-
Amerika Serikat merencanakan serangan darat ke Pulau Kharg Iran untuk mengamankan Selat Hormuz.
-
Jepang berkomitmen membantu pengamanan jalur energi melalui pengerahan angkatan laut dan teknologi penyapu ranjau.
-
Eskalasi konflik melibatkan serangan balasan rudal antara Iran melawan kekuatan Amerika Serikat dan Israel.
Sejumlah fasilitas penting di Teheran dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat hantaman rudal serta serangan udara tersebut.
Insiden berdarah itu juga dikonfirmasi telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan warga sipil di lokasi kejadian.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam dan langsung memberikan respons militer yang setimpal terhadap serangan mendadak tersebut.
Teheran membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah kedaulatan Israel serta pangkalan-pangkalan militer milik Amerika Serikat.
Fasilitas militer AS yang tersebar di daratan Timur Tengah menjadi sasaran utama dari serangan balasan pihak Iran.
Utusan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, mengungkapkan adanya dukungan baru dari sekutu mereka di wilayah Asia.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dikabarkan telah memberikan komitmen untuk membantu operasi pengamanan di Selat Hormuz.
Langkah Jepang ini dianggap sangat krusial karena negara tersebut sangat bergantung pada distribusi energi dari kawasan Teluk.
Waltz memberikan penjelasan mendalam mengenai betapa pentingnya peran sekutu dalam menjaga stabilitas jalur distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Jepang Kirim Pasukan Khusus Bela Diri ke Selat Hormuz, Ikut Perang?
"Karena begitu banyak energi yang dikirim ke Eropa melalui selat tersebut, Perdana Menteri Jepang baru saja berkomitmen untuk mengerahkan sebagian angkatan lautnya, dan 80 persen dari energi yang keluar dari Teluk dikirim ke Asia," kata Waltz.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump bersikap sangat keras terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Iran.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan memberikan ruang toleransi bagi tindakan yang dianggap bisa mengganggu ekonomi global.
Waltz menambahkan bahwa tindakan Iran selama puluhan tahun terakhir telah dianggap sebagai ancaman nyata bagi dunia internasional.
"Jadi, kami melihat sekutu kita berbalik arah sebagaimana mestinya, tetapi pada saat yang sama, presiden (Donald Trump) tidak akan mentolerir rezim ini, karena telah mengancam dan mencoba selama lima dekade untuk menyandera pasokan energi dunia," tambahnya.
Di sisi lain, Tokyo mulai menyusun skenario pengerahan Pasukan Bela Diri atau yang dikenal dengan sebutan SDF.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Tentara Amerika Mulai Protes Disuruh Hancurkan Iran, Tak Sudi Mati Demi Israel
-
Volume Kendaraan Arus Balik Membeludak, GT Purwomartani Kini Dibuka Hingga Pukul 20.00 WIB
-
Ribuan Marinir AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Keluarga: Kapan Ini Akan Berakhir?
-
Perang AS-Israel vs Iran Tak Kunjung Selesai, China Kirim Pernyataan Tegas
-
Dubai dan Abu Dhabi Diskon Besar-besaran Tarif Hotel Mewah di Tengah Perang, Minat?
-
Proyek Surya dan Hidrogen Hijau di RI Dapat Suntikan Dana, Regulasi Masih Jadi Hambatan?
-
10 Juta Warga Kuba Hidup Dalam Kegelapan, Blackout Kedua dalam Sepekan Picu Krisis dan Protes
-
Gawat! Pasokan BBM Dunia Mulai Terganggu karena Perang
-
Dunia Hadapi Krisis Energi Global! Direktur IEA Sebut Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970
-
Eks Penyidik KPK Nilai Kebijakan Tahanan Rumah Gus Yaqut Lemahkan Penegakan Hukum