-
Menlu AS Marco Rubio memimpin negosiasi damai antara Lebanon dan Israel di Washington DC.
-
Pertemuan diplomasi bertujuan menghentikan agresi militer dan serangan rudal yang melibatkan kelompok Hizbullah.
-
Eskalasi konflik dipicu oleh serangan balasan di Beirut dan operasi darat di selatan.
Dinamika ini menjadi tantangan tersendiri bagi Marco Rubio dalam mengarahkan pembicaraan menuju solusi yang konkret.
Ketegangan bersenjata antara militer Israel dan kelompok Hizbullah mencapai titik didih baru sejak awal Maret lalu.
Pertikaian ini meledak pada tanggal 2 Maret ketika gelombang rudal Hizbullah mulai menghujani wilayah kedaulatan Israel.
Serangan tersebut merupakan respon langsung atas keterlibatan militer dalam operasi gabungan yang menargetkan wilayah Iran.
Israel membalas dengan meluncurkan kampanye udara berskala besar yang menyasar titik strategis di wilayah Lebanon.
Lembah Bekaa dan pinggiran kota Beirut menjadi sasaran utama dari gempuran unit tempur angkatan udara Israel.
Dampak Agresi Darat di Selatan
Kondisi semakin memburuk ketika unit infanteri militer Zionis mulai bergerak melintasi perbatasan kedaulatan negara tetangga.
Pada 16 Maret, militer Zionis Israel mengumumkan dimulainya agresi darat ke wilayah Lebanon selatan secara resmi.
Baca Juga: Kontroversi Pete Hegseth, Pembawa Acara TV yang Jadi 'Dewa Perang' AS
Langkah ofensif ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran warga sipil yang terjebak di zona pertempuran aktif.
Dunia internasional terus mendesak agar operasi darat dihentikan guna mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam.
Washington kini menjadi harapan terakhir untuk memaksa kedua belah pihak menarik mundur pasukan masing-masing.
Upaya perdamaian sebelumnya sempat memberikan nafas lega melalui kesepakatan gencatan senjata dengan pihak Iran.
Menyusul gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Israel yang diumumkan pekan lalu, Hizbullah menangguhkan serangannya terhadap Israel.
Namun ketenangan tersebut ternyata hanya berlangsung singkat akibat provokasi baru di lapangan yang kembali muncul.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
DPR Minta Kasus Dugaan Pelecehan di FH UI Diproses Tegas Sesuai Aturan
-
Dino Patti Djalal: RI Perlu Belajar dari Pakistan, Berani Kritik AS dan Tegakkan Prinsip
-
Bukan Sekadar Melintas, Pesawat Militer AS Dikhawatirkan 'Scanning' Data Rahasia Indonesia
-
Usai Diperiksa KPK, Faizal Assegaf Laporkan Jubir KPK ke Polda Metro Jaya
-
Heboh Kasus Pelecehan FH UI, Sosiolog Bongkar Bahaya Maskulinitas Toksik di Kampus
-
Mengenal Gajah Juanda, Saat Trotoar Bogor Menjadi Arena 'Skakmat' di Tengah Deru Kota
-
Sebut Rencana Pramono Anung Ini 'Lucu', Kevin Wu PSI: Rakyat Bisa Antipati ke Partai Politik
-
JK Diserang Usai Senggol Ijazah Jokowi, Jubir Bongkar Motif Upaya Pembungkaman
-
Dapat Kejutan Ultah di DPR, Titiek Soeharto Senyum-senyum Ditanya Ucapan 'Spesial' dari Prabowo
-
PSI Usul Cara Lain Tambah PAD Jakarta, Tak Perlu Jual Nama Halte ke Parpol