Korupsi, Prabowo Janji Investasi Besar di Sektor Pendidikan dan Riset
-
John Herdman Blak-blakan Akui Timnas Indonesia Sedang Terluka Jelang Melawan Singapura
-
Pemerintah Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Haji Arab Saudi
-
Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG
-
Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini