News / Nasional
Kamis, 09 April 2026 | 06:17 WIB
Emak-emak yang tergabung dalam Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) di salah satu Desa di Lombok Timur, NTB. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)
Baca 10 detik
  • Wahana Visi Indonesia menginisiasi program ASKA di Lombok Timur untuk membantu pengelolaan keuangan ibu rumah tangga nelayan.
  • Anggota ASKA rutin menabung melalui sistem saham setiap bulan untuk keperluan hari raya dan dana bantuan sosial.
  • Program ini berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota sekaligus menjadi sarana dukungan sosial saat para suami sedang melaut.

Suara.com - Puluhan emak-emak yang tergabung dalam Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) di salah satu Desa di Lombok Timur, NTB, tampak senang. Terlebih, menjelang pembagian uang yang sudah ditabung.

Program ASKA yang diinisiasi oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) ini telah mengubah cara pandang mereka terhadap uang dan kebersamaan.

Tabungan yang mereka sebut sebagai menabung saham memiliki aturan main. Di mana untuk kelompok ASKA yang diketuai Ibu Mastah memiliki 22 anggota.

Mastah menuturkan di kelompok mereka disepakati hasil tabungan yang dikumpulkan setiap tanggal 15 dan 28 setiap bulannya akan diakumulasikan satu tahun sekali dan dibagikan saat menjelang hari raya idul fitri atau lebaran.

"Kita sudah dua tahun, kita bagi setiap bulan puasa," ujar Mastah saat berbincang dengan Suara.com dan dua jurnalis nasional lain di Lombok Timur, NTB, Rabu (8/4/2026).

Sejumlah anggota Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) di salah satu Desa di Lombok Timur, NTB. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)

Adapun kebanyakan dari anggota ini memanfaatkan uang hasil menabung saham yang sudah dikumpulkan selama setahun digunakan untuk keperluan lebaran. Di antaranya membeli baju anak.

Ia kemudian menjelaskan istilah saham yang dipakai. Di mana satu saham senilai Rp10 ribu, dan maksimal hanya boleh beli 20 saham dalam satu bulan atau senilai Rp200 ribu setiap anggota.

Setiap tanggal 15 dan 28 setiap bulannya, 22 warga yang menjadi anggota ASKA berkumpul di rumah Mastah saat sore hari.

Para anggota bisa membeli saham sesuai dengan kemampuan keuangan masing masing di dua tanggal tersebut.

Baca Juga: Bukan Kekenyangan, Tiga Alasan Ini Bikin Siswa Ogah Habiskan Makan Bergizi Gratis

"Nanti setiap tahun ada yang dapat sampai Rp2 juta, Rp3 juta (setiap tahunya)," kata dia.

Selain menabung dengan istilah beli saham, anggota ASKA di sini setiap kumpul di dua tanggal tersebut juga diwajibkan menyetorkan Rp2 ribu, atau Rp4 ribu setiap bulannya untuk dana sosial.

Dana tersebut nantinya bisa digunakan apabila ada keluarga dari kelompok yang sakit atau terkena bencana.

Uniknya, pembelian saham tidak bisa melalui transfer bank. Hal ini karena ada kesepakatan bersama sekaligus menjadi ajang kumpul ibu-ibu yang mayoritas suaminya bekerja sebagai nelayan.

Selain itu, para anggota di kelompok ini juga bisa mengajukan pinjaman apabila ada kebutuhan mendesak.

Hanya saja disepakati ada bunga yang dibebankan 5 persen, dimana uang dari bunga pinjaman tersebut nantinya akan digunakan untuk keperluan kelompok ini berdasarkan kesepakatan.

"Ada yang minjam ada bunganya. Nantinya kita bagi bersama," kata dia.

Sejumlah anggota Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) di salah satu Desa di Lombok Timur, NTB. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)

Benteng Sosial Saat Suami Melaut

Lebih dari sekadar simpan pinjam, ASKA menjadi ruang aman bagi para istri nelayan. Mengingat suami mereka kerap pergi melaut hingga 15 hari lamanya, para ibu ini harus saling mengandalkan satu sama lain.

"Karena di sini jarang ada laki-laki, makanya kita senang sering kumpul sama ibu-ibu," ucap Mastah.

"Kan suami kita 15 hari baru pulang, cuma 3-4 hari di rumah berangkat lagi," katanya menambahkan.

Ia menuturkan kebanyakan anggota di kelompok ini sudah seperti keluarga, di mana apabila ada anggota yang sakit akan diantar berobat oleh tetangga perempuan apabila suami sedang mencari ikan di laut.

"Gak ada anak lapar, kalau ibu pergi bapak gak ada minta bantuan ke kita," kata dia.

Selain itu mereka memastikan jika nantinya sudah tidak didampingi oleh WVI maka 'tabungan saham' yang kekinian sudah berjalan dua tahun akan terus dilanjutkan.

"Tetap lanjut. Serunya tuh pas mau pembagian buat beli baju lebaran, dan kita bisa bukber sama kelompok, seru kumpul," kata dia.

Perbedaan Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) dengan simpan pinjam lain. (Foto dok. WVI)

Kehadiran ASKA juga menjadi oase di tengah ancaman rentenir atau yang warga lokal sebut sebagai "bank rontok". Sebelum ada program ini, ada warga desa terjerat pinjaman cepat dengan bunga selangit yang justru mencekik ekonomi mereka.

"Bunganya besar di bank rontok. Kalau pinjam ke sana Rp1 juta misal, tapi gak dapat Rp1 juta, dan ada bunga di bank rontok," kata dia.

Project Coordinator MARVEL East Lombok, Maria Natalia Pratiwi, menuturkan di desa ini pihaknya membina 5 kelompok ASKA.

Sejak awal memang kata dia, sudah dibuat aturan atau SOP ada batasan pembelian saham di setiap bulannya, tujuannya agar tidak ada dominasi antara anggota satu dengan yang lain. Setiap pembelian saham juga akan tercatat dalam buku oranye tabungan saham.

"Minimal satu setiap kali pertemuan Rp10 ribu, maksimal Rp100 ribu agar gak dominan, dibagikan tergantung kesepakatan," katanya.

Selain itu untuk satu kelompok ASKA dibatasi, maksimal hanya boleh berisikan 25 anggota.

Nantinya apabila ada warga sekitar yang tertarik tapi di satu kelompok ASKA sudah penuh akan disarankan untuk membentuk kelompok baru.

"Efektifnya 10-22 kelompok berdasarkan ketua kelompok sanggup enggak," jelas dia.

Keamanan uang pun dijaga dengan sistem brankas fisik. Menariknya, kunci brankas tidak dipegang oleh bendahara, melainkan oleh anggota lain, menciptakan sistem check and balance yang jujur.

Load More