-
Iran menyerang fasilitas militer Israel, Kuwait, dan UEA menggunakan rudal jarak jauh strategis.
-
Israel menutup sekolah dan melarang kerumunan besar setelah gagal mencegat rudal kiriman Iran.
-
Donald Trump mengancam hancurkan pembangkit listrik jika Iran tidak segera membuka Selat Hormuz.
Suara.com - Eskalasi besar kembali mengguncang kawasan Timur Tengah melalui aksi militer terbaru dari pihak Teheran Iran.
Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC secara resmi mengonfirmasi peluncuran serangan yang menyasar sejumlah titik vital.
Operasi militer berskala besar tersebut diarahkan langsung ke wilayah kedaulatan Israel serta Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Pihak IRGC mengklaim bahwa gempuran rudal ini telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga melampaui 200 orang.
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan serangan ke Israel difokuskan pada instalasi militer dan pusat keamanan strategis.
Beberapa wilayah yang menjadi target utama mencakup kota Arad, Dimona, Eliat, Beersheba, hingga kawasan Kiryat Gat.
Tidak hanya Israel, Teheran juga melebarkan jangkauan serangan ke fasilitas militer di negara tetangga lainnya.
Pangkalan udara Ali Al Salem yang berlokasi di Kuwait menjadi salah satu titik yang terkena hantaman rudal.
Di wilayah Uni Emirat Arab, pangkalan militer Al Minhad dan Al Dhafra juga tidak luput dari target operasi.
Baca Juga: Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya kepanikan luar biasa seiring dengan dentuman ledakan di berbagai titik strategis.
The Times of Israel merilis data bahwa terdapat setidaknya 100 orang yang menderita luka-luka serius.
Meskipun laporan korban luka sangat banyak, pihak berwenang setempat menyatakan belum ada laporan mengenai angka kematian.
Pasukan pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa sistem proteksi udara mereka telah bekerja secara aktif saat kejadian berlangsung.
Namun sistem pertahanan tersebut dilaporkan menemui kendala dan gagal menghentikan terjangan proyektil rudal kiriman pihak Iran.
Sebagai langkah antisipasi susulan, pemerintah Israel kini memutuskan untuk menutup seluruh aktivitas institusi pendidikan sekolah.
Otoritas setempat juga menerapkan larangan ketat terhadap kerumunan massa yang melebihi jumlah 50 orang hingga Selasa.
Sebagai bentuk pembalasan, militer Israel langsung meluncurkan serangan balasan ke berbagai infrastruktur pemerintah di Tehran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan kegelisahannya atas situasi genting yang sedang menimpa negaranya saat ini.
Benjamin Netanyahu mengatakan kejadian ini "Malam yang sangat sulit dalam kampanye untuk masa depan kita."
Pernyataan tersebut mencerminkan betapa seriusnya ancaman keamanan yang dihadapi oleh penduduk Israel dalam konflik kali ini.
Perselisihan antara blok Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah meruntuhkan stabilitas keamanan di Timur Tengah.
Negara-negara di sekitar kawasan yang menampung fasilitas militer asing kini berada dalam posisi yang sangat rentan.
Sentimen diplomatik ikut memanas seiring dengan langkah tegas yang diambil oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Arab Saudi secara resmi menetapkan status persona non grata terhadap staf kedutaan serta atase militer pihak Iran.
Para diplomat dari Teheran tersebut dipaksa untuk segera angkat kaki dari wilayah Arab Saudi dalam waktu 24 jam.
Langkah pengusiran diplomatik yang sangat drastis ini sebelumnya juga sudah dilakukan oleh pemerintah Qatar terlebih dahulu.
Ketegangan ini menarik perhatian langsung dari pemimpin Amerika Serikat yang memberikan peringatan sangat keras bagi Iran.
Presiden AS Donald Trump kini telah melontarkan ultimatum terbuka agar Teheran segera membuka akses di Selat Hormuz.
Donald Trump memberikan batas waktu singkat selama 24 jam bagi Iran untuk memenuhi tuntutan internasional tersebut secara penuh.
Jika diabaikan, Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik di Iran sebagai konsekuensi militer yang nyata.
Situasi di jalur perdagangan internasional tersebut kini menjadi perhatian dunia karena potensi dampak ekonomi yang sangat besar.
Hingga saat ini, pergerakan militer di perbatasan terus dipantau secara ketat oleh berbagai badan intelijen lintas negara.
Dunia internasional mengkhawatirkan pecahnya perang terbuka yang lebih luas jika diplomasi gagal meredam kemarahan antar negara tersebut.
Penyelesaian konflik ini masih tampak buntu mengingat kedua belah pihak tetap bertahan pada posisi militer masing-masing.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Hantavirus Ternyata Sudah Muncul di Indonesia, 23 Kasus Terdeteksi dalam Dua Tahun Terakhir
-
NHM Peduli Perkuat Infrastruktur Air Bersih di Desa Tiowor, Kao Teluk
-
Ketua Ombudsman RI Terancam Dipecat Tidak Hormat, Majelis Etik Buka Suara soal Kasus Hery Susanto
-
Perkuat Komitmen Stabilitas, Prabowo Ajak ASEAN Utamakan Dialog Hadapi Persoalan Kawasan
-
PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat
-
Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi
-
Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?
-
Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental
-
Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan
-
Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati