-
Perang di Iran meninggalkan trauma mendalam bagi jutaan anak meskipun gencatan senjata dilakukan.
-
Perekrutan anak di bawah umur oleh milisi Iran memicu kecaman keras dunia internasional.
-
Dampak psikologis jangka panjang mengancam masa depan generasi muda akibat paparan kekerasan perang.
Suara.com - Gencatan senjata mungkin telah menghentikan dentuman bom, namun kerusakan psikologis pada jutaan anak Iran diprediksi akan bertahan seumur hidup.
Keresahan akibat perang ini ini bukan sekadar statistik, melainkan kenyataan pahit yang merobek ruang privat keluarga di seluruh negeri.
Dikutip dari BBC, Ali, remaja berusia 15 tahun, menjadi representasi nyata bagaimana bisingnya perang kini berpindah ke dalam kepalanya sendiri.
Ia kerap terperanjat hebat hanya karena suara pintu yang terbanting atau peralatan makan yang jatuh ke lantai.
"Sebelum perang, saya tidak merasa stres sama sekali," ungkap Ali menggambarkan perubahan drastis kondisi mentalnya.
Bagi Ali, ketakutan yang muncul akibat suara serangan udara Amerika Serikat dan Israel telah menetap secara permanen dalam ingatannya.
"Tetapi sekarang bahkan suara terkecil pun menyebabkan otak saya bereaksi sangat buruk," jelas Ali mengenai sensitivitas pendengarannya saat ini.
Lebih dari 20 persen penduduk Iran merupakan anak-anak di bawah usia 14 tahun yang kini rentan mengalami trauma.
Kondisi Ali dikenal oleh para ahli psikologi sebagai hyper arousal, sebuah sinyal peringatan dini munculnya gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Baca Juga: Tegas! PM Kanada Putus Ketergantungan kepada AS, Mark Carney: Kami Akan Berdikari
"Suara ledakan, gelombang kejut, dan suara jet tempur yang terbang di atas kota dapat memberikan efek yang sangat serius," tuturnya.
Rumah Bukan Lagi Tempat yang Aman
Ali kini terus mengamati perubahan perilaku kedua orang tuanya yang turut hancur akibat dampak ekonomi dan keamanan.
Ayahnya kehilangan pekerjaan akibat konflik, sementara ibunya terjebak dalam kecemasan akut yang tak kunjung reda.
"Ibu saya tetap di rumah, dan setiap kali jet tempur terbang di atas kepala, dia menjadi ketakutan dan stres serta menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan ketakutan yang jelas. Adapun saya sendiri, saya sangat takut," akunya.
Interaksi sosial Ali dengan teman sebaya terputus total seiring menyusutnya dunia yang ia tinggali selama ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Meninggal karena Serangan Jantung, Temon Sempat Dilarikan ke RSUD Mampang
-
Mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani Meninggal Dunia
-
Akrab di GBK, Intip Gestur Hormat Jaksa Agung-Panglima TNI dan Kapolri Sambut Prabowo
-
LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
-
Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Resmi Ditetapkan, Apa Maknanya?
-
BNI Dorong UMKM Batik Bertransaksi Digital melalui Promo di Puspa Nuswantara 2026
-
Cak Imin Tegaskan PBNU Butuh Pemimpin Baru: Yang Lama Nggak Ada Perubahan
-
Rekam Jejak Rudi Margono Plt Jampidsus Baru, Eks Jaksa KPK Pernah Bongkar Kasus Jiwasraya-Asabri
-
Regulasi Cuti dan WFA ASN Pada Hari Pertama Sekolah
-
Lantik Pengurus Aceh, Bahlil Tegaskan Golkar Dukung Prabowo Sampai Selesai