News / Nasional
Senin, 06 April 2026 | 22:17 WIB
Warung madura bu Entin. (Suara.com/Tsabita)
Baca 10 detik
  • Entin merintis usaha warung Madura 24 jam di Tebet, Jakarta Selatan, sejak empat tahun lalu bersama keluarganya.
  • Warung ini beroperasi sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan warga sekaligus memberikan pelayanan bagi pelanggan saat malam hari.
  • Hasil pendapatan harian mencapai satu hingga dua juta rupiah untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anak mereka.

Suara.com - Ketika gemerlap ibu kota mulai memudar, sebuah sudut di Jalan Tebet, Jakarta Selatan, justru memancarkan terang. Di saat minimarket modern berlomba-lomba menutup pintu, sebuah warung kecil dengan etalase penuh sesak barang kebutuhan sehari-hari tetap berdiri tegak.

Bagi sebagian orang, ini hanyalah tempat singgah untuk membeli sebungkus rokok atau sebotol air mineral. Namun, bagi pemilik warung Madura, Entin, warung berukuran tak seberapa ini adalah pelita keluarga, saksi bisu kerasnya perjuangan, dan “napas” bagi para perantau.

Sudah empat tahun Entin dan keluarganya merawat nyala warung ini. Di awal kedatangannya dari Pulau Garam, tak ada jaminan kesuksesan yang menanti.

Modalnya bukanlah uang bermiliar-miliar, melainkan apa yang ia sebut sebagai “darah perantauan”: kombinasi antara kejujuran, nyali yang nekat, dan tulang yang tahan banting.

“Semua dimulai dari nol,” kenang Entin, senyum tipis mengembang di wajahnya yang menyiratkan ketegaran. Tangannya sibuk menata rentengan kopi instan.

"Dulu, rak-rak di warung ini masih banyak yang kosong. Tapi kami pilih usaha ini karena perputarannya cepat. Orang butuh rokok, kopi, atau mi instan itu tidak mengenal waktu," ujar Entin di warung tempat mengais rezekinya, Senin (6/4/2026).

Kini, rak kosong itu hanya tinggal kenangan. Etalasenya padat, tumpukan galon berjajar rapi, dan tabung gas elpiji siap diangkut kapan saja.

Warung ini menyatu dengan rumah tinggalnya, hasil merombak bagian depan rumah dengan modal awal sekitar sepuluh juta rupiah. Sistemnya dikelola secara gotong royong bersama suami dan adiknya.

Falsafah Waktu: "Rezeki Tak Punya Jam Operasional"

Banyak yang bertanya dengan nada heran kepada Entin, "Buk, apa nggak capek buka terus 24 jam?"

Baca Juga: Persib Bandung Menjauh dari Persija, Bojan Hodak Fokus Amankan Sisa Laga

Bagi Entin, warung yang tak pernah tutup bukanlah sekadar strategi bisnis, melainkan sebuah keyakinan spiritual dan empati sosial.

“Rezeki itu nggak ada jam operasionalnya,” ucapnya.

"Kalau saya tutup jam 10 malam, lalu ada orang kelaparan di tengah malam hanya cari mi instan, saya kehilangan kesempatan bersedekah dan membantu orang. Lagi pula, buka 24 jam itu sudah jadi 'merek' Warung Madura. Kalau kami tutup, orang nanti ragu mau datang lagi," tambahnya.

Menjaga warung tanpa henti tentu bukan tugas untuk satu pasang mata. Entin menerapkan sistem pergantian.

Siang hingga sore adalah wilayah kekuasaannya, sementara saat malam hingga azan subuh berkumandang, sang suami yang mengambil alih.

Senjata suami untuk melawan pekatnya malam dan kantuk yang menyerang terbilang sederhana: kopi hitam pekat, rokok, tegukan air putih yang banyak, dan satu hal yang tak pernah ditinggalkan, ibadah.

“Biar lelahnya hilang,” kata Entin menirukan prinsip suami.

Fase di Tengah Malam: Antara Asap Rokok dan Dingin Embun

Di atas jam sepuluh malam, warung ini berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar tempat jual beli, melainkan sebuah pos singgah bagi jiwa-jiwa malam yang melelahkan.

