- Peneliti PSKP UGM mendesak Presiden Prabowo bersikap tegas setelah tiga prajurit TNI gugur di Lebanon pada 1 April 2026.
- Indonesia diminta segera keluar dari Board of Peace untuk menghindari dampak buruk eskalasi perang Israel dan Amerika Serikat.
- Langkah politis tersebut dinilai penting sebagai bentuk protes atas tindakan Israel serta menjaga kredibilitas politik luar negeri Indonesia.
Suara.com - Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (PSKP UGM), Achmad Munjid, mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil sikap tegas menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam tugas penjaga perdamaian (peacekeeping) di Lebanon.
Termasuk salah satunya untuk secara tegas keluar dari Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Menurut Munjid, pemerintah harus berani keluar dari BoP guna menghindari dampak lebih buruk dari eskalasi perang yang dipicu oleh tindakan semena-mena dari Israel dan AS ini.
"Jadi kalau Prabowo mau mengambil sikap yang tegas, saya kira ini kesempatan yang tepat untuk dilakukan," kata Munjid, Rabu (1/4/2026).
Mengingat bahwa eskalasi perang yang sudah semakin tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Apalagi Indonesia berkontribusi besar dalam pengiriman pasukan perdamaian bahkan melampaui negara dengan penduduk lebih besar seperti Cina dan India.
"Jadi dengan politik luar negeri kita yang bebas aktif, ya ini saatnya Prabowo secara aktif menyampaikan suara keras, mengecam eskalasi perang dan yang pasti aktor utamanya Amerika dan Israel," tegasnya.
"Semakin cepat Prabowo menyampaikan statement politik terbuka, itu saya kira akan semakin baik dan yang pasti dia harus menuntut keadilan bagi TNI kita yang tewas itu," imbuhnya.
Selain desakan untuk mengecam pelaku penyerangan, Munjid turut menyarankan agar Indonesia segera mengambil langkah politis tegas dengan keluar dari BoP.
Masa depan gencatan senjata di wilayah konflik, termasuk Gaza, kata dia, kini terancam gagal total seiring niat Israel untuk menduduki Lebanon. Kondisi ini membuat keberadaan Indonesia di dalam BOP menjadi tidak relevan lagi dengan tujuan perdamaian yang ingin dicapai.
Baca Juga: Profil dan Pangkat 3 Prajurit TNI yang Gugur akibat Serangan Israel
"Jadi masa depan BoP tidak jelas, alasan berdirinya BoP banyak masalah, waktu Indonesia masuk ke BoP juga banyak problem. Saya kira dalam situasi sekarang Prabowo perlu bertindak tegas, sebagai langkah politik untuk menarik diri dari BoP," ujarnya.
Munjid mengakui bahwa konsekuensi politik jika Indonesia akhirnya memutuskan keluar dari BoP tidak dapat dihindari. Terutama dalam hal hubungan dengan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump.
"Ya tentu saja ada ongkos politiknya, ada konsekuensi politiknya," tandasnya.
Namun, ia menilai dengan tetap bertahan di BoP justru akan membawa kerugian yang lebih besar bagi posisi Indonesia di mata internasional.
Belum lagi melihat saat ini tren global menunjukkan banyak negara mulai menjauhi aliansi yang dipimpin Trump. Misalnya saja Malaysia yang telah menarik diri dari perjanjian dagang, hingga Spanyol yang secara terbuka tidak memberikan dukungan.
"Justru kalau kita tidak mengambil langkah untuk menarik diri dari BoP itu nanti kita bisa kena getahnya juga. Kalau perang berkepanjangan, kemudian seluruh dunia memusuhi Trump dan kita menjadi temannya Trump, ya apa yang akan kita dapatkan?" pungkasnya.
Berita Terkait
-
Profil dan Pangkat 3 Prajurit TNI yang Gugur akibat Serangan Israel
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Versi PBB, Israel Biang Kerok Prajurit TNI Gugur di Lebanon
-
Indonesia Marah Besar di PBB Setelah 3 Pasukan TNI Gugur Akibat Serangan Militer Israel
-
Zulhas Sebut PAN-Gerindra 'Koalisi Sepanjang Masa', Dasco: Kami Harap Ini Langgeng
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Huawei MatePad Pro Max (2026): Tablet Super Tipis yang Serius Mengajak Laptop Pensiun
-
Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
-
Mensesneg Nyatakan Kesiagaan Penuh Pascagempa Bumi NTT
-
Basarnas Evakuasi 3 Korban Reruntuhan Bangunan Akibat Gempa Bumi NTT di Maumere
-
Bukannya Jarah Isi Rumah, Pria di Bandar Lampung Ini Malah Angkut Pagar Milik Warga
-
Chiikawa The Movie Sukses Raup 6 Miliar Yen, Tayang di Indonesia 28 Agustus
-
HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!
-
Muhammad Kiandra Ramadhipa Berbagi Inspirasi di Purwokerto Jelang AHDC 2026
-
Peringatan Dini Tsunami Gempa Bumi NTT M 7,7 Dicabut
-
Legislator PDIP Tantang Calon Hakim Agung Bereskan Kasus Terbengkalai dan Pangkas Birokrasi MA