-
Donald Trump mengkritik tajam Paus Leo XIV karena menentang kebijakan militer Amerika Serikat.
-
Vatikan menilai serangan Trump sebagai bentuk kegagalan dalam meredam pengaruh moral kepausan.
-
Ketegangan kedua pemimpin dipicu oleh perbedaan pandangan soal nuklir Iran dan kedaulatan Venezuela.
“Paus Leo lemah dalam hal Kriminalitas, dan sangat buruk untuk Kebijakan Luar Negeri,” tulis Trump di Truth Social.
Paus Leo XIV sebelumnya memberikan kecaman terhadap ancaman militer yang dilepaskan AS terhadap rakyat Iran.
Otoritas Vatikan menilai bahwa retorika yang mengarah pada kehancuran sebuah peradaban adalah hal yang tidak bisa diterima.
Menanggapi penggunaan terminologi agama dalam perang, Paus menekankan bahwa sosok spiritual tidak bisa dijadikan alat pembenaran.
“Yesus adalah raja damai, yang menolak perang, yang tidak seorang pun dapat menggunakannya untuk membenarkan perang,” ungkap Paus Leo XIV.
Beliau juga menegaskan bahwa doa bagi mereka yang mengobarkan peperangan tidak akan mendapatkan tempat yang semestinya.
“Dia tidak mendengarkan doa mereka yang berperang tetapi menolak mereka,” tambah sang Paus dalam pesannya.
Kritik Terhadap Operasi Militer di Venezuela
Fokus ketegangan ini juga meluas hingga ke wilayah Amerika Selatan, khususnya terkait penggulingan kekuasaan di Venezuela.
Baca Juga: Setelah Iran, AS Serang Kuba? Miguel Daz-Canel: Saya Siap Mati Demi Revolusi!
Paus Leo XIV menyerukan agar kedaulatan rakyat dihormati pasca operasi penangkapan pemimpin Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika.
Trump merespons dengan menyatakan bahwa pemimpin agama tidak seharusnya mengintervensi langkah-langkah politik seorang presiden.
“Saya tidak ingin Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat,” ujar Trump menanggapi sikap kritis Vatikan.
Ia bahkan mengklaim bahwa pemilihan Paus Leo XIV hanyalah sebuah strategi politik gereja untuk menghadapi dirinya.
Pihak resmi Vatikan melalui Fr. Antonio Spadaro melihat serangan Trump sebagai bentuk ketidakberdayaan dalam menghadapi suara moral.
Menurut Spadaro, Trump berusaha menyeret Paus ke dalam pola komunikasi yang didasarkan pada kekuatan dan keamanan semata.
“Trump tidak mendebat Leo: dia memohon kepadanya untuk mundur ke dalam bahasa yang dapat dia kuasai,” tulis Spadaro di platform X.
Ia menilai bahwa Paus Leo XIV menggunakan tata bahasa yang melampaui kepentingan nasional suatu negara tertentu.
“Tetapi Paus berbicara dengan bahasa lain, bahasa yang menolak untuk direduksi menjadi tata bahasa kekuatan, keamanan, dan kepentingan nasional,” tegas Spadaro.
Kekuatan Moral di Tengah Isu Global
Kehadiran Paus Leo XIV di panggung internasional dianggap sebagai ancaman bagi dominasi narasi politik yang agresif.
Vatikan menekankan bahwa perdamaian yang langgeng hanya bisa dicapai melalui dialog yang jujur dan rasa keadilan.
“Komitmen untuk membangun dunia yang lebih aman dan bebas dari ancaman nuklir harus diupayakan melalui pertemuan yang saling menghormati dan dialog yang tulus,” kata Paus.
Upaya ini ditujukan untuk membangun persaudaraan dan kebaikan bersama di tengah ancaman serangan terhadap situs nuklir.
“Untuk membangun perdamaian abadi, yang didasarkan pada keadilan, persaudaraan, dan kebaikan bersama,” pungkas sang Paus.
Konflik ini bermula dari perbedaan tajam antara kebijakan luar negeri pemerintahan Trump yang agresif dengan prinsip kemanusiaan Vatikan.
Ketegangan meningkat saat AS mengancam akan menghancurkan peradaban Iran sebelum gencatan senjata dua minggu tercapai.
Di sisi lain, Paus Leo XIV, sebagai Paus asal Amerika pertama, memiliki pengaruh besar terhadap pemilih Katolik moderat di AS.
Perselisihan ini juga mencakup isu migrasi dan intervensi militer di Venezuela yang semakin menjauhkan hubungan kedua pemimpin tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
IMM Minta Polemik Sapi Kurban Presiden Prabowo Disudahi: Tak Langgar Aturan dan Banyak Manfaatnya
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!
-
Tragedi TV Tabung di Atas Kepala Siswi SD, Akhir Tragis JN di Tangan Pemuda Haus Darah
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra