- Indonesia mencatat 8.224 kasus campak dengan 21 KLB di berbagai provinsi selama periode Januari hingga Februari 2026.
- Virus campak sangat menular melalui droplet di udara dan permukaan benda sehingga mengancam kesehatan anak-anak dan keluarga.
- Masyarakat meningkatkan upaya pencegahan melalui perilaku hidup bersih, penggunaan masker, serta produk kebersihan Wings Group.
Suara.com - Pagi belum sepenuhnya terang ketika Yuli sudah sibuk dengan rutinitasnya. Tangan kanannya bergerak cepat, menggenggam gagang pel, menyusuri setiap sudut lantai rumah yang masih lembap oleh embun dini hari.
Sesekali ia berhenti, membilas kain pel yang mulai menghitam dalam ember berisi air bercampur cairan pembersih lantai. Ia ingin memastikan tak ada celah bagi kuman dan virus untuk bertahan di rumahnya.
"Cairan pembersih ini dicampur air panas, lantainya jadi tambah bersih, keset gitu. Sudah pasti virus mati semua," ujar Yuli saat berbincang dengan Suara.com, Rabu (1/4/2026).
Belum sempat beristirahat, Yuli beranjak ke kamar mandi. Dua ember besar berisi pakaian keluarga sudah menunggu. Ia menuangkan deterjen, mengucek satu per satu pakaian dan membilasnya dengan telaten.
Kini, mencuci bukan sekadar rutinitas domestik, melainkan bagian dari upaya perlindungan. Baginya, setiap serat kain harus bersih, bukan hanya dari noda, tetapi juga dari potensi ancaman tak kasatmata.
Sejak awal 2026, kecemasan itu tumbuh perlahan namun pasti. Kabar peningkatan kasus campak di berbagai daerah membuat Yuli semakin waspada. Di Kabupaten Tangerang, tempat ia tinggal, lebih dari seribu kasus tercatat hingga Februari 2026.
Secara nasional, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Dalam kurun 1 Januari hingga 23 Februari 2026, tercatat 8.224 kasus campak. Sebanyak 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak muncul di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, 13 KLB telah terkonfirmasi secara laboratorium, dengan konsentrasi tertinggi di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Bagi Yuli, angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia langsung teringat pada kedua anaknya yang masih rentan. Anak sulungnya duduk di bangku kelas lima SD, sementara si bungsu baru berusia empat tahun. Di usia tersebut, risiko terpapar campak masih tinggi, terutama dengan aktivitas harian yang tak terhindarkan.
Kekhawatiran itu semakin besar mengingat pekerjaan suaminya sebagai pengemudi ojek online. Setiap hari, sang suami bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Mobilitas tinggi itu menjadi jalur potensial bagi virus untuk masuk ke rumah.
“Mobilitas suami tinggi banget, ketemu banyak orang. Takut bisa bawa virus pulang ke rumah dan menulari anak-anak,” ujarnya.
Tak hanya itu, anak pertamanya yang aktif mengikuti ekstrakurikuler pencak silat di sekolah juga berada dalam lingkungan dengan interaksi tinggi. Ruang kelas, halaman sekolah, hingga aktivitas bersama teman sebaya menjadi titik-titik yang sulit dikontrol sepenuhnya.
Di tengah situasi tersebut, Yuli merasa perannya sebagai ibu menjadi semakin krusial. Ia tak memiliki kuasa untuk mengendalikan dunia di luar rumah, tetapi ia bisa memastikan rumahnya menjadi ruang yang aman. Dari situlah rutinitas bersih-bersih menjadi lebih intens bahkan cenderung ketat.
Kebiasaan hidup bersih dan sehat sebenarnya sudah ia bangun sejak pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Namun kini, kebiasaan itu kembali ia perkuat, seiring munculnya ancaman baru yang tak kalah serius.
Setiap hari, ia memastikan lantai rumah dipel dengan cairan pembersih berdisinfektan. Pakaian keluarga dicuci menggunakan deterjen yang tidak hanya menghilangkan noda, tetapi juga membantu membunuh kuman dan virus. Bagi Yuli, ini bukan soal berlebihan, melainkan bentuk perlindungan yang realistis di tengah keterbatasan.
Dalam kesehariannya, ia mengandalkan produk seperti SoKlin Antisep untuk mencuci pakaian. Soklin Antisep adalah deterjen pertama di Indonesia yang menggabungkan deterjen dan disinfektan. Teknologi O2 active power terbukti 99,99 persen efektif membunuh virus, kuman dan bakteri yang menempel di pakaian dibanding deterjen biasa. Yuli mengenal produk ini sejak pandemi Covid-19 dan terus memakainya sampai saat ini untuk perlindungan seluruh keluarga.
Berita Terkait
-
Cegah Campak hingga ISPA, Bulan Suplementasi Vitamin A Akan Berlangsung Selama Agustus
-
Kasus Campak Sudah Turun 93 Persen, Namun Risiko Penularan di Sekolah Masih Ada
-
Ancaman Penyakit Menular di Piala Dunia 2026: Dari Campak hingga Ebola
-
"Anak Saya Sehat, Perlu Vaksin?" Ini Alasan Mengapa Anggapan Itu Bisa Berbahaya
-
Viral Penonton Konser F4 Nekat Datang saat Idap Campak, Kemenkes sampai Turun Tangan
Terpopuler
- Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
- 8 Sepatu Jalan untuk Komuter KRL dan MRT yang Empuk dan Awet
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Salah Pilih Klub? Pemerintah Serang Rayo Vallecano: Klub Gak Mampu
- Perbedaan Sunscreen Sejuta Umat Azarine vs Facetology, Bagus Mana?
Pilihan
-
Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar
-
Api Masih Merah! 105 Personel Cari Korban Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang yang Terjebak
-
Kebakaran Melanda Apartemen Pavilion Tanah Abang, Petugas Sisir Penghuni Terjebak
-
Privilese TNI dari Suku Dayak Diduga Cara Rezim Amankan Ekspansi Bisnis Hutan
-
Sudah dari 2023, 'Nyelang' Jadi Napas Warga Pesisir Cilincing Demi Dapatkan Air Bersih
Terkini
-
Felix TJ: Menjaga Kopi Indonesia Tetap Punya Rasa, Cerita, dan Tradisi
-
Mengenal Tiga Karakter Daging Sapi Australia dan Cara Tepat Mengolahnya
-
Bupati Nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Bantah Dakwaan Pemerasan dan Gratifikasi
-
Bayi Perempuan Ditemukan dalam Tas di Gang Karawang, Polisi Amankan Dua Orang
-
Dari Desa, Imigrasi untuk Rakyat, 171 Desa Binaan Jadi Benteng Awal Cegah TPPO
-
Bareskrim Rampungkan Perkara TPPU Direktur PT Indosterling, Berkas SWH P-21
-
Viral Tudingan soal Mantan Istri Polisi di Sumut, Akun Medsos Dilaporkan
-
Java United FC Tak Gentar Mulai Liga dengan Minus Dua Poin
-
Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
-
Eks Perawat Culik Bayi di RS Medan Secara Acak untuk Dijual ke Pasutri, Ini Kronologisnya