- Masyarakat pesisir Lombok Timur berkomitmen memulihkan ekosistem mangrove guna mencegah banjir rob.
- Pemerintah desa menerbitkan aturan perlindungan mangrove dan membentuk kelompok pengawas untuk mencegah penebangan liar.
- Program rehabilitasi melalui teknik guludan telah berhasil menanam puluhan ribu pohon mangrove.
Suara.com - Salah satu desa di pesisir Kabupaten Lombok Timur, NTB, kini bersiap menyambut wajah baru. Masyarakat di sana kekinian mulai menunjukkan komitmen nyata dalam memulihkan ekosistem mangrove yang sempat terancam, demi menjaga keseimbangan alam dan ruang hidup mereka.
Sekretaris Desa setempat, Bambang Nurdiansyah, mengatakan masyarkat sudah mulai sadar salah satu penyebab banjir rob karena adanya ekosistem yang rusak.
Masyarkat kata Bambang, juga sudah mulai berkomitemen menjaga lingkungan setelah mendapat edukasi dan pendampingan dari Wahan Visi Indonesia (WVI) sejak Mei 2024.
"Dengan adanya edukasi dari teman-teman Wahana Visi, barulah ada kesadaran 'oh ternyata dampak dari kakek buyut kita yang (dulunya) punya kerjaan tebang akhirnya kita yang kena'," ujar Bamang usai meresmikan wisata Mangrove Seruni di Kabupaten Lombok Timur, Rabu (8/4/2026).
"Di situ kita berpikir jangan sampai besok anak cucu kita yang kena. Kita investasi sekarang mulai penanaman (mangrove) kita dukung," katanya menambahkan.
Bambang menuturkan yang terpenting kekinian pola pikir warganya sudah mulai berubah dan lebih peduli dengan lingkungan.
Lebih lanjut, Bambang menyampaikan sebelum WVI masuk ke desa, warga setempat masih kerap melakukan penebangan mangrove.
"Setelah ada kegiatan (bersama WVI) ini, terus kita sudah SK-kan area restorasi mangrove dan pengembangan ekowisata ada Perdes-nya," kata dia.
Untuk mencegah adanya masyarkat bandel, pemerintah desa setempat juga telah membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).
Baca Juga: Telkom Galakkan Penanaman Mangrove di Pesisir Semarang Lewat Program Ayo Beraksi
Setiap hari, khususnya pada sore mereka bergantian patorli mengecek apakah ada penebangan pohon mangrove atau tidak.
"Sudah keliling Pokmaswas. Setiap sore keliling apakah masih ada yang ini (nebang). Kita juga tempel spannduk (berisi informasi dilarang menebang pohon). Itu salah satu pencegahan," kata dia.
Dulu Tebang Pohon
Di tempat yang sama, Kepala Dusun setempat, Lukman, menuturkan sebelum WVI melalui Mangrove Adaptive and Resilient Village for Enhanced Livelihoods (MARVEL) masuk kebanyakan masyrakat memanfaatkan pohon mangrove sebagai bahan bakarnya hingga digunakan untuk peralatan sampan.
"Jadi membuat mangrove kita cepat rusak," ujar Lukman.
Menurutnya, dengan hadirnya WVI melalui edukasi dan pendampinganya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingya menjaga kelestarian mangrove. Setelah itu masyarkat saat ini juga banyak melakukan kegiatan penanaman mangrove, terlebih program ini didukung penuh oleh pemerintah desa.
Berita Terkait
-
Sempat Rusak Diterjang Banjir, Wisata di Lombok Timur Dibuka dengan Wajah Baru!
-
Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?
-
Telkom Galakkan Penanaman Mangrove di Pesisir Semarang Lewat Program Ayo Beraksi
-
Ada Mangrove si Benteng Alami: Kenapa Suka Solusi Instan Jangka Pendek?
-
Fenomena Bulan Baru Bisa Picu Banjir Rob, 12 Wilayah Jakut Masuk Status Waspada hingga 16 Februari
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Mendagri Pastikan Pascabencana Sumatera Masuk Tahap Pemulihan, Anggaran Rp100,1 Triliun Disiapkan
-
Renduk Pemulihan Pascabencana Himpun 11.512 Kegiatan, Ini Skala Prioritasnya
-
Standardisasi Kemasan Rokok, Kebijakan Kesehatan atau Ancaman Ekonomi Rakyat?
-
Tak Pandang Bulu! Bareskrim Akui Anggota Polisi Berinisial AFH Terseret Kasus Narkoba B Fashion
-
Sambil Terisak, Megawati Tegaskan Indonesia Haramkan Hubungan Diplomatik dengan Israel
-
Uang Negara Menguap Triliunan! Kejagung Didesak Bongkar Mafia di Balik Investasi Telkomsel ke GoTo
-
Geger! Kafe AfterHour di Poins Square Hangus Dilalap Sijago Merah, Satu Karyawan Jadi Korban
-
Teka-teki 9 Kotak Jam Mewah Fadia Arafiq, KPK Buru Sisa Rolex yang 'Hilang' dari Wadahnya
-
Waspada Lewat S. Parman! Begal Modus Polisi Gadungan Gentayangan, Tuduh Korban Bawa Narkoba
-
Lingkaran Setan Kekerasan, 70 Persen Ayah yang Memukul Ternyata Pernah Jadi Korban Masa Kecil