- Tiga prajurit TNI gugur saat bertugas dalam misi perdamaian UNIFIL PBB di Lebanon akibat tembakan dan ledakan ranjau.
- TB Hasanuddin mendesak Kementerian Luar Negeri menuntut investigasi menyeluruh kepada Dewan Keamanan PBB guna mencari pihak yang bertanggung jawab.
- Pemerintah Indonesia diminta mengevaluasi teknis secara menyeluruh sebelum memutuskan penarikan pasukan dari wilayah konflik Lebanon yang masa tugasnya berakhir.
Suara.com - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menyampaikan duka mendalam sekaligus memberikan respons tegas atas gugurnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalankan misi perdamaian dunia di bawah bendera UNIFIL di Lebanon.
Ia menjelaskan, bahwa keberadaan pasukan Indonesia di sana merupakan bagian dari komitmen internasional berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengamankan zona demiliterisasi.
“Jadi satuan UNIFIL itu dibentuk atas dasar resolusi dari Dewan Keamanan PBB nomor 425, 426, 1701 tahun 2006. Itu ya. Dan kemudian Indonesia berkontribusi menjadi pasukan yang terbesar yang dikirim ke sana. Ada empat mandat ya. Misalnya saja salah satu di antaranya itu mengamankan DMZ, Demilitarized Zone ya, antara wilayah Hizbullah dengan wilayah Israel,” ujar TB di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Ia memaparkan bahwa para prajurit tersebut gugur dalam dua insiden berbeda saat menjalankan tugas.
“Tugas pasukan kita yang terbesar yang dikirim itu kalau tidak salah sudah ke Kongo, Konga ya. Komando Garuda itu ke-23 S ya, begitu. Dan kemudian jumlahnya sekitar 1.060 orangan ya. Mereka sedang melaksanakan tugas, kemudian dalam tugas itu ada di box yang pertama gugur karena tembakan artileri. Yang kedua gugur dua orang karena sedang konvoi ada ledakan kemungkinan ada ranjau yang dipasang,” jelasnya.
Atas peristiwa tragis tersebut, TB mendesak pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri untuk bersikap proaktif dalam menuntut investigasi menyeluruh kepada Dewan Keamanan PBB guna mencari pihak yang bertanggung jawab.
“Nah, untuk itu kita harus mendorong yang namanya permintaan untuk melakukan investigasi lewat perwakilan kita, ada perwakilan di sana, perwakilan tetap yang kemudian, yang kemudian ya meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk melakukan investigasi. Itu yang pertama,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pemberian sanksi atau punishment jika ditemukan adanya unsur kesalahan atau pelanggaran, termasuk jika melibatkan pihak Israel.
“Yang kedua kita meminta juga agar Kementerian Luar Negeri lebih, lebih ya katakanlah aktif di dalam mendorong investigasi ini untuk mencari sesungguhnya ini kesalahan siapa. Dan kalau ada kesalahan dari pihak manapun misalnya Israel, kita wajib mengajukan ya untuk usulan memberikan punishment ya,” tegasnya.
Baca Juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Prabowo Didesak Kecam AS-Israel dan Tarik Diri dari BoP
Menurutnya, sanksi yang diberikan bisa berupa sanksi pidana terhadap pelaku hingga sanksi denda atau perubahan posisi satuan di wilayah konflik.
“Berdasarkan pengalaman saya itu bisa macam-macam. Yang pertama pelaku dari penembakan atau pelaku dari prajurit yang melakukan dari pihak manapun boleh dikenakan sanksi pidana oleh negara masing-masing. Yang kedua bisa juga ada apa ya aturan di wilayah itu satuan-satuan Israel harus mundur sekian kilo dan sebagainya. Jadi ada, ada katakan sanksi-sanksi yang diberikan secara tegas oleh Dewan Keamanan PBB ya termasuk sanksi denda. Itu yang biasa dilakukan ya,” tambahnya.
Mengenai wacana penarikan mundur pasukan TNI dari Lebanon, TB berpendapat bahwa langkah tersebut tidak boleh diambil secara terburu-buru tanpa hasil investigasi dan evaluasi teknis yang jelas dari Mabes TNI.
“Ya begini. Soal penarikan mundur. Menurut hemat saya, satu lakukan dulu investigasi. Hasilnya seperti apa? Yang kedua evaluasi taktis dan teknis, taktis dan teknis yang dilakukan oleh para prajurit TNI dan itu harus dilakukan evaluasi menyeluruh oleh Mabes TNI ya. Jadi ini terjadinya itu apakah kita misalnya tidak membawa kode-kode yang pas, apakah kita misalnya tidak memakai seragam yang sesuai kebutuhan sehingga menimbulkan sesuatu dan kebijakan-kebijakan lain,” urainya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah kontributor pasukan terbesar dalam misi tersebut, sehingga keberadaan TNI sangat diharapkan dalam menjaga perdamaian di kawasan tersebut.
“Nah, sehingga menurut hemat saya jangan kemudian karena ada korban langsung memundurkan diri karena harapan kita justru yang terbanyak itu adalah dari, dari satuan TNI. Satuan TNI ini dari sekian puluh tim yang dikirim oleh negara-negara kita ini paling banyak di UNIFIL ya. Artinya tidak serta merta karena ada kasus ini kemudian mundur. Enggak, pelajari dulu. Kalau hasil investigasi, hasil evaluasi dinyatakan sudah tidak lagi efektif dan tidak ada manfaatnya baru, baru kita mundur dengan baik-baik,” tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Kepulangan Jenazah Praka Farizal dari Lebanon ke Kulon Progo Diestimasikan Tiba Jumat Lusa
-
Update Tarif Listrik per kWh April 2026, Apakah Ada Kenaikan Harga?
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
Terkini
-
Bukan Gencatan Senjata, Iran Ajukan 5 Poin Krusial Akhiri Perang Permanen dan Total
-
Kejagung Geledah Kantor KSOP Kalsel dan Kalteng Terkait Kasus Korupsi Samin Tan
-
Soal WFH ASN Jumat, Legislator PDIP Beri Sindiran: Saya Bingung, Apa Dasarnya Memilih Long Weekend?
-
Cara Memperbaiki Data NISN yang Salah dan Tidak Sesuai
-
3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Gibran Sampaikan Duka Cita: Saya Dukung Penuh Investigasi PBB
-
Masih Berlangsung, KPK Geledah Rumah Ono Surono di Kasus Suap Ijon Bekasi
-
Deforestasi Indonesia Melonjak 66 Persen di 2025, Papua hingga Kalimantan Paling Terdampak
-
Tentara Israel soal TNI Tewas di Lebanon: Kejadian Begitu Biasa di Area Pertempuran
-
Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
-
Geger Kasus Amsal Sitepu, DPR akan Panggil Kajari Karo, Singgung Ada Perlawanan dari APH Kotor