- Dua siswa SMP di Gresik terluka akibat peluru nyasar saat berada di musala sekolah pada 17 Desember 2025.
- Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir membiayai pengobatan korban sambil melakukan pendalaman penyelidikan atas peristiwa tersebut.
- Mediasi antara pihak Marinir dan keluarga korban terkendala akibat tuntutan ganti rugi materiil yang dinilai tidak berkeadilan.
Suara.com - Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir, Mayor Ahmad Fauzi, menanggapi peristiwa salah tembak yang mengakibatkan luka pada dua anak, yaitu Darrell Fausta Hamdani dan Reinhart Okto Hanaya.
Darrell dan Reinhart merupakan bocah asal Gresik, Jawa Timur, yang diduga menjadi korban terkena peluru nyasar dari latihan militer empat batalyon di lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya.
“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” kata Fauzi dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
Dia menjelaskan pihaknya langsung melakukan koordinasi dan pendalaman di tempat kejadian perkara (TKP) sejak menerima informasi adanya peristiwa tersebut.
“Serta memastikan kedua korban mendapat tindakan medis. Walaupun sampai saat ini belum bisa dipastikan bahwa peluru tersebut berasal dari Korps Marinir, masih perlu penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut. Kesatuan telah memberikan perawatan di Rumah Sakit Siti Khadijah berupa membiayai seluruh operasi pengangkatan proyektil, perawatan selama operasi dan kontrol lanjutan, serta memberikan santunan kepada keluarga,” tutur Fauzi.
Lebih lanjut, dia meluruskan terkait adanya dugaan kelalaian. Menurut Fauzi, proses pendalaman hingga saat ini masih dilakukan.
“Oleh karena itu, asas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung. Kami memastikan bahwa setiap pelatihan militer memiliki prosedur dan pengamanan ketat,” tegas Fauzi.
Perihal adanya tuduhan mengenai dugaan intimidasi terhadap keluarga korban, Fauzi menegaskan hal tersebut tidak benar. Dia menjelaskan kehadiran perwira yang menemui keluarga korban bertujuan untuk kepentingan pendalaman teknis.
Dia menyebut komunikasi juga dilakukan secara terbuka tanpa tekanan. Fauzi mengaku pihaknya sangat menghormati hak dan martabat keluarga korban.
Baca Juga: Gerak Cepat TNI Pasca-Gempa Sulut: Ratusan Prajurit Evakuasi Korban hingga Sisir Dampak Tsunami
Mengenai tuntutan materiil dan immateriil yang disampaikan ibu Darrell, Dewi Muniarti, Fauzi menjelaskan proses mediasi bersama pihak korban memang sempat dilakukan.
Namun, pihak korban mengajukan tuntutan materiil dan immateriil berupa sejumlah uang yang dinilai tidak berkeadilan. Adapun jumlah uang yang dimaksud ialah Rp3,375 miliar (Rp3.375.000.000).
“Proses mediasi tidak berjalan sesuai yang diharapkan dikarenakan pihak korban mengajukan tuntutan material dan immaterial berupa permintaan sejumlah uang yang menurut kami tidak patut dan tidak berkeadilan,” ujar Fauzi.
Dia menuturkan bahwa pada 19 Januari 2026, pihaknya mendapatkan somasi pertama. Dalam somasi tersebut disebutkan adanya permintaan materiil dan immateriil.
“Terus tanggal 27 Januari, kami menerima somasi yang kedua dan kami jawab pada tanggal 30 Januari. Dalam somasi kedua ini, kami memberikan jawaban. Namun, kami juga harus mempertimbangkan prinsip hukum yang berlaku, yaitu kepatutan, proporsionalitas, dan mekanisme yang sah. Namun demikian, secara formal kami tetap membuka ruang dialog untuk membahas penyelesaian masalah secara rasional dan berkeadilan,” papar Fauzi.
Kemudian terkait pemeriksaan psikologis korban, pihaknya menegaskan menghormati hak keluarga. Namun, lanjut Fauzi, apabila hasil tersebut dikaitkan sebagai konsekuensi hukum terhadap institusi, maka harus dilakukan secara komprehensif, objektif, dan melalui mekanisme yang sah agar tidak menimbulkan interpretasi sepihak.
Oleh karena itu, Fauzi mengajak seluruh pihak untuk menjaga suasana tetap sejuk serta tidak membangun opini sebelum proses selesai.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi di musala sekolah SMPN 33 Gresik saat ada kegiatan sosialisasi sekolah tingkat lanjut dari SMKN Krian Sidoarjo pada 17 Desember 2025.
Terdapat dua korban dari peristiwa tersebut. Darrell mengalami luka di bagian tangan kiri, sementara Reinhart mengalami luka tembak di bagian punggung. Keduanya dilarikan ke Rumah Sakit Siti Khadijah.
Berita Terkait
-
Gerak Cepat TNI Pasca-Gempa Sulut: Ratusan Prajurit Evakuasi Korban hingga Sisir Dampak Tsunami
-
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Bantah Minta Kompensasi Rp3,3 M ke Marinir
-
Ibu Korban Peluru Nyasar Ungkap Klausul Tuntutan kepada Marinir
-
'Biar Anaknya Bangga': Keluarga Sepakat Kopda Farizal Dimakamkan di TMP Giripeni
-
Peluru Nyasar ke Sekolah di Gresik, Ibu Korban Diminta Tutup Mulut dan Operasi Anak Sempat Tertunda
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!
-
Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC
-
Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen
-
Kelola Sampah Organik ala Warga Meruya Selatan Hingga Jadi Bernilai Ekonomi