-
Donald Trump mengancam China akan hadapi masalah besar jika memasok senjata kepada militer Iran.
-
Amerika Serikat mengklaim telah melumpuhkan kekuatan udara dan laut Iran secara total baru-baru ini.
-
Negosiasi damai antara JD Vance dan delegasi Iran berlangsung intens di Islamabad, Pakistan.
Meskipun tensi militer tetap tinggi, delegasi tingkat tinggi dari kedua negara mulai bertemu di Islamabad untuk mencari solusi damai.
Wakil Presiden JD Vance memimpin langsung perundingan maraton tersebut guna membahas masa depan stabilitas keamanan di wilayah Selat Hormuz.
Tim negosiasi Amerika Serikat juga melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam meja diplomasi di Pakistan.
Fokus utama Amerika adalah memastikan kelancaran distribusi energi global tanpa gangguan dari blokade militer yang sempat terjadi sebelumnya.
Nasib Aset Iran dan Penguasaan Selat Hormuz
Status aset keuangan Iran yang dibekukan di bank internasional menjadi salah satu poin krusial dalam pembicaraan diplomatik di Islamabad.
Saat ditanya oleh media Asian News International (ANI) pada Minggu (12/4/2026), Trump belum memberikan jawaban pasti mengenai pencairan dana tersebut.
"Kita akan lihat apa yang terjadi. Kita sedang dalam negosiasi mendalam dengan Iran, kita menang apa pun yang terjadi," jawabnya dengan penuh percaya diri.
Strategi Amerika Serikat saat ini lebih berfokus pada penguasaan fisik jalur perdagangan internasional di perairan strategis tersebut.
Baca Juga: Iran: Tak Ada Keistimewaan, Kapal Pertamina Bisa Bebas Jika Indonesia Negosiasi dengan IRGC
Trump menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat kini memiliki kontrol penuh terhadap arus lalu lintas logistik di jalur pelayaran dunia.
Amerika Serikat menekankan bahwa seluruh pencapaian militer dan penguasaan wilayah ini dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pakta pertahanan.
Klaim kemenangan ini menjadi dasar bagi Amerika untuk tidak merasa terburu-buru dalam mencapai kesepakatan tertulis dengan pihak Iran.
Kedaulatan ekonomi melalui pengangkutan minyak dan gas secara masif menjadi prioritas utama yang sedang dijalankan oleh armada Amerika.
Negosiasi di Pakistan diharapkan mampu menjaga gencatan senjata yang masih sangat rapuh di tengah panasnya retorika politik global.
Konflik ini memuncak setelah satu bulan agresi militer skala penuh yang melumpuhkan sebagian besar infrastruktur strategis di kawasan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Noel Ebenezer Curhat ke Istri Ingin Cepat-Cepat Divonis
-
Soal Sapi Kurban dari APBN, Gerindra: Bantuan Kemasyarakatan, Tidak Ada Aturan yang Dilanggar
-
Soroti Gaza di Hari Iduladha, JK: Dunia Harus Bersatu Rehabilitasi Palestina
-
Kurban Pakai APBN Dikritik Guntur Romli, Singgung Teladan Nabi Muhammad SAW
-
Cerita Warga Gang Haji Jeni Bangun Smart Security: Punya CCTV, Panic Button hingga GPS Tracker
-
Suhu Ekstrem Landa Inggris dan Eropa, Muncul Fenomena Kubah Panas
-
Guntur Romli Kritik Prabowo Kurban Sapi Pakai Duit Negara: Tak Ada Landasan Syar'i Gunakan APBN
-
Skandal Riset Palsu di Denmark, Gelar Akademik 3 WNI Bakal Dicabut?
-
Si Doel Janji Cari Dana Demi RT Canggih di Gandaria: Kalau Belum Ada, Kita Pikirin
-
Katanya Mau Damai, AS Kembali Serang Iran Kirim Jet Tempur