- Presiden Prabowo Subianto berhasil menjaga stabilitas nasional dan ketahanan demokrasi selama dua tahun kepemimpinannya di Indonesia.
- Indeks Kemerdekaan Pers tahun 2025 meningkat menjadi 69,44, menunjukkan kebebasan media tetap terjaga tanpa intervensi sistemik negara.
- Pemerintah menerapkan penegakan hukum agresif di BUMN serta mengedepankan pendekatan persuasif dalam merespons aspirasi masyarakat sipil.
Suara.com - Memasuki tahun kedua kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, wajah politik Indonesia menampilkan potret yang menarik: stabil namun tetap dinamis. Di bawah kendali Prabowo, stabilitas keamanan nasional berhasil dijaga dengan tetap menjunjung tinggi prosedur demokrasi yang disiplin.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai bahwa kekhawatiran awal mengenai kemunduran demokrasi di era ini tidak terbukti. Sebaliknya, sistem politik Indonesia menunjukkan kekuatan yang tak terduga.
“Demokrasi Indonesia yang seringkali dianggap rapuh justru menunjukkan resiliensi atau daya tahan yang luar biasa di bawah komando yang tegas Presiden Prabowo,” kata Iwan Setiawan dalam keterangan tertulis, Senin (13/4/2026).
Kemerdekaan Pers yang Terjaga
Salah satu sorotan utama dalam dua tahun terakhir adalah ruang gerak masyarakat sipil dan media massa. Iwan menekankan bahwa peran media sebagai watchdog atau anjing penjaga demokrasi tetap berfungsi optimal tanpa intervensi sistemik dari penguasa.
Data Dewan Pers memperkuat fakta ini. Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) 2025 tercatat berada di angka 69,44 (kategori cukup bebas), mengalami kenaikan tipis dibandingkan skor tahun 2024 yang sebesar 69,36.
“Berdasarkan data laporan tahunan mengenai kebebasan pers, posisi Indonesia tetap berada dalam kategori yang stabil. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa tidak adanya kebijakan sensor media yang dikoordinasikan oleh negara, serta tetap aktifnya kanal-kanal kritik di media sosial,” ujar Iwan.
Legitimasi demokrasi di mata publik pun tetap solid. Survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan bahwa 73,9 persen masyarakat sepakat Indonesia adalah negara demokratis. Angka ini menjadi bukti bahwa fondasi politik nasional masih mendapat kepercayaan besar dari rakyat.
'Bersih-Bersih' BUMN dan Penegakan Hukum
Baca Juga: Respons Kritik JK ke Pemerintahan Prabowo, Kaesang: Kita Butuh Suasana Tenang, Bukan Kegaduhan
Kestabilan politik di era Prabowo juga diiringi dengan penegakan hukum yang agresif. Pemerintah tidak segan-segan melakukan aksi "bersih-bersih", terutama di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui kolaborasi KPK dan Kejaksaan Agung.
Namun, ketegasan ini tidak berarti menutup pintu diskusi. Iwan melihat pemerintah saat ini lebih memilih pendekatan ‘tanding narasi’ di ruang digital dibandingkan melakukan pembungkaman. Setiap kritik dijawab dengan data dan penjelasan kebijakan yang transparan.
“Dinamika unjuk rasa dan penyampaian pendapat di muka umum juga tetap berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku. Aparat keamanan dalam dua tahun terakhir menunjukkan pendekatan yang lebih persuasif dan humanis dalam mengawal aksi massa,” ucap Iwan.
Kedewasaan Berpolitik
Pada akhirnya, stabilitas yang tercipta saat ini dianggap sebagai refleksi dari kedewasaan demokrasi. Pemerintah dinilai telah memahami bahwa kekuatan politik yang sejati lahir dari pengelolaan perbedaan pendapat, bukan penghapusan suara kritis.
Menurut Iwan, kebebasan sipil kini telah bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjalankan roda pembangunan.
“Kebebasan sipil di era ini bukan lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai mesin koreksi agar kebijakan pemerintah tetap berpihak pada kepentingan rakyat banyak,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Demokrasi RI Ternyata Masih 'Sakti', Survei LSI Buktikan Publik Masih Menaruh Kepercayaan Penuh!
-
Langit Indonesia Dijual? Sjafrie Sjamsoeddin Bakal Teken Akses Bebas untuk Militer AS
-
Mendes Yandri Susanto Bantah Isu Dana Desa Dipotong, Sebut Kopdes Merah Putih Perkuat Ekonomi Warga
-
Respons Kritik JK ke Pemerintahan Prabowo, Kaesang: Kita Butuh Suasana Tenang, Bukan Kegaduhan
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Asabri hingga PLTU, 3 Kasus yang Jerat Eks Jampidsus Febrie Sebabkan Negara Rugi Rp34,6 Triliun!
-
Hindari Kesan Tebang Pilih, Kejagung Diminta Tak Beri Perlakuan Khusus pada Febrie Adriansyah
-
Kebakaran Maut Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang, KBRI: Tidak Ada Korban WNI
-
Niat Selamatkan Surat Berharga, Detik-detik Nenek di Pulogadung Tewas Terbakar Bersama Anak dan Cucu
-
Cegah Konflik Kepentingan, Legislator Desak Perombakan Penyidik Jampidsus di Kasus Febrie Adriansyah
-
Jalan Kebon Sirih Menyempit Jadi Dua Lajur, Kemacetan Mengular Hampir 1 Kilometer
-
Hinca Panjaitan Tegaskan Penyerahan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung Tak Tabrak KUHAP
-
Jangan 'Jeruk Makan Jeruk!', DPR Minta Kasus Eks Jampidsus Febrie Tak Ditangani Mantan Anak Buahnya
-
Mahfud MD Bongkar Skenario Kasus Febrie Adriansyah, Sebut Pengalihan Penyidikan Kacaukan Hukum
-
Satgas PKH Buka Suara soal Kursi Ketua yang Kosong Usai Eks Jampidsus Terseret Kasus Korupsi