- Studi Penn State pada 49 negara menunjukkan pertumbuhan ekonomi dan emisi masih berkorelasi, kecuali di negara kaya berkekuatan kebijakan.
- Negara berpenghasilan tinggi mampu menahan emisi saat ekonomi tumbuh berkat pajak karbon dan subsidi energi bersih.
- Strategi tanpa perluasan pertumbuhan ekonomi dinilai paling efektif dan adil dalam menekan emisi gas rumah kaca secara global.
Suara.com - Selama puluhan tahun, ilmuwan memperdebatkan satu pertanyaan besar: apakah ekonomi bisa terus tumbuh tanpa memperparah krisis iklim?
Studi terbaru dari peneliti Penn State memberi jawaban yang tidak sederhana. Secara teori, hal itu bisa terjadi, namun dalam praktiknya, baru terlihat di negara-negara kaya dan dengan syarat yang ketat.
Penelitian yang menganalisis lebih dari 30 tahun data dari 49 negara ini menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi masih sering berjalan seiring dengan peningkatan emisi gas rumah kaca.
Di banyak negara berkembang, bahkan kebijakan iklim yang lebih ketat belum tentu mampu menekan emisi.
Di sisi lain, negara berpenghasilan tinggi menunjukkan hasil berbeda. Dengan dukungan kebijakan yang kuat, mulai dari pajak karbon, subsidi energi bersih, hingga standar teknologi, mereka relatif mampu menahan laju emisi meski ekonominya tetap tumbuh.
Namun, temuan ini tidak bisa dibaca secara hitam-putih.
Perbedaan kapasitas ekonomi, teknologi, hingga kesiapan kebijakan membuat dampak kebijakan iklim menjadi tidak merata. Apa yang berhasil di negara maju belum tentu efektif di negara berkembang.
“Efektivitas kebijakan sangat bergantung pada konteks masing-masing negara,” kata peneliti Ryan Thombs seperti dikutip dari Phys.org.
Meski begitu, studi ini justru menegaskan pentingnya kebijakan yang lebih kuat.
Baca Juga: Kompilasi Purbaya Serang Balik Ekonom di Hadapan Prabowo: Bantah Resesi hingga Rupiah Hancur
Menurut Thombs, langkah yang ada saat ini belum cukup untuk menjawab tantangan krisis iklim.
“Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang lebih ketat dari yang ada saat ini. Bahkan kebijakan paling ketat sekalipun masih belum cukup,” ujarnya.
Lebih jauh, penelitian ini juga menggeser cara pandang soal solusi. Tidak semua strategi harus bergantung pada pertumbuhan ekonomi tanpa batas.
Pendekatan yang menekankan keseimbangan antara kesejahteraan manusia dan lingkungan, bahkan tanpa mengejar pertumbuhan terus-menerus, justru dinilai lebih efektif dan adil dalam menekan emisi.
“Strategi yang tidak bergantung pada pertumbuhan ekonomi terbukti paling efektif untuk menekan emisi dan lebih adil bagi berbagai negara,” tambah Thombs.
Temuan ini menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi yang lebih ramah iklim tidak bisa disamaratakan. Dibutuhkan kebijakan yang lebih tajam, tetapi juga lebih kontekstual.
Ke depan, tantangannya bukan hanya memperketat kebijakan, tetapi memastikan setiap negara memiliki kapasitas untuk menjalankannya.
Di tengah krisis iklim yang semakin mendesak, pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah perubahan itu mungkin, melainkan seberapa cepat dan seberapa adil dunia bisa mencapainya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak
-
Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026