News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 11:17 WIB
Jet tempur F-35C Lightning IIs saat lepas landas dari kapal induk Carl Vinson, (22/1/2022). [Seaman Larissa T. Dougherty/ U.S. Navy/Times.co.id]
Baca 10 detik
  • Jet F-35 Amerika Serikat mengalami kerusakan parah akibat ditembak sistem pertahanan udara Iran.

  • Pakar militer menyebut kegagalan teknologi siluman Amerika disebabkan oleh sistem deteksi inframerah canggih.

  • Iran membuktikan bahwa pesawat canggih tetap memiliki celah melalui modifikasi rudal udara-ke-udara.

Keberhasilan Iran ini menjadi tamparan keras bagi teknologi militer Barat yang selama ini diunggulkan.

Ini merupakan momen perdana sejak tahun 2018 di mana pesawat siluman AS mengalami kerusakan tempur.

Bagi Teheran, pencapaian ini adalah rekor pertama mereka dalam menghantam pesawat Amerika sejak akhir Februari.

F-35 sendiri dikenal sebagai jet tempur multiperan yang memiliki kemampuan menghilang dari pantauan radar konvensional.

Material penyerap radar dan desain khusus seharusnya membuat jet ini sulit sekali untuk dideteksi lawan.

Pesawat ini dirancang untuk memiliki penampang radar yang sangat rendah dibandingkan pesawat tempur jenis lainnya.

Tingkat deteksi jet ini diklaim jauh lebih kecil dibandingkan jet Rafale buatan Prancis yang populer.

Kemampuan inilah yang membuat F-35 digunakan oleh puluhan negara sekutu Amerika termasuk pihak Israel.

Namun kecanggihan tersebut ternyata tidak mampu menembus sistem pertahanan pasif yang dikembangkan oleh ilmuwan Iran.

Baca Juga: Rudal Kiamat Iran Punya Jarak Tempuh 'Aceh-Papua' Bikin Ketar-ketir AS dan Inggris

Sistem sensor panas menjadi lubang besar dalam pertahanan jet yang diklaim sebagai kebanggaan teknologi itu.

Yue Gang seorang pakar militer menjelaskan bahwa F-35 kemungkinan besar terdeteksi melalui sistem pelacak inframerah.

Walaupun bisa menipu radar, mesin jet tersebut tetap mengeluarkan panas yang bisa dilacak sensor elektro-optik.

Iran dilaporkan menggunakan sensor pasif yang tidak memancarkan sinyal sehingga tidak bisa dideteksi balik.

"Saya berspekulasi bahwa rudal yang menyerang F-35 kemungkinan adalah rudal udara-ke-udara yang dimodifikasi menggunakan pencari target berbasis inframerah," kata Yue.

Teknologi ini sangat berbahaya karena menyerang secara diam-diam tanpa memberi peringatan pada sistem pesawat.

Load More