News / Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi Penyimpanan Cloud. [Unsplash]

Suara.com - Menyimpan foto dan data di layanan seperti Google Drive atau iCloud kerap memberi rasa aman. File bisa diakses kapan saja, memori ponsel pun terasa lebih lega. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan sederhana: ke mana sebenarnya data tersebut “pergi”?

Cloud storage sering dibayangkan sebagai ruang penyimpanan di “awan”. Faktanya, data tidak melayang di langit, melainkan tersimpan di jaringan pusat data, kumpulan komputer raksasa yang beroperasi tanpa henti.

Dikutip dari EcoFlow, saat pengguna mengunggah file, data akan menempuh perjalanan ribuan mil melalui kabel serat optik menuju fasilitas server berskala besar.

Di dalam pusat data, konsumsi energi tidak hanya digunakan untuk menyimpan data di perangkat keras seperti HDD atau SSD. Energi dalam jumlah besar juga dibutuhkan untuk sistem pendingin (HVAC) yang bekerja 24 jam guna meredam panas dari ribuan server.

Selain itu, penyedia layanan biasanya membuat salinan data di beberapa lokasi berbeda sebagai langkah pengamanan. Artinya, satu file dapat tersimpan dalam dua hingga tiga versi fisik, yang otomatis melipatgandakan kebutuhan energi. Infrastruktur jaringan seperti router dan switch juga terus bekerja agar data dapat diakses kapan saja.

Perbedaan konsumsi energi antara penyimpanan lokal dan cloud terbilang mencolok. Penyimpanan di perangkat pribadi hanya membutuhkan sekitar 0,005 watt-jam per gigabyte. Sementara itu, penyimpanan cloud dapat mencapai sekitar 3 hingga 7 kWh per gigabyte karena menggabungkan kebutuhan energi dari transmisi jaringan dan operasional pusat data. Artinya, konsumsi energi cloud jauh lebih besar dibandingkan penyimpanan lokal.

Sebagai gambaran, mengutip Stanford Magazine, penyimpanan 100 GB data di cloud selama satu tahun dapat menghasilkan jejak karbon sekitar 0,2 ton CO2, berdasarkan faktor emisi listrik di Amerika Serikat. Jumlah ini setara dengan penyimpanan ribuan foto atau beberapa jam video.

Dampak lingkungan tidak berhenti pada emisi karbon. Dikutip dari Greenly, pusat data global menyumbang sekitar 1–2 persen dari total konsumsi listrik dunia.

Selain itu, banyak pusat data menggunakan air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan, yang berpotensi membebani sumber daya lokal, terutama di wilayah yang rawan kekeringan.

Baca Juga: Dealer Mobil Listrik Kebanjiran Pesanan Imbas Melambungnya Harga Minyak Dunia

Lebih jauh, peningkatan dan penggantian perangkat keras secara berkala menghasilkan limbah elektronik yang berpotensi melepaskan zat beracun ke lingkungan. Penggunaan refrigeran dalam sistem pendingin juga menjadi persoalan tersendiri karena berisiko bocor dan melepaskan gas rumah kaca. Greenly mencatat, kebocoran ini dapat menambah emisi hingga sekitar 3 kg CO2e untuk setiap kWh energi yang dikonsumsi pusat data.

Meski demikian, penyimpanan cloud tetap menawarkan manfaat besar dari sisi keamanan dan kemudahan akses. Karena itu, penggunaan yang lebih bijak menjadi kunci.

Menghapus file duplikat atau tidak terpakai, memilih layanan dengan komitmen energi terbarukan, serta mempertimbangkan penyimpanan lokal untuk arsip yang jarang diakses dapat menjadi langkah sederhana untuk menekan jejak digital yang kerap tak terlihat ini.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More