-
UEA mendesak PBB menggunakan kekuatan militer Bab VII untuk membuka blokade Selat Hormuz segera.
-
Penutupan selat oleh Iran memicu lonjakan harga minyak karena memutus 20 persen pasokan global.
-
Konflik pecah setelah serangan AS-Israel menewaskan Ali Khamenei dan ribuan warga sipil Iran.
Suara.com - Ketegangan di wilayah perairan Teluk mencapai titik didih baru setelah Uni Emirat Arab melayangkan tuntutan keras.
Negara tersebut secara resmi meminta organisasi dunia untuk segera melakukan intervensi fisik di kawasan Selat Hormuz.
Langkah ini diambil menyusul buntunya jalur perdagangan maritim yang menjadi urat nadi energi dunia tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru, situasi keamanan navigasi di lokasi tersebut sudah berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.
Uni Emirat Arab menilai bahwa hanya tindakan nyata yang mampu memulihkan stabilitas di perairan internasional tersebut.
Permintaan resmi ini disampaikan langsung melalui sebuah surat yang ditujukan kepada jajaran pimpinan tertinggi di New York.
Dewan Keamanan harus mengambil “tindakan segera” untuk memastikan keamanan navigasi di dalam dan sekitar selat tersebut, kata Duta Besar Mohamed Abushahab dalam surat tertanggal Selasa yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan presiden Dewan Keamanan.
Pihak Abu Dhabi sangat menekankan perlunya aktivasi aturan internasional yang memperbolehkan adanya paksaan fisik.
Secara spesifik, mereka berharap komunitas global bersedia menerapkan mekanisme hukum yang tertuang dalam Bab VII Piagam PBB.
Baca Juga: Data Lapangan Bongkar Klaim Bohong Trump, Iran Masih Kuat: Kirim 6.770 Rudal ke Israel-Sekutu AS
Aturan ini merupakan fondasi legal yang memungkinkan pengiriman pasukan bersenjata demi menjaga perdamaian dunia yang terancam.
Melalui skema hukum tersebut, Dewan Keamanan memiliki wewenang untuk mengeksekusi berbagai sanksi berat terhadap pelanggar aturan.
Opsi yang tersedia mencakup pemutusan hubungan ekonomi total hingga pelaksanaan operasi militer berskala besar di lapangan.
Keputusan ekstrem ini dianggap perlu karena jalur logistik global sedang mengalami kelumpuhan yang cukup signifikan.
Kekacauan di Selat Hormuz sendiri sudah mulai pecah sejak memasuki awal bulan Maret yang lalu.
Kondisi tersebut dipicu oleh aksi balasan yang dilakukan pihak Iran setelah mendapat tekanan serangan udara sebelumnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
WFH ASN Tak Boleh Disalahgunakan, Mensos: Liburan Bisa Berujung Sanksi
-
Begini Cara Satgas PRR Manfaatkan Kayu Hanyutan di Wilayah Terdampak Bencana
-
Respons Gempa Sulut: Mensos Pastikan Beri Santunan Ahli Waris dan Kirim Bantuan Sesuai Kebutuhan
-
Gegana Turun Tangan! Gereja di Jakarta hingga Bekasi Disisir dan Dijaga Ketat Jelang Ibadah Paskah
-
Kesimpulan DPR Kasus Amsal Sitepu: Desak Eksaminasi dan Evaluasi Kejari Karo
-
Tegas! 1.256 SPPG di Timur Indonesia Disetop Sementara BGN Akibat Abaikan SLHS dan Tak Punya IPAL
-
KPK Akan Maraton Periksa Agen Perjalanan Haji dan Umrah Pekan Depan
-
Iran Pastikan Selat Hormuz Terbuka untuk Dunia, Tapi....
-
Kasus Kuota Haji, KPK Perpanjang Masa Penahanan Gus Alex Hingga 40 Hari ke Depan
-
2 Siswa SMP Terkena Peluru Nyasar, Marinir Ungkap Alasan Tolak Tuntutan Rp3,3 Miliar