Suara.com - Kota-kota besar tak lagi sekadar padat, tapi juga semakin panas. Fenomena pulau panas perkotaan membuat suhu di kawasan urban terasa lebih menyengat dibanding wilayah sekitarnya—dipicu dominasi aspal dan beton yang memerangkap panas, serta rapatnya bangunan yang menghambat sirkulasi udara dan memperparah kondisi.
Penelitian terbaru dalam jurnal Cities menunjukkan bahwa selain gedung pencakar langit dan lahan parkir, jalan raya turut memiliki peran yang signifikan sebagai penyebab utama peningkatan suhu lokal.
Dikutip dari laporan Phys.org, para peneliti mempelajari data suhu berbasis satelit sebelum dan sesudah 11 proyek perluasan jalan raya di San Francisco Bay Area. Ditemukan bahwa proyek infrastruktur tersebut menyumbang 70–88 persen dari peningkatan kesenjangan suhu di wilayah tersebut.
Professor of public policy, urban affairs and civil and environmental engineering di Northeastern University, Serena Alexander, menekankan bahwa dampak lingkungan dari material dan luas permukaan jalan perlu mendapat perhatian serius dalam perencanaan kota.
"Kita harus menyadari dampak-dampak ini dan di mana kita dapat mengurangi dampaknya," kata Alexander.
Relevansinya dengan Kondisi Jakarta
Kondisi di Amerika Serikat memiliki relevansi dengan tantangan pembangunan infrastruktur di Jakarta. Di AS, pembangunan jalan raya secara tradisional dipandang sebagai cara untuk mengurangi kemacetan dan menghubungkan komunitas. Begitu pula di Jakarta.
Data dari Greenpeace Indonesia menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kendaraan di Jakarta jauh melampaui pertumbuhan penduduk, di angka 0,92%. Persentase kenaikan kendaraan sepeda motor mencapai 4,9 persen dan mobil penumpang mencapai 7,01%. Angka jumlah kendaraan pribadi di Jakarta kini mencapai 20,2 juta unit, yakni 3,3 juta terdiri dari mobil dan 16,1 juta lainnya motor.
Masifnya penggunaan beton dan aspal pada infrastruktur untuk mengakomodasi volume kendaraan ini berpotensi memperparah efek pulau panas. Sejalan dengan hal tersebut, Greenpeace Indonesia secara konsisten menyoroti bahwa alih fungsi lahan yang terus dilakukan untuk pembangunan jalan raya justru sering kali mengabaikan kebutuhan krusial akan ruang bagi manusia.
Baca Juga: Viral Dulu Baru Ditangani? Pramono Anung Akui Keluhan Warganet Bikin Kinerja Pemprov Ngebut
Greenpeace menekankan pentingnya mengutamakan ketersediaan lahan untuk penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), trotoar, fasilitas bersepeda, dan fasilitas umum lainnya, daripada terus menambah kapasitas jalan yang justru memicu ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Target Net Zero Emissions dan Tantangan Ruang
Urgensi dari kondisi ini melatarbelakangi target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2050 di bidang transportasi. Program yang dicanangkan mencakup pengembangan jalur pedestrian, jalur sepeda, integrasi transportasi publik, serta target elektrifikasi 50% armada Transjakarta pada tahun 2025 dan elektrifikasi seluruh armada pada tahun 2030.
Jakarta mengalami tantangan pada ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Oleh karena itu, integrasi antara upaya dekarbonisasi dan penataan ruang yang berbasis pada kebutuhan mobilitas berkelanjutan menjadi hal yang sangat penting.
Mitigasi Panas dan Pembaruan Kebijakan
Untuk menekan dampak suhu dari infrastruktur jalan, terdapat beberapa metode yang dipaparkan dalam penelitian tersebut, yakni pemanfaatan vegetasi dan penerapan cool pavement.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Makar atau Kebebasan Berekspresi? Membedah Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani
-
Perintah Tegas Pramono ke Pasukan Kuning: Jangan Tunggu Viral, Jalan Rusak Harus Cepat Ditangani!
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029
-
Andi Widjajanto: Selat Malaka Adalah Choke Point yang Bisa Seret Indonesia ke Konflik Global
-
Produk Makanan Segera Punya Label Gula, Garam, Lemak Level A-D: Dari Sehat hingga Berisiko
-
Sebut Prabowo-Gibran Beban Bangsa, Dosen UNJ Ubedilah Badrun Resmi Dipolisikan
-
Mahfud MD Bongkar 'Permainan' Pejabat di Balik Pelarian Koruptor Rp189 Triliun
-
Habiburokhman ke Kapolri: Jangan Risau Ada Oknum, yang Penting Institusi Berani Tindak Tegas
-
Kasus Suap PN Depok, KPK Telusuri Riwayat Mutasi Dua Hakim Tersangka