- Pakar geopolitik Dina Sulaeman memperingatkan konflik di Selat Hormuz dapat memicu krisis global pada sektor digital dan pangan.
- Iran menargetkan 17 korporasi teknologi besar Amerika Serikat yang diduga mendukung kepentingan militer dalam konflik di Gaza.
- Gangguan di Selat Hormuz berisiko mengguncang stabilitas ekonomi Amerika Serikat melalui ketergantungan pasar obligasi terhadap negara kawasan Teluk.
Suara.com - Selat Hormuz kini tidak lagi hanya dipandang sebagai jalur utama distribusi energi dunia melalui pengiriman minyak dan gas. Pakar Geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman, memperingatkan bahwa konflik di kawasan tersebut berpotensi memicu krisis global yang lebih luas, mencakup sektor digital, pangan, hingga stabilitas ekonomi Amerika Serikat (AS).
Ia menjelaskan bahwa Selat Hormuz menyimpan infrastruktur strategis berupa jaringan fiber optik yang menjadi tulang punggung teknologi dan komunikasi global. Selain itu, jalur laut ini juga menjadi lintasan penting bagi berbagai komoditas strategis yang menopang industri masa depan, seperti helium dan bahan baku pupuk.
“Jadi Selat Hormuz ini memang betul-betul penting. Tadi ada serat optik, lalu kapal yang lalu-lalang di sana tidak hanya membawa minyak dan gas, tapi juga helium yang penting untuk industri AI. Terus kemudian urea dan sulfur yang untuk pupuk dan kebergantungan dunia terhadap fertilizer,” ujar Dina dalam kanal YouTube Bambang Widjojanto, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz dapat memicu rantai krisis yang sistematis. Ketegangan di jalur tersebut berpotensi mengancam ketahanan pangan global karena terhambatnya distribusi bahan baku pupuk.
Target 17 Korporasi Teknologi AS
Selain jalur perdagangan, Dina juga menyoroti potensi eskalasi konflik di ranah teknologi. Ia menyebut Iran dikabarkan mengincar 17 korporasi teknologi besar asal Amerika Serikat yang dinilai memberikan dukungan teknologi dan kapasitas penyimpanan data untuk kepentingan militer tertentu, termasuk dalam konflik di Gaza.
Beberapa perusahaan yang disebut antara lain Amazon, Microsoft, Google, Nvidia, Meta, hingga Starlink. Dina secara khusus menyoroti perusahaan teknologi analisis data Palantir yang disebut berperan dalam sistem pengawasan berbasis teknologi.
“Palantir itu yang terkenal banget. Palantir itu sangat membantu IL dalam perangnya di Ga**, karena IL ini punya teknologi untuk mendeteksi orang-orang,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi semacam itu membutuhkan kapasitas penyimpanan data yang sangat besar, sehingga perusahaan-perusahaan teknologi global yang menyediakan infrastruktur digital turut menjadi perhatian.
Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Masuki Fase Baru Usai Mojtaba Khamenei Muncul
“Karena itu kan butuh data yang sangat besar, storage yang sangat besar. Dan yang membantu secara teknologi itu salah satunya Palantir. Nah ini salah satu yang ditarget oleh Iran juga, dalam Amazon, Microsoft, Google, Nvidia ada 17, Meta, Starlink juga,” tambahnya.
Potensi Efek Domino bagi Ekonomi AS
Dina juga menyoroti potensi dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk terhadap Amerika Serikat. Ia menilai anggapan bahwa AS tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz merupakan pandangan yang keliru jika dilihat dari perspektif ekonomi global.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa negaranya tidak terlalu membutuhkan Selat Hormuz karena memiliki cadangan minyak sendiri.
Namun menurut Dina, ketergantungan AS tidak hanya berkaitan dengan pasokan minyak, tetapi juga dengan struktur pembiayaan ekonominya yang bergantung pada pasar obligasi.
“Amerika Serikat pun misalnya kan Trump itu kan sesumbarnya gini, ‘kita nggak butuh-butuh amat tuh Selat Hormuz. Kita punya minyak sendiri’. Tapi kan kalau kita lihat ekonominya Amerika itu kan bergantung pada surat utang, obligasi. Pembelinya siapa? Pembelinya adalah negara-negara Teluk dan Eropa yang mereka semuanya juga bergantung sama Selat Hormuz,” jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Polisi: Restorative Justice Rismon Belum Diputus, Tunggu Gelar Perkara
-
Profil Liliek Prisbawono Hakim MK Pengganti Anwar Usman, Pernah Terseret Kontroversi Pemilu dan CPO
-
Andi Rahadian Resmi Jadi Dubes OmanYaman, Siap Ikuti Arahan Pusat di Tengah Isu Selat Hormuz
-
ASN WFH Diawasi Sistem Digital, Menteri PANRB: Bukan Soal Absensi Fisik
-
Pemkot Jakpus Bersihkan Ikan Sapu-sapu Perusak Turap di Kali Cideng
-
Polda Metro Tegaskan WFH Tak Berlaku, Pelayanan Polisi Tetap Berjalan
-
Lukmanul Hakim Puji Keberanian Prabowo Jaga Harga BBM di Tengah Konflik Global: Kita Angkat Topi!
-
Islah Bahrawi Nilai Prabowo Tak Sejalan dengan Gagasan di Buku Paradoks Indonesia
-
AS Kecele? Pakar Bongkar Rahasia Doktrin Mozaik: Iran Hydra, Bukan Ular yang Mati Jika Dipenggal!
-
Israel dan Lebanon Siap Negosiasi di Washington, Upaya Gencatan Senjata Menguat