-
Menlu AS Marco Rubio memimpin negosiasi damai antara Lebanon dan Israel di Washington DC.
-
Pertemuan diplomasi bertujuan menghentikan agresi militer dan serangan rudal yang melibatkan kelompok Hizbullah.
-
Eskalasi konflik dipicu oleh serangan balasan di Beirut dan operasi darat di selatan.
Suara.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dijadwalkan memimpin langsung upaya diplomasi antara Lebanon dan Israel.
Pertemuan tingkat tinggi ini dirancang untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan konflik yang kian memanas.
Dialog krusial tersebut mempertemukan Duta Besar Israel Yechiel Leiter dengan Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh-Moawad.
Dikutip dari Sputnik, fokus utama perundingan adalah menghentikan siklus kekerasan yang telah melumpuhkan stabilitas di wilayah perbatasan kedua negara.
Langkah diplomatik ini diambil sebagai respon mendesak terhadap eskalasi militer yang terus memakan korban jiwa.
"Menlu Rubio akan ikut serta dalam perundingan damai antara duta Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter dan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh-Moawad di Kantor Departemen Luar Negeri," menurut jadwal agenda yang disiarkan Deplu AS.
Kehadiran Rubio menunjukkan keseriusan pemerintahan Amerika Serikat dalam menstabilkan kembali kawasan Timur Tengah yang bergejolak.
Perundingan formal ini direncanakan mulai berlangsung pada pukul 15.00 GMT atau sekitar pukul sepuluh malam WIB.
Inisiasi pertemuan ini datang dari pihak pemerintah Lebanon yang menyalurkan permintaannya melalui mediator internasional resmi.
Baca Juga: Kontroversi Pete Hegseth, Pembawa Acara TV yang Jadi 'Dewa Perang' AS
Proses meja bundar ini diharapkan mampu melahirkan poin-poin kesepakatan yang mengikat secara hukum internasional.
Dinamika Politik dan Aspirasi Rakyat
Situasi di lapangan menunjukkan tekanan publik yang sangat kuat terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Di jantung kota Beirut, massa pendukung Hizbullah dilaporkan turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa.
Demonstrasi tersebut mencerminkan kompleksitas internal Lebanon dalam menghadapi tekanan militer dari pihak pasukan pertahanan Israel.
Para diplomat di Washington harus mempertimbangkan aspirasi domestik sembari mencari titik temu keamanan bersama.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Survei Cyrus Network: 70 Persen Masyarakat Puas Kinerja Menteri Kabinet Merah Putih
-
Survei Cyrus: 65,4 Persen Publik Dukung MBG
-
Lolos dari Bandara Soetta, Sabu 4,8 Kg Kiriman dari Iran Disergap di Pamulang!
-
Mendagri Tito Bahas Persiapan Program Perumahan di Wilayah Perbatasan
-
Bisa Jadi Pintu Masuk HIV: 19 dari 20 Remaja Jakarta Terinfeksi Penyakit Menular Seksual
-
Begal Petugas Damkar Ditangkap di Hotel Pluit, Polisi: Masih Ada 4 Pelaku yang Buron!
-
Makar atau Kebebasan Berekspresi? Membedah Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani
-
Perintah Tegas Pramono ke Pasukan Kuning: Jangan Tunggu Viral, Jalan Rusak Harus Cepat Ditangani!
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029