News / Nasional
Kamis, 02 April 2026 | 12:11 WIB
Gambar ilustrasi peringatan tsunami oleh BMKG. (Dok. BMKG)
Baca 10 detik
  • BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa dangkal akibat subduksi Laut Maluku pada Kamis, 2 April 2026 pagi.
  • Gempa tersebut berlokasi di laut tenggara Bitung dan berdampak pada kerusakan bangunan di Maluku Utara serta Sulawesi.
  • BMKG mencatat kenaikan muka air laut dan 48 gempa susulan serta mengimbau masyarakat memeriksa struktur bangunan mereka.

Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa yang terjadi di wilayah Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara, Kamis (2/4/2026).

Gempa tersebut tercatat berada pada koordinat 1,25° LU dan 126,27° BT, atau berlokasi di laut pada jarak 129 kilometer arah tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 33 kilometer.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas subduksi Laut Maluku.

"Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Halmahera Barat pada pukul 06:08 WIB dengan ketinggian 0.30 m, Bitung pada pukul 06:15 WIB dengan ketinggian 0.20 m," kata Faisal di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gempa ini menyebabkan kerusakan bangunan di sejumlah titik, antara lain di gedung KONI Sario Manado dan Gereja Kalvari di Pulau Batang Dua, Kota Ternate.

Faisal menyatakan peringatan dini tsunami telah resmi diakhiri.

"BMKG menyatakan bahwa Peringatan Dini Tsunami dinyatakan berakhir pada 09.56 WIB. BMKG berterima kasih kepada pemerintah daerah yang sudah membantu diseminasi dan melakukan langkah evakuasi secepatnya," ujarnya.

BMKG juga mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah titik lain, yakni Sidangoli pada pukul 06:16 WIB setinggi 0.35 meter, Minahasa Utara pada pukul 06:18 WIB setinggi 0.75 meter, Belang pada pukul 06:36 WIB setinggi 0.68 meter, serta Bumbulan pada pukul 06.50 WIB setinggi 0.13 meter.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida, menyebut gempa berdampak di tiga provinsi, yakni Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.

Baca Juga: Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih

Di Kota Ternate, gempa dirasakan dengan intensitas V-VI MMI. Getaran menyebabkan warga terkejut dan berlarian keluar, serta menimbulkan kerusakan ringan seperti plester dinding yang jatuh dan kerusakan cerobong asap pada pabrik.

Di Manado, getaran dirasakan dengan intensitas IV-V MMI, sementara di wilayah Gorontalo seperti Bone Bolango dan Gorontalo Utara tercatat intensitas III MMI. Getaran juga dirasakan di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato dengan intensitas II-III MMI.

"Hingga pukul 09.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 48 aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M5.5," ujar Nelly.

Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menyatakan BMKG akan menurunkan tim untuk melakukan pemetaan dampak gempa.

"Seluruh UPT BMKG di daerah telah berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk memantau potensi gempa susulan serta dampak kerusakannya," kata Rahmat.

BMKG juga akan memasang portable seismograph di sekitar Maluku Utara dan Ternate untuk pengumpulan data lanjutan.

Load More