-
Jet F-35 Amerika Serikat mengalami kerusakan parah akibat ditembak sistem pertahanan udara Iran.
-
Pakar militer menyebut kegagalan teknologi siluman Amerika disebabkan oleh sistem deteksi inframerah canggih.
-
Iran membuktikan bahwa pesawat canggih tetap memiliki celah melalui modifikasi rudal udara-ke-udara.
Keberhasilan Iran ini menjadi tamparan keras bagi teknologi militer Barat yang selama ini diunggulkan.
Ini merupakan momen perdana sejak tahun 2018 di mana pesawat siluman AS mengalami kerusakan tempur.
Bagi Teheran, pencapaian ini adalah rekor pertama mereka dalam menghantam pesawat Amerika sejak akhir Februari.
F-35 sendiri dikenal sebagai jet tempur multiperan yang memiliki kemampuan menghilang dari pantauan radar konvensional.
Material penyerap radar dan desain khusus seharusnya membuat jet ini sulit sekali untuk dideteksi lawan.
Pesawat ini dirancang untuk memiliki penampang radar yang sangat rendah dibandingkan pesawat tempur jenis lainnya.
Tingkat deteksi jet ini diklaim jauh lebih kecil dibandingkan jet Rafale buatan Prancis yang populer.
Kemampuan inilah yang membuat F-35 digunakan oleh puluhan negara sekutu Amerika termasuk pihak Israel.
Namun kecanggihan tersebut ternyata tidak mampu menembus sistem pertahanan pasif yang dikembangkan oleh ilmuwan Iran.
Baca Juga: Rudal Kiamat Iran Punya Jarak Tempuh 'Aceh-Papua' Bikin Ketar-ketir AS dan Inggris
Sistem sensor panas menjadi lubang besar dalam pertahanan jet yang diklaim sebagai kebanggaan teknologi itu.
Yue Gang seorang pakar militer menjelaskan bahwa F-35 kemungkinan besar terdeteksi melalui sistem pelacak inframerah.
Walaupun bisa menipu radar, mesin jet tersebut tetap mengeluarkan panas yang bisa dilacak sensor elektro-optik.
Iran dilaporkan menggunakan sensor pasif yang tidak memancarkan sinyal sehingga tidak bisa dideteksi balik.
"Saya berspekulasi bahwa rudal yang menyerang F-35 kemungkinan adalah rudal udara-ke-udara yang dimodifikasi menggunakan pencari target berbasis inframerah," kata Yue.
Teknologi ini sangat berbahaya karena menyerang secara diam-diam tanpa memberi peringatan pada sistem pesawat.
Iran diduga menggunakan modifikasi rudal R-27T yang mereka peroleh dari Rusia beberapa dekade yang lalu.
Rudal ini memiliki kecepatan luar biasa mencapai Mach 5 yang jauh melampaui kecepatan jet siluman.
Meski teknologinya sudah cukup lama, pemutakhiran pada sistem pemandu panas membuatnya menjadi senjata yang sangat mematikan.
Kelemahan F-35 pada spektrum inframerah berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh operator pertahanan udara di darat.
Hal ini membuktikan bahwa strategi militer asimetris Iran bekerja sangat efektif melawan teknologi super mahal.
Song Zhongping seorang analis militer menegaskan bahwa klaim pesawat tidak terdeteksi hanyalah sebuah mitos belaka.
Ia berpendapat bahwa sistem deteksi elektro-optik yang dimiliki Iran memang sengaja disiapkan untuk target siluman.
AS terjebak dalam rasa percaya diri yang tinggi sehingga gagal mendeteksi bahwa jet mereka diincar.
Seorang sumber dari militer Iran mengungkapkan bahwa mereka menggunakan sistem rahasia yang tidak diketahui Barat.
Selama ini Amerika dan Israel dianggap terlalu meremehkan kemampuan riset teknologi militer mandiri milik Iran.
Teheran justru fokus mengembangkan penangkal jet siluman saat negara lain hanya meniru sistem konvensional lama.
"Penargetan terhadap F-35 Amerika, yang sebelumnya diperkenalkan Amerika Serikat kepada dunia sebagai kebanggaan teknologi militernya, dilakukan menggunakan sistem pertahanan udara Iran," kata sumber yang tak ingin diidentifikasi tersebut.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi pesan peringatan bagi siapa pun yang mencoba melanggar batas wilayah udara.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali