-
Pakistan menjadi tuan rumah dialog perdamaian langsung antara Amerika Serikat dan Iran.
-
Keamanan ketat dan libur nasional diberlakukan di Islamabad demi kelancaran negosiasi.
-
Kepentingan energi dan cadangan mineral memperkuat posisi tawar Pakistan di hadapan Washington.
“Upaya fasilitasi proaktif dan keberhasilan Pakistan menempatkannya di peta sebagai pemain yang menunjukkan agensi,” ujar Aamer.
Hubungan kedua negara sempat berada di titik terendah selama dekade terakhir karena masalah kepercayaan.
Dulu Amerika Serikat menuduh Pakistan bermain dua kaki dalam perang melawan kelompok militan di Afghanistan.
Insiden tewasnya Osama Bin Laden pada 2011 di Abbottabad sempat menghancurkan reputasi militer negara tersebut.
Pemerintahan Joe Biden sebelumnya bahkan cenderung mengabaikan komunikasi dengan pemimpin-pemimpin di Islamabad.
“Pakistan benar-benar semacam negara paria,” kata ilmuwan politik Aqil Shah, dari Edmund A. Walsh School of Foreign Service di Universitas Georgetown.
Ketertarikan Donald Trump pada Potensi Alam
Kembalinya Donald Trump ke panggung kekuasaan membawa pendekatan yang jauh lebih transaksional.
Minat Washington mulai tumbuh setelah Pakistan mengklaim memiliki cadangan mineral langka bernilai triliunan dolar.
Baca Juga: Kisah Anak-anak Iran di Tengah Perang: Aku Stres Banyak Suara Ledakan, Berlindung Agar Tak Terbunuh
Selain itu, sikap kooperatif Islamabad dalam meredam ketegangan dengan India juga menarik perhatian Trump.
“Saya pikir ada keinginan yang sangat nyata di Pakistan untuk mencoba memperluas hubungan dengan Washington,” kata Fahd Humayun, asisten profesor ilmu politik di Tufts University.
Islamabad dinilai sangat terbuka dalam mengakui peran mediasi Amerika Serikat di berbagai konflik regional.
Sinergi antara pemerintahan Trump dan militer Pakistan terlihat semakin solid akhir-akhir ini.
Pihak Pakistan bahkan telah mengamankan kesepakatan terkait mineral langka dan masuk dalam Dewan Perdamaian Trump.
Trump secara khusus memberikan pujian kepada Jenderal Asim Munir dengan menyebutnya sebagai kepala militer favoritnya.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
Mendes Yandri Susanto Bantah Isu Dana Desa Dipotong, Sebut Kopdes Merah Putih Perkuat Ekonomi Warga
-
Gara-gara Ceramahnya, GAMKI dan Pemuda Katolik Resmi Laporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Jaya
-
Panas! Militer Amerika Serikat Buru Kapal Pembayar Upeti Iran di Selat Hormuz
-
15.000 Paket Sembako dari Indonesia Tiba di Gaza, Baznas Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
-
Mendagri Dukung Perpanjangan Dana Otsus Aceh dan Usulkan Kembali ke 2 Persen Akibat Dampak Bencana
-
Mensos Gus Ipul Pastikan Bansos Cair Minggu Ketiga April 2026, Dijamin Lebih Tepat Sasaran
-
Polemik Ceramah JK di UGM, GAMKI Ancam Lapor ke Polisi karena Dinilai Singgung Umat Kristen
-
Menteri Dody: Proyek Sekolah Rakyat di Surabaya Garapan Waskita Karya Progressnya Baik
-
Respons Kritik JK ke Pemerintahan Prabowo, Kaesang: Kita Butuh Suasana Tenang, Bukan Kegaduhan
-
Setelah Iran, AS Serang Kuba? Miguel Daz-Canel: Saya Siap Mati Demi Revolusi!