News / Nasional
Minggu, 05 April 2026 | 12:48 WIB
Kardinal Suharyo sampaikan pesan Paskah 2026, Ajak Umat Keluar dari Kegelapan dan Tetap Menyala dalam Kasih. (Suara.com/Tsabita Aulia)
Baca 10 detik
  • Keuskupan Agung Jakarta menetapkan tema "Kepedulian kepada Keutuhan Alam Ciptaan" untuk menyambut perayaan Paskah pada 5 April 2026.
  • Ignatius Kardinal Suharyo menilai kondisi bangsa Indonesia sedang mengalami kemunduran akibat praktik KKN, kemiskinan, serta kerusakan lingkungan.
  • Umat Katolik diimbau menjaga integritas moral dan memperjuangkan keadilan sosial demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia kembali.

Suara.com - Menyambut perayaan Paskah 2026, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengusung tema "Kepedulian kepada Keutuhan Alam Ciptaan".

Dalam keterangannya, Uskup keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, memberikan refleksi mendalam mengenai kondisi bangsa yang dinilainya sedang mengalami kemunduran dari cita-cita kemerdekaan.

Kardinal Suharyo menjelaskan bahwa bagi umat Kristiani, Paskah memiliki makna "Eksodus" atau perpindahan dari kegelapan menuju terang. Ia menarik garis paralel antara sejarah keselamatan dalam Kitab Suci dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga reformasi.

Namun, Kardinal Suharyo memberikan catatan kritis terhadap situasi nasional pasca-Reformasi 1998 hingga saat ini. Ia menyoroti fenomena KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang bukannya hilang, justru memicu kerusakan di berbagai lini kehidupan.

“Keadaan kita sejauh dapat saya amati itu tidak baik-baik saja karena segala macam hal itu cita-citanya mulia, cita-citanya tinggi tetapi tidak dapat diwujudkan karena unsur-unsur lagi KKN yang masih terus ditambah dengan kekerasan, kemiskinan kerusakan lingkungan hidup, kebohongan semuanya merusak tata kehidupan bersama,” ujar Kardinal Suharyo dalam konferensi persnya di Keuskupan Agung Jakarta, Minggu (5/4/2026).

Dampak Nyata bagi Rakyat Kecil

Ia juga menekankan bahwa penderitaan akibat carut-marutnya tata kelola negara paling dirasakan oleh warga masyarakat sipil. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat berkunjung ke pasar yang menunjukkan penurunan daya beli masyarakat.

"Saya melihat kok sepi sekali saya tanya kepada yang memotong rambut saya mas memangnya sepi begini terus? dia jawab enggak bukannya hanya sepi pak banyak yang tutup di tempat ini tutup karena apa? karena daya membeli masyarakat rendah itu hanya contoh kecil," ungkapnya.

Kesimpulannya, realitas kemiskinan dan kesulitan ekonomi ini adalah buah dari praktik-praktik yang mengabaikan keadilan sosial. Ia menyebut bahwa saat ini bangsa Indonesia berada pada "periode yang tidak baik-baik saja" dalam perjalanan demokrasi yang mulai ditinjau.

Baca Juga: Padati Gereja Katedral, 2.500 Umat dan Tokoh Nasional Khidmat Ikuti Misa Pontifikal Paskah

Semangat Paskah: Tetap Menyala dalam Kasih

Meski memberikan potret yang cukup kelam mengenai situasi saat ini, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa umat Katolik tidak boleh hanya "meratapi kegelapan". Paskah harus menjadi momentum untuk memperkuat integritas moral dan kepedulian terhadap lingkungan serta sesama.

“Semangat pasca mengajak khususnya umat katolik yang kami layani di tengah-tengah keadaan seperti itu keadaan seperti apapun kita pasti harus tetap berjuang untuk teguh dalam iman kokoh di dalam harapan dan tetap menyalah di dalam kasih,” tegasnya.

Terkait tema kehidupan lingkungan, Kardinal Suharyo menimbulkan kerusakan alam sebagai dampak langsung dari keserakahan dan buruknya penegakan hukum. Ia berharap melalui momentum Paskah ini, masyarakat dan pemimpin bangsa dapat kembali ke rel yang benar.

“Kita berharap dengan keyakinan iman dan keyakinan watak bangsa Indonesia pada waktunya nanti akan kembali lebih jelas lagi kembali ke cita-cita kemerdekaan itu saja pengantarnya,” tutupnya.

Pesan Paskah KAJ 2026 ini diharapkan menjadi panduan bagi umat untuk tidak hanya merayakan ritual keagamaan, tetapi juga melakukan aksi nyata dalam menjaga keutuhan alam dan memperjuangkan keadilan sosial di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Tsabita Aulia)

Load More