News / Nasional
Kamis, 02 April 2026 | 16:23 WIB
Orang tua korban salah tembak di Gresik, Jawa Timur Darrel Fausta Hamdani, Dewi Muniarti, menceritakan peristiwa yang menyebabkan anaknya harus menjalani operasi akibat peluru menyasar tangan kiri Darrel. (Suara.com/Dea)
Baca 10 detik
  • Dua siswa SMPN 33 Gresik mengalami luka tembak akibat kegiatan latihan menembak Marinir di area sekolah tersebut.
  • Korban Darrel Fausta Hamdani harus menjalani operasi pemasangan pen pada tulang tangan kiri akibat terkena proyektil peluru.
  • Pihak kesatuan berjanji menanggung biaya pemulihan meski sempat terjadi perdebatan terkait fasilitas kamar perawatan di rumah sakit.

Suara.com - Orang tua korban salah tembak di Gresik, Jawa Timur Darrel Fausta Hamdani, Dewi Muniarti, menceritakan peristiwa yang menyebabkan anaknya harus menjalani operasi akibat peluru menyasar tangan kiri Darrel.

Kejadian tersebut terjadi di mushola sekolah SMPN 33 Gresik saat ada kegiatan sosialisasi sekolah tingkat lanjut dari SMKN Krian Sidoarjo.

Terdapat dua korban dari peristiwa tersebut. Selain Darrel, korban lainnya mengalami luka tembak di bagian punggung. Keduanya dilarikan ke Rumah sakit Siti Khadijah.

Di rumah sakit, Dewi mengaku didatangi oleh perwakilan dari Kesatuan atas nama perwira Sutaji yang meminta maaf karena peristiwa salah tembak ini.

“Pada hari itu dan pada saat kejadian itu, sedang berlangsung latihan tembak dari Marinir. Terkonfirmasi ada 4 batalion di sana,” kata Dewi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (2/4/2026).

"Beliau menyampaikan di samping itu, meminta kepada keluarga korban untuk bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan saya tidak boleh laporan kemana-mana, dan saya tidak boleh mem-viralkan, dan beliau menyampaikan komitmen akan bertanggung jawab penuh mulai penyembuhan, pemulihan anak-anak sampai tuntas," katanya menambahkan.

Namun, Dewi mengungkapkan terjadinya polemik ketika anaknya baru akan menjalani operasi. Sebab, dia mengaku bertemu oleh dokter yang menjadi perwakilan dari kesatuan.

Sebelum operasi dimulai, kata Dewi, perwakilan kesatuan itu menudingnya memanfaatkan keadaan dengan meminta fasilitas kesehatan dengan kamar VIP B.

“Di situ saya jelaskan bahwasanya, saya mengambil tipe itu, itu menyesuaikan kemampuan dan kenyamanan saya. Kalau saya mau, apa yang disampaikan oleh Bapak Siregar tadi pada saat di UGD, saya akan mengambil kamar yang terbaik, tapi itu tidak saya lakukan, karena saya berpikir, ya kalau akan di cover semuanya, kalau tidak, maka itu akan jadi tanggung jawab saya penuh, makanya saya mengambil VIP B,” tutur Dewi.

Baca Juga: BRI Dorong UMKM Desa Hendrosari Lewat Program Desa BRILiaN dan Wisata Lontar Sewu

Perdebatan mengenai penggunaan fasilitas kamar VIP itu disebut menunda proses operasi yang dibutuhkan Darrel.

Padahal, Dewi menilai saat itu kondisi anaknya cukup darurat untuk segera dilakukan operasi.

Pada kesempatan yang sama, Dewi menunjukkan foto rontgen tangan kiri anaknya. Dalam foto tersebut, terlihat ada peluru yang mengenai tulang jari tengah pada tangan kiri Darrel.

“Namun anak saya, ini kena tulangnya. Kena tulangnya sehingga dia dipasang pen. Tepat di tengah-tengah. Jadi tangan kirinya ada pemasangan pen-nya,” ungkap Dewi.

Load More