Suara.com - Sebuah penelitian internasional yang diterbitkan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution menyoroti adanya hambatan kritis dalam pemanfaatan ekosistem karbon biru (blue carbon ecosystems (BCEs)) untuk mengatasi perubahan iklim global. Studi ini melibatkan tim peneliti lintas negara, termasuk dari Universitas St Andrews, RMIT Australia, dan International Atomic Energy Agency (IAEA).
Dikutip dari phys.org, laporan ini merumuskan agenda global yang bertujuan mempercepat kemajuan di bidang blue carbon ecosystems. Melalui identifikasi pertanyaan-pertanyaan yang paling mendesak, penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para pengambil kebijakan dalam mengelola ekosistem pesisir secara lebih efektif dan adil di seluruh dunia.
Kesenjangan Potensi dan Implementasi Nasional
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam penelitian tersebut, ekosistem karbon biru memiliki kapasitas untuk mengimbangi sekitar 1% hingga 3% dari total emisi gas rumah kaca global melalui upaya konservasi dan restorasi yang tepat. Namun, pemanfaatan potensi ini dinilai belum optimal jika dilihat dari integrasi kebijakan di berbagai negara.
Data menunjukkan bahwa dari seluruh negara yang memiliki potensi signifikan untuk berkontribusi pada mitigasi iklim, hanya sekitar 20% yang saat ini memasukkan komponen karbon biru ke dalam Laporan Inventaris Nasional mereka. Hal ini menandakan bahwa terdapat celah yang signifikan dalam pemenuhan peluang yang ditawarkan di bawah kerangka Perjanjian Paris. Kemajuan teknologi dalam pengukuran stok dan fluks karbon yang telah berkembang turut mendorong minat global serta mempercepat upaya penelitian, memperkuat hubungan antara sains, kebijakan, dan tindakan di lapangan.
10 Pertanyaan Prioritas
Makalah ini disusun melalui latihan penetapan prioritas yang melibatkan peneliti dari 15 institusi berbeda. Proses ini mencakup kontribusi dari akademisi senior, peneliti muda, hingga masyarakat adat untuk memastikan keberagaman perspektif.
Dari total 116 submisi yang masuk, para ahli menyaring dan menetapkan sepuluh pertanyaan penting yang akan mendefinisikan arah riset karbon biru di masa depan. Fokus utama dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup mekanisme pengelolaan ekosistem pesisir dalam skala besar, integrasi perlindungan habitat melalui dukungan terhadap mata pencaharian masyarakat lokal, dan penguatan bukti ilmiah untuk mendukung tata kelola kawasan konservasi yang kredibel.
Penulis utama, Profesor Peter Macreadie dari RMIT Australia menyatakan bahwa bidang ini telah mengalami pergeseran cepat menuju fokus pada implementasi, tata kelola, dan kesetaraan. Hal ini menuntut adanya kesepakatan internasional mengenai langkah-langkah yang paling krusial untuk diambil dalam waktu dekat.
Baca Juga: Bukan Hanya Pepohonan, Tanah Hutan Tua Ternyata Penyimpan Karbon Terbesar di Bumi
Integrasi Pengetahuan Tradisional dan Kolaborasi Multilateral
Salah satu poin penting yang juga ditekankan dalam studi ini adalah penggabungan antara pengetahuan ekologi tradisional dengan data akademis. Dr. Hannah Morrissette dari Smithsonian Environmental Research Center mencatat bahwa pelestarian ekosistem karbon biru harus didasarkan pada konteks lokal agar mencapai efektivitas maksimal. Strategi yang kuat secara ilmiah perlu berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Salah satu penulis, Profesor Pere Masque-Barri, dari International Atomic Energy Agency (IAEA) mengatakan bahwa dari 30 ilmuwan di seluruh dunia ini memungkinkan para peneliti untuk mengembangkan peta jalan internasional dalam penelitian karbon biru, yang mencerminkan komitmen IAEA terhadap penelitian kelautan tingkat tinggi dan pembangunan kapasitas di seluruh dunia.
Desakan Aksi
Penelitian ini dipublikasikan ketika dunia melewati titik tengah Dekade Ilmu Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pembangunan berkelanjutan. Profesor William Austin menekankan bahwa kebutuhan akan kerja sama multilateral saat ini menjadi lebih mendesak dibandingkan sebelumnya guna memastikan perlindungan dan pemulihan habitat karbon biru di seluruh dunia dapat berjalan sesuai target mitigasi iklim global.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Viral Tuduhan Buang Sampah ke Kali Pesanggrahan, DLH DKI: Itu Titik Penampungan Resmi
-
Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
-
Pulau Terancam Diduduki, Iran Beri Peringatan Keras kepada Negara-Negara Tetangga
-
Krisis PPPK di NTT: 9.000 Pegawai Terancam Putus Kontrak Masal
-
Di Balik Cloud Storage, Ada Biaya Lingkungan yang Harus Kita Bayar
-
Jerman 'Impor' Tenaga Kerja India: Solusi di Tengah Tsunami Pensiun
-
Tak Masalah Dilaporkan ke Dewas KPK, Deputi Penindakan dan Eksekusi: Bentuk Kepedulian Masyarakat
-
Israel Perluas Serangan ke Lebanon, Begini Sejarahnya!
-
Mutasi Kabais Tak Transparan, Imparsial Cium Upaya Putus Rantai Komando di Kasus Andrie Yunus
-
Efek Perang Iran: Kim Jong Un Makin Yakin Nuklir Adalah Kunci Selamat