News / Internasional
Senin, 30 Maret 2026 | 18:50 WIB
Ilustrasi tanah retak karena panas (Freepik/freepik)

Co-Founder Climate Impact Lab dan Direktur Institute for Climate and Sustainable Growth and Energy Policy Institute di University of Chicago, Michael Greenstone menjelaskan bahwa temuan ini mengungkap realitas di mana jutaan orang diperkirakan meninggal di negara-negara yang sebenarnya paling sedikit berkontribusi terhadap penyebab perubahan iklim.

“Laporan ini mengungkap salah satu ironi paling kejam dari perubahan iklim. Diproyeksikan akan membunuh jutaan orang di negara-negara yang umumnya paling sedikit berkontribusi terhadap penyebabnya,” ungkap Michael.

Data menunjukkan bahwa satu hari panas dengan suhu rata-rata melebihi 35 derajat Celsius (95 derajat Fahrenheit) dapat meningkatkan angka kematian sebanyak empat jiwa per 1 juta orang.

Oleh karena itu, laporan ini menekankan pentingnya strategi adaptasi yang tepat sasaran. Di negara dengan sumber daya terbatas seperti Bolivia, langkah-langkah adaptasi diperlukan di dataran rendah yang lebih panas dibandingkan wilayah pegunungan yang sejuk.

Efektivitas adaptasi iklim sangat bergantung pada identifikasi wilayah yang paling membutuhkan tindakan dan investasi mana yang memberikan manfaat paling besar.

Laporan ini muncul bertepatan dengan pernyataan PBB yang menyebutkan bahwa keseimbangan iklim Bumi saat ini berada pada titik yang lebih tidak stabil daripada kapan pun dalam sejarah yang tercatat seiring dengan percepatan pemanasan global.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More