- Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena inflasi pengamat yang dinilai menyampaikan opini tidak akurat di Jakarta.
- Arifki Chaniago menyatakan istilah inflasi pengamat merujuk pada pengamat yang bersikap politis dan menjadi tim sukses pemilu.
- Fenomena ini menjadi peringatan bagi partai oposisi karena kritik yang mandul memicu munculnya komentar dari figur personal.
Suara.com - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menilai istilah “inflasi pengamat” tidak ditujukan kepada banyaknya pengamat yang melontarkan kritik terhadap pemerintah.
Menurut Arifki, istilah itu lebih tepat dialamatkan kepada pengamat yang dinilai telah mengambil posisi politik.
"Ya, kalau kita baca inflasi pengamat ini bisa dibaca sebagai banyaknya keberadaan pengamat tidak dalam posisi mengkritik pemerintah tapi sudah sebagai posisi politik," kata Arifki Chaniago kepada Suara.com, Senin (13/4/2026).
Penilaian Arifki tersebut merupakan respons atas istilah "inflasi pengamat" yang disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Arifki kemudian menyoroti sejumlah pengamat yang sebelumnya telah mengambil posisi politik, lalu bergabung dalam tim sukses pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2024.
"Tak bisa kita pungkiri bahwa pengamat yang tiba-tiba mengkritik pemerintah tapi ada bergabung sebagai tim sukses di Pilpres 2024," ujarnya.
"Menyebabkan pengamat ini muncul mengomentari segala isu sehingga sulit kita melihat pengamat memang sejak awal tidak suka dengan pemerintah atau memang hanya kebijakan pemerintah saja yang tidak suka," sambung Arifki.
Menurut Arifki, fenomena inflasi pengamat seharusnya menjadi lampu kuning bagi partai oposisi yang kritiknya kini dianggap mandul.
"Pada sisi lain, ini bisa menjadi peringatan kepada partai oposisi yang mandul secara kritik. Akhirnya, ketidakpuasan atau kritik muncul dari figur personal," kata Arifki.
Baca Juga: Akademisi Kritik Istilah Inflasi Pengamat dari Seskab Teddy, Sebut Pemerintah Mulai Antikritik
Sebelumnya, Teddy menyoroti maraknya fenomena "inflasi pengamat" yang dinilainya kerap memunculkan pernyataan tanpa dasar data yang akurat.
Ia menyebut banyak pengamat saat ini melontarkan opini di luar bidang keahliannya sehingga berpotensi menyesatkan opini publik.
Pernyataan tersebut disampaikan Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat (10/4/2026).
Ia mengimbau agar para pengamat tidak membangun narasi yang memicu kecemasan di tengah masyarakat.
"Saya mau jawab juga, sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat, oke. Ada pengamat beras tapi dia background-nya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri, dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru. Oke," ujar Teddy.
Ia menilai, upaya pembentukan opini negatif oleh sebagian pengamat sudah terjadi bahkan sebelum Presiden Prabowo Subianto menjabat.
Berita Terkait
-
Akademisi Kritik Istilah Inflasi Pengamat dari Seskab Teddy, Sebut Pemerintah Mulai Antikritik
-
Habiburokhman Bela Seskab Teddy soal 'Inflasi Pengamat': Ada Benarnya
-
Sebut Saiful Mujani Elite Kaya Raya, Habiburokhman: Waspadai Propaganda Hitam Berkedok Kritik
-
Seskab Teddy Pastikan Indonesia Tidak Akan Tarik Pasukan dari UNIFIL
-
Kantor Kementerian PU Digeledah Kejati, Seskab Teddy: Silakan, Pemerintah Terbuka untuk Proses Hukum
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!
-
Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra