-
Perang di Iran meninggalkan trauma mendalam bagi jutaan anak meskipun gencatan senjata dilakukan.
-
Perekrutan anak di bawah umur oleh milisi Iran memicu kecaman keras dunia internasional.
-
Dampak psikologis jangka panjang mengancam masa depan generasi muda akibat paparan kekerasan perang.
Ia meratapi masa mudanya yang seharusnya diisi dengan belajar untuk menjadi sosok mandiri di masa depan.
"Saya tidak memiliki kontak dengan teman-teman saya... Saya seharusnya bisa belajar, bekerja, dan menjadi orang yang mandiri di masa depan. [Saya seharusnya] tidak terus-menerus mengkhawatirkan politik, hidup dalam stres, memikirkan bom yang jatuh... [dengan] ketakutan yang tak ada habisnya," ujar Ali pilu.
Lembaga bantuan di Tehran melaporkan lonjakan drastis orang tua yang mencari bantuan medis untuk anak-anak mereka.
Aysha, seorang konselor di pusat hak asasi manusia, bekerja keras menenangkan para ibu yang panik melalui saluran telepon.
"Cobalah untuk melakukan hal-hal yang saya sebutkan kepada Anda untuk menciptakan lingkungan yang lebih tenang baginya," saran Aysha kepada salah satu pasiennya.
Ia meminta orang tua untuk tetap mengajak anak bermain demi mengalihkan perhatian dari suasana mencekam di luar rumah.
"Jika memungkinkan, ajaklah dia bermain dan buatlah dia tetap sibuk. Dan jika setelah itu keadaan tidak membaik, bawalah dia kembali ke pusat bantuan," tambahnya.
Gejala yang muncul pada anak-anak meliputi gangguan tidur, mimpi buruk, hingga perubahan perilaku menjadi sangat agresif.
Tragedi Kematian Anak dan Rekrutmen Militer
Baca Juga: Tegas! PM Kanada Putus Ketergantungan kepada AS, Mark Carney: Kami Akan Berdikari
"Ketika Anda berjuang begitu keras untuk membesarkan seorang anak, hanya agar anak itu terbunuh - baik dalam protes atau dalam perang seperti ini - saya yakin tidak ada orang tua yang bersedia membawa anak ke dunia ini," tegas Aysha.
Data dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat sedikitnya 254 anak tewas dari total 3.636 korban jiwa.
Di tengah duka tersebut, rezim Iran justru secara aktif mendorong anak-anak untuk bergabung dengan milisi sukarelawan Basij.
Pemerintah meminta orang tua merelakan anak mereka menjaga pos pemeriksaan dengan dalih pembentukan karakter maskulin.
"Apakah Anda ingin putra Anda menjadi laki-laki? Biarkan dia merasa menjadi pahlawan di medan perang, memimpin pertempuran. Ibu, Ayah, kirimkan anak-anak Anda pada malam hari ke barikade jalanan. Anak-anak ini akan berubah menjadi laki-laki," seru salah satu tokoh rezim.
Tragedi menimpa Alireza Jafari yang berusia 11 tahun, yang tewas terkena serangan pesawat tak berawak saat menjaga pos.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
BMKG Rilis Peringatan Dini Hujan Ekstrem di Jabodetabek Hingga 17 April
-
Sindiran Telak Mark Carney ke Trump, Kanada Perkuat Gerakan Boikot Produk AS
-
Sinergi BNI dan Pemerintah Dorong Hunian Layak serta Ekonomi Rakyat di Manado
-
Cuaca Ekstrem Terjang Jaktim Kemarin, Belasan Pohon Tumbang Timpa Ruko dan Kendaraan Warga
-
Wapres AS Kena Troll Kedubes Iran: Gagal Pimpin Negosiasi dan Disorot Usai Orban Kalah Pemilu
-
Warga Iran Lega Gencatan Senjata, Tapi PHK Sudah di Mana-mana dan Hidup 'Ngap-ngapan'
-
Unggah Foto Bak Yesus, Trump Serang Paus Leo XIV: Dasar Pemimpin Lemah!
-
Bahlil Ikut Prabowo ke Rusia, Misi Amankan Pasokan Minyak RI di Tengah Gejolak Global
-
Tegas! PM Kanada Putus Ketergantungan kepada AS, Mark Carney: Kami Akan Berdikari
-
Donald Trump Perintahkan CENTCOM Cegat Semua Kapal di Selat Hormuz: Hancurkan Iran!