Denyut kehidupan justru terasa paling kencang pada pukul 22.00 hingga 01.00 dini hari, dan kembali memuncak pada pukul 04.00 saat para pekerja shift pagi mulai menggerakkan roda Jakarta.

Di jam-jam inilah, omzet warung justru sering kali melebihi pendapatan di siang hari.

"Saingannya sedikit. Minimarket sudah banyak yang tutup atau lokasinya jauh, jadi larinya ke kita. Kotornya per hari bisa dapat 1 sampai 2 juta rupiah, tapi itu kan harus diputar lagi buat beli barang," ujarnya.

Pelanggannya beragam, mulai dari anak-anak muda yang baru pulang nongkrong, bapak-bapak yang sedang ronda, hingga para pengemudi ojek online (ojol) dengan mata merah menahan lelah.

Salah satu wajah yang paling akrab adalah seorang pengemudi ojol, Agus. Di keheningan pukul tiga pagi, Agus kerap memarkir motornya di depan warung. Tujuannya bukan sekadar membeli korek api atau menyeduh kopi, melainkan mencari kehangatan interaksi.

Duduk di depan etalase, menghisap rokok, dan lima menit berbincang bersama suami Entin sudah cukup bagi Agus untuk mengusir kantuk sebelum kembali menembus jalanan ibu kota.

Misteri dari Balik Etalase dan Ketakutan

Menjaga warung 24 jam bukan hanya soal menguji daya tahan fisik, tetapi juga mental. Sesekali, warung ini menjadi saksi pertemuan antara dunia manusia dan “mereka” yang tak kasat mata.

Suatu malam, sekitar pukul 02.00 dini hari, ketenangan dipecahkan oleh suara yang sangat pelan.

"Beli, Pak..." suara itu menyapa.

Namun, saat suami Entin bergegas ke depan etalase untuk melayani, jalanan kosong melompong. Hanya ada hembusan angin malam.

Di hari lain, saat Entin sedang menemani suaminya berjaga, sebuah botol minum di atas meja tiba-tiba bergeser dengan sendirinya, jelas di depan mata kepalanya sendiri.

"Reaksi saya awalnya merinding," akuinya.

Namun, darah perantau yang gigih membuatnya tidak mudah menyerah pada rasa takut.

“Saya langsung bilang dalam hati, 'Saya cari nafkah di sini, jangan diganggu. Kita sama-sama makhluk Tuhan.' Setelah itu suasana kembali tenang,” ungkapnya.

Namun, di balik kisah-kisah mistis yang membuat bulu kuduk berdiri, Entin menyimpan ketakutan yang jauh lebih nyata.

"Sebenarnya yang paling seram itu orang jahat, Mbak. Kayak begal di malam hari. Saya lebih takut sama manusia yang jahat dibandingkan setan-setan," ungkapnya.

Beruntung, lingkungan di daerah Tebet tempatnya berniaga terbilang aman. Hubungan baik yang ia jalin dengan para pemuda dan warga setempat membuat warung itu seolah memiliki “pelindung” dari tindak kejahatan.

Sebuah Harapan di Ujung Fajar

Di dalam warung, tumpukan mi instan dan rentengan kopi masih menunggu setia pembeli berikutnya. Uang ribuan dan puluhan ribu yang lecek kembali berpindah tangan.

Di balik putaran uang receh dan mata yang kurang tidur, Entin dan suami memelihara asa yang tak diukur nilainya. Harapannya tidak muluk-muluk: ia ingin warungnya terus bertahan dan suatu hari mampu membuka cabang di tempat lain.

Namun, doa terbesarnya selalu bermuara pada anak-anaknya.

“Saya pengen anak saya sekolah tinggi. Biar kelak dia tidak perlu menjaga warung sampai pagi kayak orang tuanya,” ungkapnya.

Bagi Entin dan suaminya, biarlah mereka yang menanggung beratnya malam. Biarlah suaminya terus berteman dengan asap rokok, dinginnya embun, dan cerita-cerita dari balik etalase.

Semua itu mereka jalani dengan ikhlas, demi memastikan anak-anak kelak bisa menyambut masa depan di bawah sinar matahari yang paling cerah.

Di warung Madura 24 jam ini, di sudut jalanan Tebet yang tak pernah lelap, cinta orang tua kepada anaknya dibayar tunai dengan terjaga sepanjang malam.

Reporter: Tsabita Aulia

Load More