- KONEKSI meluncurkan buku Echoes of Partnership berisi 20 proyek riset kolaborasi Indonesia dan Australia terkait perubahan iklim.
- Perempuan terbukti berperan vital melindungi hutan dan menjaga ekosistem dalam pengelolaan perhutanan sosial di berbagai wilayah Indonesia.
- Riset menekankan pentingnya keterlibatan kelompok rentan dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan solusi iklim yang lebih inklusif.
Suara.com - Perempuan memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan hutan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi krisis iklim. Dalam banyak praktik perhutanan sosial di Indonesia, perempuan bahkan kerap berada di garis depan dalam melindungi ekosistem hutan dari berbagai ancaman.
Peran tersebut menjadi salah satu sorotan dalam buku Echoes of Partnership yang diterbitkan oleh KONEKSI (the Australia–Indonesia Knowledge Partnership Platform). Buku ini merangkum perjalanan kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Lilis Mulyani, mengatakan keterlibatan perempuan dalam pengelolaan perhutanan sosial terbukti memberikan dampak signifikan, baik terhadap keberlanjutan ekosistem maupun penghidupan masyarakat.
Hal tersebut ia temukan melalui riset berjudul Evaluating the Contribution of Social Forestry Management Rights towards Climate Proof Livelihoods of Women and Men in Indonesia yang menelaah kontribusi hak pengelolaan perhutanan sosial terhadap penghidupan perempuan dan laki-laki yang berketahanan iklim.
“Di banyak tempat terdapat women champions. Selain menjadi garda terdepan dalam melindungi hutan dari praktik illegal logging, perempuan juga berperan aktif dalam merawat dan menjaga keberlanjutan hutan,” ujar Lilis dalam peluncuran buku Echoes of Partnership di Katadata Lounge, Kamis (9/4).
Secara normatif, menurut Lilis, regulasi perhutanan sosial sebenarnya telah membuka ruang yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Hal ini tercermin dalam sejumlah kebijakan, termasuk Peraturan Menteri Kehutanan tahun 2021 dan 2024.
Namun dalam praktiknya, kesetaraan tersebut belum sepenuhnya terwujud di lapangan.
Ia menambahkan, perempuan juga memiliki kontribusi penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, sementara laki-laki cenderung lebih terlibat dalam aspek ekonomi pemanfaatan hutan. Karena itu, Lilis mendorong adanya kebijakan afirmatif, termasuk penetapan target keterlibatan perempuan dalam perhutanan sosial hingga 20–30 persen.
Selain menyoroti peran perempuan, buku Echoes of Partnership juga mengangkat pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mendorong transisi menuju ekonomi sirkular yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Baca Juga: Sentuhan Fisik untuk Perempuan: Bikin Gagal Move On atau Cuma Reaksi Oksitosin?
Peneliti Monash University, Dr. Tanvi Maheswari, menjelaskan riset bertajuk Indonesia-Australia Citarum Action Research Program (CARP) – Circular Economy Transitions for Resilient Climate and Environmental Futures berfokus pada pemulihan lingkungan Sungai Citarum.
Melalui penelitian ini, tim peneliti mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, seperti mengurangi limbah sejak awal, meningkatkan tingkat daur ulang, serta memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna.
Pendekatan tersebut tidak hanya berpotensi menekan tingkat pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Strategi yang diterapkan pun disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, mulai dari penguatan pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga di kawasan padat penduduk hingga pengembangan usaha daur ulang berbasis komunitas di daerah dengan potensi tertentu.
Tanvi menekankan bahwa keberhasilan transisi menuju ekonomi sirkular memerlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat.
“Permasalahan iklim tidak dapat diselesaikan dengan satu regulasi, karena setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Begal Urusan Polisi Bukan TNI! Koalisi Sipil Kritik Keras Watak 'Over-Reactive' Negara
-
SNBT 2026 Meledak! Nyaris 900 Ribu Orang Rebutan Kursi PTN, Masih Berani Bersaing?
-
Tok! Habiburokhman Pegang Kendali Panja Revisi UU Polri, Ini Daftar Lengkap Anggotanya
-
Sengaja Dibiarkan Membusuk! Dompet Dhuafa Bongkar Siasat Israel Hambat Bantuan Gaza
-
Alasan Menkum Supratman Tambah Usia Pensiun Polisi: Angka Harapan Hidup Orang Indonesia Panjang
-
Tangan Ditarik Sampai Bunyi 'Krek', Relawan Dompet Dhuafa Ceritakan Detik-detik Sendi Dipatahkan IDF
-
Bayang-bayang 5 Tahun Bui, Nasib Eks Wamenaker Noel Diputus Hakim Pekan Depan
-
Sentil Budaya Rangking, Menteri Abdul Muti: Membandingkan Nilai Murid Itu Pemicu Bullying
-
Sapi Kurban Jumbo Prabowo-Gibran Tiba di Istiqlal Besok, Menag: Ini Kelas Berat Satu Ton Lebih!
-
Takut Teror Susulan, Ahmad Bahar Minta Perlindungan LPSK Usai Konflik dengan Hercules