-
Iran menyerang wilayah Israel dan pangkalan AS di UEA, Bahrain, serta Kuwait.
-
Sekitar 80 orang menjadi korban dalam serangan rudal Iran di markas militer Bahrain.
-
Operasi ini adalah aksi balasan atas serangan Israel-AS ke Teheran pada Februari lalu.
Data awal yang dihimpun menunjukkan angka kerugian manusia yang cukup mengejutkan akibat ledakan rudal di area tersebut.
Serangan tersebut mengakibatkan sekitar 80 orang terdampak, sebagian besar tewas atau terluka.
Tim medis di lapangan bekerja keras untuk melakukan evakuasi terhadap para korban di tengah situasi yang masih sangat tegang.
Iran menegaskan bahwa serangan ini merupakan konsekuensi logis dari keterlibatan asing yang mengancam stabilitas keamanan nasional mereka.
Hingga saat ini, proses identifikasi terhadap para korban masih terus dilakukan oleh pihak berwenang di lokasi kejadian.
Tidak berhenti di Bahrain, unit tempur Iran juga mengarahkan serangan mereka menuju wilayah Kuwait untuk menyasar aset udara.
Target spesifik di wilayah tersebut adalah pangkalan udara yang menjadi tempat parkir bagi armada helikopter militer Amerika Serikat.
Pasukan Iran, lanjutnya, juga menyerang kelompok helikopter Angkatan Darat AS di pangkalan Al-Adiri di Kuwait, dengan satu helikopter dilaporkan hancur dan beberapa lainnya mengalami kerusakan serius.
Kehilangan aset udara ini dianggap sebagai pukulan telak bagi mobilitas pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Baca Juga: Bumerang Perangi Iran: Israel Terancam Kehilangan Miliaran Dolar Akibat Manuver Turki
Serangan yang terukur ini membuktikan bahwa Iran memiliki intelijen yang akurat mengenai posisi alutsista strategis milik lawan mereka.
Selain armada helikopter, Iran juga menargetkan infrastruktur pendeteksi canggih yang digunakan untuk memantau pergerakan wilayah maritim.
Dua sistem radar peringatan dini milik AS yang berada di wilayah maritim dan di pulau-pulau milik UEA juga dihancurkan.
Hancurnya sistem radar ini mengakibatkan kebutaan taktis bagi sistem pertahanan Amerika Serikat di sekitar wilayah perairan UEA.
Tanpa radar peringatan dini, deteksi terhadap ancaman udara dan laut menjadi sangat sulit dilakukan dalam waktu singkat.
Operasi sabotase infrastruktur ini bertujuan untuk melemahkan dominasi teknologi pemantauan yang selama ini dikuasai oleh militer Amerika Serikat.
Pada waktu yang bersamaan, Iran juga melakukan infiltrasi udara menggunakan drone ke salah satu bandara tersibuk di Israel.
Bandara Ben Gurion menjadi sasaran empuk bagi drone serang Iran yang bertujuan melumpuhkan logistik pengisian bahan bakar udara.
“Sejak pagi hari, tentara Iran telah menyerang konsentrasi pesawat pengisian bahan bakar udara milik AS yang ditempatkan di Bandara Ben Gurion menggunakan UAV serang dan menargetkan stasiun radar yang digunakan untuk mendeteksi dan mencegat rudal dan drone,” ucapnya.
Langkah ini dirancang untuk memutus rantai pasokan bahan bakar bagi pesawat tempur yang sedang beroperasi di wilayah udara tersebut.
Penghancuran stasiun radar di bandara tersebut juga mempermudah masuknya gelombang serangan rudal berikutnya tanpa terdeteksi sejak dini.
Eskalasi besar-besaran yang terjadi pada awal April ini bukanlah sebuah kejadian yang berdiri sendiri tanpa pemicu sebelumnya.
Iran menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan respon defensif atas serangan yang lebih dulu dilakukan oleh pihak lawan.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Serangan di Teheran tersebut memicu kemarahan publik dan desakan agar militer segera mengambil langkah pembalasan yang setimpal.
Akibat dari provokasi tersebut, Iran membulatkan tekad untuk menyerang balik pusat-pusat kekuatan lawan sebagai bentuk proteksi diri.
Kini seluruh mata dunia tertuju pada perkembangan konflik yang semakin meluas dan melibatkan banyak negara di kawasan tersebut.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Serangan balasan ini menandai babak baru dalam konfrontasi terbuka yang melibatkan kekuatan rudal dan teknologi drone terkini.
Dunia internasional mengkhawatirkan adanya serangan balasan lanjutan yang bisa memicu perang skala penuh di seluruh wilayah Teluk.
Upaya diplomasi kini sedang diuji untuk mencegah situasi semakin tidak terkendali setelah rentetan ledakan di berbagai negara ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Ahmad Luthfi Luncurkan Logis, Warga Jateng Kini Bisa Konsultasi Psikolog Gratis
-
Kemlu Qatar: Perundingan Sukses, AS dan Iran Kembali Bertemu Usai Pemakaman Ali Khamenei
-
Kronologi Penyekapan Karyawan Padel Kebayoran Lama: Berawal dari Raket Hilang
-
Tak Ada Lagi Wacana Pilkada via DPRD
-
Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar Tewas Ditembak Tentara Israel di Jalur Gaza
-
Bukan Cuma Rokok, Ini Alasan Kanker Paru Masih Sulit Ditangani di Indonesia
-
Ini Lirik Lagu Lalaki Langit Ciptaan Bupati Purwakarta yang Tuai Kecaman, Dinilai Rendahkan Wanita
-
Teka-teki Pertemuan 2 Juni: Menhut Raja Juli Bakal Dicecar Soal Skandal Izin Hutan Kuansing
-
Libur Sekolah Mau Habis? Cek 64 Ribu Tiket Kereta Daop 1 dan Diskon Gede 30 Persen!
-
32 Ibu Hamil Lolos Skrining Latsarmil, Komnas Perempuan Bongkar Bobroknya Seleksi SPPI!