Suara.com - Manusia dan bumi merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Sejak kemunculan Homo sapiens sekitar 200.000 hingga 300.000 tahun lalu, bumi telah menjadi rumah bagi manusia.
Namun kini, perkembangan dan pertumbuhan jumlah manusia justru membawa ancaman baru: kelebihan populasi.
Data Worldometer mencatat, populasi dunia saat ini telah mencapai 8,2 miliar jiwa. Angka ini bukan sekadar statistik. Studi dalam Environmental Research Letters menyebut jumlah manusia saat ini telah melampaui kapasitas bumi.
Artinya, kebutuhan dan pola konsumsi manusia sudah melebihi kemampuan bumi dalam menyediakan sumber daya secara berkelanjutan.
“Bumi tidak mampu mengimbangi cara kita menggunakan sumber daya. Tanpa perubahan besar, kita mendorong planet ini melampaui batasnya,” ujar Profesor Bradshaw, penulis utama studi tersebut.
Fenomena ini tak terjadi dalam semalam. Sejak sebelum 1950, pertumbuhan populasi meningkat pesat, didorong oleh inovasi dan kemajuan teknologi.
Pada masa itu, jumlah manusia yang besar dianggap sebagai pendorong perkembangan. Namun sejak 1960, meski laju pertumbuhan mulai melambat, jumlah populasi terus meningkat dan justru membawa tekanan besar bagi bumi.
Dampaknya mulai terasa di berbagai sektor. Ketersediaan lapangan kerja semakin terbatas, angka kemiskinan meningkat, dan ruang hidup manusia kian menyempit.
Di saat yang sama, eksploitasi sumber daya alam, seperti air, pangan, dan energi, terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah. Kondisi ini turut mempercepat kerusakan lingkungan.
Baca Juga: Kolaborasi Telkom dan AYS Indonesia Dorong Pemulihan Ekosistem Alam di Tarakan
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan populasi tidak hanya soal jumlah manusia, tetapi juga bagaimana manusia mengonsumsi sumber daya. Tanpa perubahan pola hidup, tekanan terhadap bumi akan terus meningkat.
Bradshaw mengingatkan, arah yang ditempuh manusia saat ini berpotensi memperdalam krisis global. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata untuk mengubah kondisi ini.
Salah satunya dengan mengelola konsumsi secara lebih bijak, memanfaatkan sumber daya secara efisien, serta mengendalikan pertumbuhan populasi.
“Populasi yang lebih kecil dengan konsumsi yang lebih rendah akan memberikan hasil yang lebih baik bagi manusia dan planet,” ujarnya.
Kesempatan untuk bertindak memang masih ada, namun semakin sempit. Diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi tantangan ini. Tanpa upaya kolektif, kelebihan populasi berisiko membawa bumi pada krisis yang lebih dalam, dan mengancam keberlanjutan kehidupan manusia itu sendiri.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi