Negara Teluk bersiap terlibat perang melawan Iran demi menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan.
Arab Saudi mulai mengizinkan pangkalan udaranya digunakan Amerika Serikat untuk operasi serangan udara.
Uni Emirat Arab mengancam bekukan miliaran dolar aset Iran untuk menekan sumber pendanaan militer.
Suara.com - Kondisi geopolitik perang di kawasan Timur Tengah kini sedang berada pada titik didih yang sangat mengkhawatirkan.
Sejumlah negara yang menjadi mitra strategis Amerika Serikat mulai menunjukkan sinyal kuat untuk terlibat perang.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa stabilitas keamanan di wilayah tersebut terancam oleh aktivitas militer Teheran Iran.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kini dilaporkan semakin condong untuk bekerja sama dengan pihak Israel.
Langkah ini diambil setelah serangkaian serangan dari Iran dianggap telah merusak stabilitas ekonomi negara-negara Teluk.
Teheran juga dinilai terus berusaha memperkuat pengaruh politik dan militer mereka di wilayah Selat Hormuz.
Media internasional mengungkapkan bahwa kerja sama ini akan memperkuat daya gempur serangan udara militer Amerika Serikat.
Selain itu, aliansi baru ini bertujuan untuk memutus jalur pendanaan yang selama ini menyokong kekuatan Iran.
Pihak otoritas di negara-negara Teluk memang belum secara terbuka mengirimkan pasukan tempur mereka ke garis depan.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tinggi Lagi, Kembali Dibanderol USD 100/Barel
Namun tekanan publik dan kebutuhan keamanan dalam negeri membuat mereka mulai merubah haluan politik luar negeri.
Sebelumnya negara-negara di kawasan kaya energi tersebut sangat menghindari konfrontasi bersenjata secara langsung dengan pihak Iran.
Kini persepsi tersebut berubah drastis seiring dengan meningkatnya ancaman perluasan pengaruh Teheran di Timur Tengah.
Pemerintah Arab Saudi dikabarkan telah membuka pintu bagi militer Amerika Serikat untuk beroperasi secara lebih leluasa.
Fasilitas militer di Pangkalan Udara King Fahd kini disiapkan untuk mendukung pergerakan pasukan udara sekutu barat.
Kebijakan ini merupakan titik balik besar karena sebelumnya Riyadh sangat melarang penggunaan wilayah udara mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Bocoran Jokowi untuk Pemilu 2029: Ungkap Alasan PSI Layak Lolos ke Parlemen
-
Dittipideksus Bareskrim dan Kortastipidkor Sinkronkan Penyidikan Kasus PT TSL
-
Gus Ipul Apresiasi Jawa Timur, Provinsi Dengan Sekolah Rakyat Terbanyak
-
Kaesang Pangarep Hadiri Pelantikan Pengurus DPD PSI Mesuji, Targetkan Satu Kursi di Setiap Dapil
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!