Negara Teluk bersiap terlibat perang melawan Iran demi menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan.
Arab Saudi mulai mengizinkan pangkalan udaranya digunakan Amerika Serikat untuk operasi serangan udara.
Uni Emirat Arab mengancam bekukan miliaran dolar aset Iran untuk menekan sumber pendanaan militer.
Perubahan sikap yang signifikan ini dipicu oleh rentetan serangan rudal dan pesawat tanpa awak milik Iran.
Serangan-serangan tersebut menyasar pusat-pusat energi vital yang menjadi tulang punggung ekonomi di kerajaan Arab Saudi.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, menegaskan kesabaran negaranya terhadap serangan Iran tidak tanpa batas.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal keras bahwa diplomasi mungkin akan segera digantikan dengan tindakan militer yang nyata.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman kabarnya ingin mengembalikan wibawa pertahanan negaranya melalui efek penangkal yang kuat.
Keputusan untuk bergabung dalam koalisi serangan aktif kini kabarnya tinggal menunggu momentum yang tepat dari Riyadh.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab juga melakukan manuver yang tidak kalah agresif dalam menekan kekuatan Teheran.
Pemerintah di Dubai mulai menargetkan aset-aset penting milik Iran yang berada di wilayah kedaulatan mereka.
Langkah konkret yang diambil adalah melakukan penutupan operasional pada institusi kesehatan dan pusat kebudayaan Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tinggi Lagi, Kembali Dibanderol USD 100/Barel
Iranian Hospital dan Iranian Club di Dubai kini resmi dihentikan aktivitasnya karena diduga terkait dengan IRGC.
Selama ini Uni Emirat Arab memang dikenal sebagai pusat transaksi keuangan bagi para pebisnis asal Iran.
Namun situasi saat ini memaksa pemerintah setempat untuk memberikan peringatan keras mengenai pembekuan dana besar-besaran.
Nilai aset yang terancam dibekukan diprediksi mencapai miliaran dolar Amerika Serikat yang tersimpan di bank lokal.
Jika kebijakan ini diterapkan, maka akses Iran terhadap mata uang asing akan mengalami hambatan yang sangat serius.
Kondisi tersebut dipastikan akan memperparah tingkat inflasi yang saat ini sedang mencekik perekonomian di dalam negeri Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Andrie Yunus Jalani Operasi Lanjutan, Dokter Fokus Selamatkan Bola Mata Kanan
-
Arus Lebaran 2026 Menguat, Tol GempolPasuruan Didominasi Pergerakan ke Arah Pasuruan
-
Optimalkan SDA untuk Kemandirian Nasional, Prabowo Pacu Hilirisasi dan Ketahanan Energi
-
Prabowo Dorong Reformasi TNI: Penegakan Hukum Internal Diperketat, Tak Ada Toleransi Pelanggaran!
-
Cerita Arus Balik: Syamsudin Trauma Macet 27 Jam di Jalan, Derris Pilih War Tiket Sejak H-45
-
Anak Durhaka! Kata-kata Sadis Remaja 18 Tahun Usai Bunuh Ibu Kandung
-
Akal Bulus Model Cantik Tipu Pria Kaya, Korban Merugi Sampai Rp3 Miliar
-
Dear Donald Trump! Ini Ada Ejekan dari Jubir Iran: Malu yah Kalah Perang
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
AS-Israel Lakukan Kejahatan Perang: 600 Sekolah Hancur, 66 Balita Iran Tewas