News / Internasional
Senin, 13 April 2026 | 10:39 WIB
ILUSTRASI - Kapal perang US Fifth Fleet, salah satu armada utama milik Angkatan Laut Amerika Serikat. [Naval Technology]
Baca 10 detik
  • AS dan Israel memulai blokade maritim terhadap seluruh pelabuhan Iran pada Senin, 13 April 2026, pasca kegagalan perundingan di Islamabad.
  • Kebijakan blokade ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia sebesar 7 hingga 8 persen di bursa komoditas global.
  • Garda Revolusi Iran merespons ancaman tersebut dengan peringatan keras serta kesiapan menghadapi potensi perang terbuka di wilayah perairan mereka.

Lonjakan ini menambah beban ekonomi global, mengingat Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia.

Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari, Iran secara de facto memegang kendali atas selat tersebut.

Arus lalu lintas energi melalui jalur air ini telah melambat drastis, menyebabkan kelumpuhan pada sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Iran selama ini masih mengizinkan kapal-kapalnya sendiri bergerak melalui selat, sembari memberikan akses terbatas bagi kapal negara lain.

Bahkan, pejabat Iran sempat mendiskusikan rencana penerapan sistem tol laut setelah pertempuran berakhir.

Reaksi Keras Garda Revolusi Iran

Teheran tidak tinggal diam menghadapi gertakan Washington. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras bahwa kehadiran kapal militer AS yang mendekati wilayah kedaulatan mereka adalah pelanggaran terhadap gencatan senjata yang seharusnya berlaku hingga 22 April mendatang.

Pihak IRGC menegaskan bahwa setiap upaya militer yang mendekat "akan ditindak dengan keras". Ancaman ini meningkatkan risiko konfrontasi fisik di laut yang bisa memicu perang terbuka secara luas di kawasan tersebut.

Gagalnya pembicaraan di Islamabad menjadi pemicu utama kemarahan AS. Pejabat Iran justru menyalahkan pihak Amerika Serikat yang dianggap tidak konsisten selama negosiasi.

Baca Juga: Warga Iran Terancam Kelaparan Usai AS Blokade Pelabuhan Teheran, Bahkan Ada Dampak Buruk Lanjutan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa para negosiator AS terus mengubah "tiang gawang" dan menghalangi upaya perdamaian saat nota kesepahaman sebenarnya sudah "hanya berjarak beberapa inci saja".

Kritik atas Strategi 'Gaya Hollywood' AS

Kritik tajam juga datang dari kalangan akademisi di Teheran. Zohreh Kharazmi, seorang profesor dari Universitas Teheran, menilai bahwa AS tidak memiliki otoritas moral maupun posisi yang kuat untuk mendikte perilaku Iran atau menentukan kapal mana yang boleh melintas di perairan tersebut.

Menurut Kharazmi, daya tahan Republik Islam Iran jauh melampaui perkiraan Washington. Ia memperingatkan, jika blokade ini menjadi ajang adu ketahanan antara Iran dan pasar global, maka dunia akan segera melihat siapa yang akan menanggung kerugian paling besar.

"Secara teknis, mereka (AS) tidak bisa mengendalikan situasi. Dengan strategi gaya Hollywood, mereka tidak akan bisa menang di medan perang ini," tegas Kharazmi, seraya menambahkan bahwa Iran "siap untuk perang yang berkepanjangan".

Load More