Iran mengajak negara-negara Timur Tengah membentuk aliansi militer mandiri berbasis Al Quran.
Ketegangan meningkat drastis setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Iran membantah klaim Trump mengenai kemajuan pembicaraan diplomatik yang produktif antara kedua negara.
Zolfaghari menekankan pentingnya tidak tergantung pada kekuatan asing dan untuk kembali ke ajaran Al Quran.
Menurut pandangan Iran, kekuatan spiritual dan religius harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pertahanan nasional.
Negara-negara tetangga dihimbau untuk tidak mencari jaminan keamanan dari pihak yang berada di seberang samudra.
Keyakinan akan kekuatan mandiri menjadi poin krusial yang terus digaungkan oleh otoritas militer di Teheran.
Kehadiran militer asing justru dianggap sebagai pemicu utama ketidakstabilan yang berkepanjangan di tanah para nabi.
"Kita harus bersatu untuk menjamin keamanan kita dan bergerak menuju suatu kesepakatan keamanan bersama yang menjadikan Islam dan Al Quran sebagai acuan, inti, dan landasan ajek," kata dia.
Pernyataan ini menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman harus menjadi ruh dari setiap operasional militer di kawasan.
Dengan menjadikan Al Quran sebagai landasan, diharapkan ada kesamaan visi yang tidak mudah digoyahkan oleh kepentingan politik sesaat.
Kerja sama ini diproyeksikan akan mencakup pertukaran intelijen serta latihan militer gabungan antar negara anggota.
Baca Juga: Inggris Kerahkan Kapal Perusak Tipe 45 dan Sistem Otonom Canggih ke Selat Hormuz Iran
Iran percaya bahwa kesatuan ideologi akan melahirkan kekuatan tempur yang jauh lebih tangguh dan berwibawa.
Ketegangan di kawasan Teluk meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Insiden berdarah tersebut telah mengubah konstelasi keamanan dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Teheran.
Serangan udara itu menyasar beberapa titik strategis yang memicu kerusakan signifikan pada infrastruktur pertahanan Iran.
Sejak saat itu, atmosfer permusuhan di wilayah Teluk mencapai titik didih yang sangat mengkhawatirkan masyarakat internasional.
Banyak analis menilai serangan tersebut sebagai deklarasi perang terbuka yang merusak upaya diplomasi sebelumnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Usai Lebaran, Para Bos Anak Usaha Astra Kompak Mundur
-
Kronologi Pemudik Terjebak di Jalan Sawah Sleman Akibat Google Maps, Antrean Panjang Tak Terhindar
Terkini
-
Mendagri Sebut WFH 1 Hari Sepekan Tak Masalah, Kini Tinggal Tunggu Arahan Prabowo
-
Cerdas! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan
-
Jelang Masuk Sekolah Usai Lebaran, KPAI Soroti Risiko Kelelahan hingga Tekanan Mental Anak
-
Analisis: Waktunya Pakai Energi Terbarukan saat Krisis BBM karena Perang Iran
-
Diperiksa Penyidik Usai Kembali ke Rutan KPK, Yaqut: Mohon Maaf Lahir Batin
-
Diduga Kurang Berhati-hati, Minibus Nyemplung di Bundaran HI Usai Tabrak Pembatas Jalan
-
Gubernur DKI Tunggu Keputusan Pusat soal WFH ASN untuk Efisiensi BBM
-
Australia Lumpuh, SPBU Kehabisan BBM Imbas Perang Iran
-
KPK Panggil Ulang Gus Yaqut Hari Ini, Ada Apa Setelah Status Penahanan Kembali ke Rutan?
-
Noel Mau Ikutan Yaqut untuk Ajukan Pengalihan Penahanan, KPK: Kewenangan Hakim