News / Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 18:03 WIB
Arsip foto: Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China/aa. (Handout Kementerian Luar Negeri China)
Baca 10 detik
  • Presiden AS Donald Trump menunda kunjungan ke China pada 14–15 Mei karena fokus pada operasi militer AS-Israel di Iran.
  • Pertemuan krusial Trump dan Xi Jinping direncanakan membahas ketegangan global serta hubungan dagang yang sensitif antara kedua negara.
  • China sebelumnya menyerukan penghentian perang yang mengganggu stabilitas perdagangan global dan jalur vital Selat Hormuz.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 14–15 Mei untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Kunjungan ini mundur dari jadwal awal akibat serangan militer AS-Israel ke Iran.

Gedung Putih menegaskan penundaan dilakukan karena fokus Washington pada operasi militer.

“Presiden Xi memahami pentingnya presiden tetap berada di sini selama operasi tempur berlangsung,” ujar juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dilansir dari Aljazeera.

Leavitt menepis spekulasi bahwa pertemuan itu terkait akhir perang.

“Tidak ada prasyarat seperti itu. Penjadwalan ulang murni karena situasi saat ini,” tegasnya.

Presiden AS Donald Trump menuding NATO sebagai pengecut dan macan kertas karena tak mau membantu membuka Selat Hormuz. [X/Potus]

Sebelumnya, pemerintah China kembali menyerukan penghentian perang.

“Situasi tegang di Selat Hormuz telah mengganggu stabilitas perdagangan global,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian.

Trump sendiri meminta Beijing membantu membuka kembali jalur vital tersebut.

Baca Juga: Iran Tutup Laut Merah Bila Tentara AS-Israel Menyerbu, Pasokan Minyak Dunia Putus Total

Namun hingga kini, China belum menunjukkan kesediaan untuk terlibat langsung.

Pertemuan Trump–Xi dipandang krusial untuk meredakan ketegangan global.

Selain isu perang, hubungan dagang yang selama ini panas juga dipastikan menjadi agenda utama.

Sejak periode pertama kepemimpinannya, Trump dikenal agresif dalam kebijakan tarif terhadap China.

Namun, putusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini membatasi ruang geraknya dalam menerapkan tarif besar-besaran.

Perang Iran yang mendekati satu bulan terus berdampak luas.

Load More