- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons skandal laporan fiktif parkir liar menggunakan teknologi AI di Kalisari, Jakarta Timur.
- Inspektorat DKI Jakarta sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengungkap aktor intelektual di balik pemalsuan bukti foto tersebut.
- Pramono menegaskan pemeriksaan tetap berjalan bagi pihak terkait guna menjaga integritas dan akuntabilitas sistem pelaporan publik Jakarta.
Suara.com - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung memberikan respons tegas terkait skandal laporan fiktif penanganan parkir liar melalui aplikasi JAKI di Kalisari, Jakarta Timur baru-baru ini.
Kasus tersebut menjadi sorotan publik lantaran oknum petugas diduga menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memalsukan bukti laporan.
Pramono mengonfirmasi bahwa foto yang diunggah sebagai bukti tindak lanjut laporan warga tersebut memang hasil manipulasi teknologi.
Saat ini, pihak Inspektorat DKI Jakarta sedang dikerahkan untuk melakukan investigasi mendalam guna mengungkap siapa aktor intelektual di balik aksi culas tersebut.
"Semuanya nanti pada saatnya pasti akan ketahuan," ujar Pramono di Balai Kota, Selasa (7/4/2026).
Meskipun petugas PPSU setempat telah dijatuhi sanksi Surat Peringatan 1 (SP 1), Pramono merasa keberatan jika seluruh kesalahan ditimpakan kepada satu pihak.
Fokus penyelidikan kini diarahkan untuk mencari pengunggah pertama dan pembuat foto manipulatif tersebut, agar permasalahan menjadi terang benderang.
"Kalau kemudian menyalahkan ke PPSU juga nggak bisa. PPSU-nya pasti bukan orang yang melakukan atau memanipulasi tentang AI-nya. Yang saya minta untuk dicari, siapa yang melakukan AI-nya itu dan kemudian yang meng-upload-nya," tegas Pramono.
Politisi senior ini juga memastikan bahwa proses pemeriksaan terhadap jajaran kelurahan hingga suku dinas terkait tetap berjalan, meski permohonan maaf telah terlontar.
Baca Juga: Manipulasi Laporan JAKI Pakai AI, Lurah Kalisari Dipanggil Inspektorat DKI Gegara Ulah Petugas PPSU
Pramono menginginkan adanya transparansi dan akuntabilitas agar integritas sistem pelaporan publik di Jakarta tidak tercederai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Saya tetap minta untuk Inspektorat mendalami hal ini," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Kader PSI Kalsel Desak Jokowi Segera Dilantik Jadi Ketua Dewan Pembina, Begini Respons Kaesang
-
Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami
-
Dikritik Bambang Pacul, Ahmad Muzani Tegaskan Berangkat ke Iran sebagai Utusan Khusus Presiden
-
Tarif TransJakarta Mau Naik, Akankah Warga Kembali Memilih Kendaraan Pribadi?
-
Roy Suryo Siapkan Praperadilan Kedua Usai Menang Sebagian di PN Jaksel, Kini Gugat Status Tersangka
-
Update 14 Tersangka Baru Kasus Daycare Little Aresha: 1 Tersangka Mangkir dari Pemeriksaan Polisi
-
Menang Sebagian, Roy Suryo Kini Incar Pembatalan Status Tersangka di Praperadilan Kedua
-
API Sebut Rezim Hari Ini Tak Prioritaskan Agenda Perlindungan Perempuan
-
Tak Semua Dikabulkan, Ini 3 Poin Gugatan Praperadilan Roy Suryo yang Ditolak Hakim
-
Kisah Ramayana Satukan RI-India, Puan Ajak PM Modi Jaga Dunia Melintasi Lautan