- Keuskupan Agung Jakarta menetapkan tema "Kepedulian kepada Keutuhan Alam Ciptaan" untuk menyambut perayaan Paskah pada 5 April 2026.
- Ignatius Kardinal Suharyo menilai kondisi bangsa Indonesia sedang mengalami kemunduran akibat praktik KKN, kemiskinan, serta kerusakan lingkungan.
- Umat Katolik diimbau menjaga integritas moral dan memperjuangkan keadilan sosial demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia kembali.
Suara.com - Menyambut perayaan Paskah 2026, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengusung tema "Kepedulian kepada Keutuhan Alam Ciptaan".
Dalam keterangannya, Uskup keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, memberikan refleksi mendalam mengenai kondisi bangsa yang dinilainya sedang mengalami kemunduran dari cita-cita kemerdekaan.
Kardinal Suharyo menjelaskan bahwa bagi umat Kristiani, Paskah memiliki makna "Eksodus" atau perpindahan dari kegelapan menuju terang. Ia menarik garis paralel antara sejarah keselamatan dalam Kitab Suci dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa penjajahan hingga reformasi.
Namun, Kardinal Suharyo memberikan catatan kritis terhadap situasi nasional pasca-Reformasi 1998 hingga saat ini. Ia menyoroti fenomena KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang bukannya hilang, justru memicu kerusakan di berbagai lini kehidupan.
“Keadaan kita sejauh dapat saya amati itu tidak baik-baik saja karena segala macam hal itu cita-citanya mulia, cita-citanya tinggi tetapi tidak dapat diwujudkan karena unsur-unsur lagi KKN yang masih terus ditambah dengan kekerasan, kemiskinan kerusakan lingkungan hidup, kebohongan semuanya merusak tata kehidupan bersama,” ujar Kardinal Suharyo dalam konferensi persnya di Keuskupan Agung Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Dampak Nyata bagi Rakyat Kecil
Ia juga menekankan bahwa penderitaan akibat carut-marutnya tata kelola negara paling dirasakan oleh warga masyarakat sipil. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat berkunjung ke pasar yang menunjukkan penurunan daya beli masyarakat.
"Saya melihat kok sepi sekali saya tanya kepada yang memotong rambut saya mas memangnya sepi begini terus? dia jawab enggak bukannya hanya sepi pak banyak yang tutup di tempat ini tutup karena apa? karena daya membeli masyarakat rendah itu hanya contoh kecil," ungkapnya.
Kesimpulannya, realitas kemiskinan dan kesulitan ekonomi ini adalah buah dari praktik-praktik yang mengabaikan keadilan sosial. Ia menyebut bahwa saat ini bangsa Indonesia berada pada "periode yang tidak baik-baik saja" dalam perjalanan demokrasi yang mulai ditinjau.
Baca Juga: Padati Gereja Katedral, 2.500 Umat dan Tokoh Nasional Khidmat Ikuti Misa Pontifikal Paskah
Semangat Paskah: Tetap Menyala dalam Kasih
Meski memberikan potret yang cukup kelam mengenai situasi saat ini, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa umat Katolik tidak boleh hanya "meratapi kegelapan". Paskah harus menjadi momentum untuk memperkuat integritas moral dan kepedulian terhadap lingkungan serta sesama.
“Semangat pasca mengajak khususnya umat katolik yang kami layani di tengah-tengah keadaan seperti itu keadaan seperti apapun kita pasti harus tetap berjuang untuk teguh dalam iman kokoh di dalam harapan dan tetap menyalah di dalam kasih,” tegasnya.
Terkait tema kehidupan lingkungan, Kardinal Suharyo menimbulkan kerusakan alam sebagai dampak langsung dari keserakahan dan buruknya penegakan hukum. Ia berharap melalui momentum Paskah ini, masyarakat dan pemimpin bangsa dapat kembali ke rel yang benar.
“Kita berharap dengan keyakinan iman dan keyakinan watak bangsa Indonesia pada waktunya nanti akan kembali lebih jelas lagi kembali ke cita-cita kemerdekaan itu saja pengantarnya,” tutupnya.
Pesan Paskah KAJ 2026 ini diharapkan menjadi panduan bagi umat untuk tidak hanya merayakan ritual keagamaan, tetapi juga melakukan aksi nyata dalam menjaga keutuhan alam dan memperjuangkan keadilan sosial di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Padati Gereja Katedral, 2.500 Umat dan Tokoh Nasional Khidmat Ikuti Misa Pontifikal Paskah
-
8 Promo Makanan Spesial Hari Paskah 2026, dari Ramen hingga All You Can Eat
-
30 Ide Ucapan Selamat Paskah dari Muslim yang Sederhana, Hangat, dan Berkesan
-
Bolehkah Muslim Mengucapkan Selamat Paskah? Ini Penjelasan Hukumnya dalam Islam
-
Telur Paskah yang Dihias Apakah Boleh Dimakan? Cek 4 Aturan Keamanannya
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan