- Mia Khalifa mengecam keras serangan udara Israel dan Amerika Serikat terhadap infrastruktur sipil di Lebanon pada Kamis, 9 April.
- Serangan tersebut menghantam pemukiman hingga rumah sakit di Lebanon, meski sebelumnya sempat diumumkan kesepakatan gencatan senjata oleh Pakistan.
- Eskalasi militer ini menyebabkan sekitar 250 orang tewas serta memicu penutupan Selat Hormuz oleh pemerintah negara Iran.
Suara.com - Aktivis dan figur publik, Mia Khalifa, memberikan reaksi yang sangat keras terhadap serangan agresi Israel dan Amerika Serikat terhadap tanah kelahirannya, Lebanon.
Dalam video emosional yang diunggah di platform media sosialnya, Kamis (9/4), perempuan berusia 33 tahun ini secara tegas mengatakan AS serta Israel adalah negara teroris fasis melalui serangan udara besar-besaran yang menyasar infrastruktur sipil Lebanon.
Pernyataan ini muncul menyusul laporan mengenai salah satu serangan udara paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir, di mana ratusan rudal menghantam wilayah Lebanon hanya dalam hitungan menit.
Mia Khalifa, yang selama ini vokal menyuarakan isu-isu kemanusiaan di Timur Tengah, mengakui bahwa peristiwa ini adalah salah satu momen paling traumatis yang pernah ia saksikan melalui media sosial.
Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Khalifa tidak menahan diri dalam memberikan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri AS dan tindakan militer Israel.
Ia secara terbuka menyebut kedua negara tersebut sebagai entitas yang melakukan kejahatan perang secara sistematis.
“Ini tak lain adalah terorisme yang dilakukan oleh dua negara, yang kejahatan perangnya sama persis. AS dan ISrael adalah negara teroris dan fasis, yang suatu hari nanti akan diadili di Den Haag," tulis Mia Khalifa dalam keterangan videonya, dikutip hari Jumat (10/4/2026).
Dalam video yang dibagikannya, Khalifa tampak menangis. Ia menyoroti skala kehancuran yang terjadi, terutama karena serangan tersebut dilaporkan mengenai area pemukiman, fasilitas pendidikan, hingga rumah sakit, tepat di tengah kabar adanya kesepakatan gencatan senjata.
“Hari ini adalah salah satu hal tersulit untuk disaksikan dalam waktu yang sangat lama di media sosial. Itu sudah cukup menggambarkan betapa mengerikannya peristiwa in, karena kita telah menyaksikan genosida terjadi di depan mata kita selama beberapa dekade, terlebih lagi dalam tiga hingga empat tahun terakhir," kata mantan artis film dewasa ini.
Baca Juga: Iran Bakal Bombardir Israel Jika Tetap Langgar Gencatan Senjata di Lebanon: Waktu Hampir Habis!
Sebagai orang yang kini menjadi warga negara AS, Mia Khalifa merasa kecewa karena uang pajak darinya ikut membiayai pengeboman tanah kelahirannya.
"160 serangan udara dalam 10 menit terhadap bangunan tempat tinggal, sekolah, rumah sakit, infrastruktur sipil, pemakaman dengan prosesi pemakaman, di tengah gencatan senjata. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa menerima uang pajak saya digunakan untuk hal ini di tanah air saya.”
Situasi 'Dystopian' di Tengah Krisis Kemanusiaan
Lebih lanjut, Mia Khalifa mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap paradoks dunia modern.
Ia merasa dunia saat ini berada dalam kondisi dystopian atau distopia, di mana kemajuan teknologi ruang angkasa berjalan beriringan dengan kehancuran kemanusiaan di bumi.
“Aku tidak, seperti, aku merasa sangat penting untuk berada di sini dan untuk berbicara serta mengatakan ini, tetapi aku benar-benar kehilangan kata-kata. Kita mengirim orang untuk mengamati kehidupan di bulan sementara kita saling membom. Ini distopia,” tuturnya.
Berita Terkait
-
Iran Bakal Bombardir Israel Jika Tetap Langgar Gencatan Senjata di Lebanon: Waktu Hampir Habis!
-
Donald Trump Peringatkan Iran Stop Pungutan di Selat Hormuz
-
Mojtaba Khamenei Tegaskan Tidak Mau Perang Tapi Tetap Pertahankan Seluruh Hak Bangsanya
-
Harga Minyak Dekati Level 100 Dolar: Selat Hormuz Mencekam di Tengah 'Drama' Trump-Iran
-
Mojtaba Khamenei Klaim Kemenangan Iran Atas Amerika Serikat, Siapkan Strategi Baru di Selat Hormuz
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Championship 2026/2027 Resmi Dimulai, PSIS Semarang vs PSPS Pekanbaru Jadi Laga Pembuka
-
Banyak Sosok yang Masih Rangkap Jabatan di Jajaran Manajemen DSI
-
Geledah Rumah Hingga Kantor Rektorat Unsoed, Penyidik Temukan SE KPK Tahun 2023
-
Ragamuda 2026: Parade Budaya dan Unjuk Bakat Pelajar Lintas Daerah Getarkan Jantung Jakarta
-
Herman Deru Klaim Karhutla Sumsel Menurun, Tapi Kabut Asap Masih Bertahan di Palembang
-
Inovasi Integritas Antarkan Kampung Doyo Baru Masuk Jajaran Desa BRILiaN Unggulan
-
Rekening Aktivis Diblokir, Bentuk Pola RepresiBaru Gerakan Rakyat
-
Pengangguran Tinggi di Papua Picu Gerakan Sipil dan Instabilitas
-
Kehilangan Binar Masa Kecil: Apakah Menjadi Dewasa Berarti Berhenti Bermimpi?
-
Kucing Merah di Ujung Tanduk: Hutan Kalimantan Terus Kehilangan Penghuninya