News / Internasional
Kamis, 02 April 2026 | 12:18 WIB
ILUSTRASI Nuklir (Freepic)
Baca 10 detik
  • Pentagon merancang operasi pemindahan uranium Iran yang melibatkan ribuan pasukan dan alat berat.

  • Donald Trump meragukan keberhasilan misi karena lokasi material nuklir terkubur sangat dalam.

  • Ketegangan militer antara Amerika, Israel, dan Iran terus meningkat pasca serangan Februari 2026.

Suara.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon kini tengah menyodorkan strategi militer terbaru kepada Donald Trump.

Strategi ini berfokus pada upaya pembersihan material uranium yang telah diperkaya di wilayah kedaulatan Iran.

Kabar mengenai rencana besar ini pertama kali dipublikasikan oleh media terkemuka The Washington Post pada Rabu.

Langkah ini diambil setelah adanya permintaan langsung dari Trump untuk mengamankan bahan radioaktif berbahaya tersebut.

Operasi ini diprediksi akan menjadi salah satu misi militer yang paling kompleks dalam sejarah modern.

Pihak keamanan menilai misi ini memiliki level risiko yang sangat tinggi bagi seluruh personel.

Ratusan hingga ribuan tentara Amerika Serikat kemungkinan besar akan dikerahkan untuk menyukseskan pengambilan material itu.

Proses pengangkutan alat-alat berat menuju lokasi target harus dilakukan melalui jalur udara secara masif.

Belum pernah ada sejarah di mana operasi ekstraksi material radioaktif dilakukan dengan skala sebesar ini.

Baca Juga: Anak 12 Tahun Direkrut Jadi Tentara Iran Hadapi Perang Timur Tengah

Seorang sumber anonim memaparkan betapa teknisnya pengerjaan di lapangan yang harus dihadapi militer Amerika.

Sumber tersebut menjelaskan bahwa tim lapangan harus membawa peralatan penggalian dalam jumlah yang banyak.

Lapis beton yang tebal serta pelindung timbal yang kokoh menjadi penghalang utama bagi tim teknis.

“Anda harus mendapatkan peralatan penggalian, menembus beton dan pelindung timbal … dan kemudian entah bagaimana mencapai bagian dasar silo tersebut, mengeluarkan kontainer berisi material nuklir, dan menerbangkannya keluar,” kata salah satu sumber anonim yang mengetahui masalah ini kepada The Washington Post.

Penjelasan teknis tersebut menggambarkan betapa mustahilnya misi ini jika tidak dipersiapkan dengan sangat matang.

Setiap detik dalam operasi tersebut sangat berharga karena menyangkut keselamatan nyawa dan keamanan lingkungan.

Saat melakukan sesi wawancara dengan CBS, Trump memilih untuk bersikap tertutup mengenai kemenangan operasi ini.

Ia tidak memberikan jawaban pasti mengenai status kemenangan tanpa berhasil mengeluarkan cadangan uranium dari Iran.

Mantan Presiden tersebut mengaku bahwa dirinya belum memberikan pemikiran mendalam mengenai detil teknis pengambilan material.

Trump menyadari bahwa lokasi penyimpanan bahan nuklir tersebut berada di posisi yang sangat sulit dijangkau.

Trump mengatakan ia bahkan tidak memikirkannya, serta menambahkan bahwa uranium tersebut “terkubur sangat dalam” dan “akan sangat sulit bagi siapa pun.”

Ketegangan antara Iran dan Israel sendiri telah memuncak sejak pertengahan tahun lalu tepatnya Juni.

Israel meluncurkan serangan udara karena mencurigai adanya program nuklir militer rahasia yang dikelola oleh Teheran.

Pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan mengklaim program mereka bertujuan untuk perdamaian.

Aksi saling balas serangan antara kedua negara tersebut berlangsung sengit selama periode dua minggu.

Amerika Serikat sempat melakukan intervensi dengan menyerang fasilitas nuklir Iran pada malam tanggal 22 Juni.

Sebagai balasan atas aksi Amerika, Teheran meluncurkan rudal yang mengarah ke pangkalan udara Al Udeid.

Gencatan senjata akhirnya tercapai setelah Trump mengumumkan berakhirnya perang singkat selama 12 hari tersebut.

Namun situasi kembali memanas pada awal tahun 2026 melalui serangan gabungan Amerika dan Israel.

Serangan tertanggal 28 Februari 2026 itu menyasar banyak titik vital di Teheran dan kota lainnya.

Insiden berdarah tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah dan memakan korban jiwa dari sipil.

Iran tidak tinggal diam melihat wilayah kedaulatannya kembali digempur oleh kekuatan militer asing yang besar.

Pihak Teheran segera meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel sebagai bentuk pertahanan diri mereka.

Selain Israel, target serangan Iran juga mencakup berbagai fasilitas militer milik Amerika di Timur Tengah.

Konflik ini memicu kekhawatiran global mengenai potensi perang nuklir yang bisa meledak kapan saja.

Dunia internasional kini terus memantau setiap langkah Pentagon dalam menjalankan rencana pengambilan uranium tersebut.

Load More