-
Jajak pendapat menunjukkan warga Israel ragu serangan militer mampu melemahkan kekuatan Iran dan Hezbollah.
-
Harga minyak dunia menurun seiring munculnya harapan baru dalam negosiasi damai Amerika Serikat-Iran.
-
Masyarakat Israel terjebak dalam rasa putus asa dan kemarahan akibat konflik yang berkepanjangan.
Suara.com - Ketidakpercayaan publik Israel terhadap efektivitas serangan militer menjadi sinyal kuat kegagalan strategi penundukan kekuatan Iran di kawasan.
Warga mulai meragukan klaim pelemahan kelompok bersenjata meski tekanan internasional terhadap Teheran terus meningkat secara masif melalui jalur diplomasi.
Dikutip dari BBC, angka kejenuhan perang meningkat tajam seiring dengan ketidakpastian keamanan yang menyelimuti wilayah perbatasan dalam beberapa waktu terakhir.
Dinamika ini mencerminkan kegelisahan mendalam mengenai masa depan stabilitas regional yang semakin sulit diprediksi oleh para ahli.
Keputusan politik untuk berdamai atau melanjutkan konfrontasi fisik kini menjadi perdebatan sengit di ruang publik masyarakat sipil.
Hasil jajak pendapat terbaru dari Universitas Ibrani Yerusalem menunjukkan fenomena keletihan perang yang melanda warga Israel saat ini.
Data tersebut mengungkap bahwa dua pertiga responden justru menentang gencatan senjata tentatif yang sedang diupayakan Washington dan Teheran.
Survei yang melibatkan 1.312 responden ini dilakukan secara komprehensif pada periode tanggal 9 hingga 10 April lalu.
Mayoritas besar peserta survei menyatakan keyakinan bahwa Iran maupun Hezbollah di Lebanon tidak mengalami pelemahan yang signifikan.
Baca Juga: Kelakuan Zionis! Militer Israel Tewaskan 3 Warga Gaza, Puluhan Ditangkap di Tepi Barat
"Despair" (Putus asa) menjadi kata yang dipilih oleh sepertiga responden untuk menggambarkan emosi mereka terhadap situasi sekarang.
Perpecahan Opini Publik Mengenai Kelanjutan Serangan
Sekitar 39,5 persen responden tetap mendesak agar gempuran militer terhadap Teheran harus terus dilanjutkan tanpa henti.
Sementara itu, terdapat 41,4 persen warga yang berpendapat bahwa kesepakatan gencatan senjata seharusnya lebih dihormati dan dijaga.
Selain rasa putus asa, emosi lain yang muncul dalam survei tersebut secara berurutan adalah kebingungan dan kemarahan.
Optimisme atau rasa harapan hanya menempati urutan keempat dalam spektrum perasaan yang dirasakan oleh masyarakat Israel.
Kondisi psikologis massa ini mencerminkan kebuntuan resolusi konflik yang telah berlangsung selama periode serangan udara tersebut.
Sektor ekonomi global bereaksi cepat terhadap sinyal perdamaian yang mulai muncul di antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak dunia langsung terkoreksi turun pada perdagangan awal di pasar Asia akibat meredanya kekhawatiran eskalasi perang.
Patokan global minyak mentah Brent merosot sebesar 2,2 persen hingga menyentuh angka 97,20 dolar AS per barel.
Minyak yang diperdagangkan di Amerika Serikat juga mengalami penurunan serupa menjadi sekitar 96,90 dolar AS per barel.
Padahal sebelumnya harga minyak sempat melonjak melampaui 100 dolar AS setelah instruksi pemblokiran pengiriman komoditas energi tersebut.
Diplomasi Donald Trump Dan Respons Pasar Asia
Donald Trump menyatakan pada hari Senin bahwa pihak lawan telah menghubungi Washington untuk memulai komunikasi diplomatik baru.
Donald Trump mengatakan bahwa "pihak lawan telah menelepon", dan menambahkan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan "dengan sangat kuat".
Pernyataan ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan yang sebelumnya tertekan oleh ancaman kegagalan negosiasi akhir pekan.
Bursa saham di kawasan Asia merespons positif dengan penguatan indeks Nikkei 225 Jepang yang naik sebesar 2,4 persen.
Pasar modal Korea Selatan melalui indeks Kospi bahkan melonjak lebih tinggi dengan kenaikan mencapai lebih dari 3 persen.
Ketegangan antara Israel dan Iran mencapai titik didih baru setelah serangkaian aksi saling balas serangan udara di wilayah strategis.
Amerika Serikat berupaya mengambil peran penengah melalui paket kesepakatan nuklir dan perdagangan untuk meredam potensi perang terbuka.
Namun, ketidakpercayaan internal di Israel terhadap kekuatan Hezbollah di Lebanon utara terus menghambat tercapainya perdamaian yang permanen.
Fluktuasi harga energi mentah menjadi indikator utama bagaimana konflik di Timur Tengah mampu mengguncang stabilitas ekonomi negara-negara maju.
Hingga saat ini, publik dunia masih menantikan apakah jalur dialog atau kekuatan senjata yang akan mendominasi akhir konflik ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Lebanon Tegaskan Negosiasi Gencatan Senjata Sendiri dengan Israel, Tak Terkait Iran dan AS
-
Donald Trump Hanya Bikin Kegagalan Baru dengan Blokade Selat Hormuz, Ini Analisanya
-
Ketika Tuhan Dihina, Klimaks Blunder Gambar Yesus Donald Trump
-
Kelakuan Zionis! Militer Israel Tewaskan 3 Warga Gaza, Puluhan Ditangkap di Tepi Barat
-
Seenaknya Blokade Selat Hormuz, Iran Sebut AS Seperti Perompak di Mata Dunia
-
Benjamin Netanyahu Koar-koar Sebut Israel Serang Iran Demi Cegah Holocaust Kedua
-
Tak Cukup Andalkan Polisi, Sosiolog Dorong Warga Jakarta Kompak Lawan Premanisme
-
Lakukan Penistaan Gegara Foto Yesus, Donald Trump Bela Diri Salahkan Media
-
Panduan Lengkap IDAI: Cara Benar Menangani Anak Tersedak dan Teknik RJP untuk Orang Awam
-
Iran Tertawakan Blokade AS di Selat Hormuz: Mereka akan Rindukan Harga Bensin 4 Dolar