News / Internasional
Senin, 13 April 2026 | 11:59 WIB
Trump Ancam Serang Kuba, Presiden Miguel Díaz-Canel Siapkan Jebakaan Mematikan untuk Pasukan AS [presidencia.gob.cu]
Baca 10 detik
  • Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyatakan kesiapan melawan agresi militer Amerika Serikat demi mempertahankan kedaulatan serta revolusi negaranya.
  • Pengetatan blokade energi oleh Amerika Serikat memicu krisis listrik dan ancaman kekurangan pangan yang parah di Kuba.
  • Pemerintah Kuba menolak bernegosiasi terkait perubahan sistem politik meskipun berada di bawah tekanan besar dari pihak Washington.

Suara.com - Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Dalam wawancara dengan NBC, Díaz-Canel menegaskan Kuba siap menghadapi kemungkinan serangan militer dari Amerika Serikat.

“Jika itu terjadi, akan ada perlawanan, dan jika kami harus mati, kami akan mati,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul saat Kuba bersiap menghadapi dampak kebijakan tekanan dari Washington.

Sejak Desember lalu, AS memperketat blokade terhadap Venezuela yang berdampak pada pasokan minyak ke Kuba.

Langkah itu memperburuk krisis energi di negara tersebut, yang kini mengalami pemadaman listrik meluas dan ancaman kekurangan pangan.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mendatangi rumah sakit tempat penyimpanan jenazah korban kecelakaan pesawat. [AFP]

Díaz-Canel menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan mundur meski berada di bawah tekanan berat.

Ia bahkan menyatakan siap mengorbankan nyawa demi mempertahankan revolusi Kuba.

“Saya tidak takut. Saya siap memberikan hidup saya untuk revolusi,” katanya.

Baca Juga: Diancam Trump Bakal Dikirim ke Neraka, Iran Siapkan 'Pusaran Maut' di Selat Hormuz

Díaz-Canel juga menambahkan bahwa tidak ada alasan bagi AS untuk melakukan agresi militer terhadap negaranya.

Kuba saat ini menghadapi krisis berlapis, mulai dari kekurangan listrik hingga pasokan makanan yang menipis.

Pemerintah mengakui situasi sulit, namun menegaskan bahwa kondisi tersebut diperparah oleh blokade yang semakin ketat.

“Kami menghadapi dampak akumulatif dari blokade, ditambah pengetatan terbaru, termasuk blokade energi,” ujar Díaz-Canel.

Di tengah tekanan internasional, peluang dialog antara Kuba dan Amerika Serikat disebut semakin kecil.

Díaz-Canel menilai sulit mempercayai komitmen Washington, terutama setelah serangan terhadap Iran saat negosiasi berlangsung.

Load More