-
Kapal induk Amerika Serikat memutar rute melewati Afrika guna menghindari serangan Houthi di Yaman.
-
Kegagalan perundingan di Islamabad memicu pemberlakuan blokade militer di kawasan strategis Selat Hormuz.
-
Eskalasi konflik meningkat tajam setelah aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran.
Suara.com - Militer Amerika Serikat memutuskan untuk mengalihkan rute pelayaran kapal induk USS George HW Bush demi menghindari risiko serangan.
Armada tempur ini memilih jalur panjang mengelilingi wilayah Afrika bagian selatan untuk mencapai lokasi tujuan di Timur Tengah.
Keputusan strategis tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi ancaman serangan dari kelompok Houthi di Yaman.
Langkah ini menandai perubahan pola pergerakan kapal perang Amerika yang biasanya melewati jalur konvensional Laut Mediterania.
Pengalihan rute ini merupakan dampak langsung dari kegagalan diplomasi yang memicu ketegangan di wilayah perairan strategis.
Pejabat pertahanan mengonfirmasi bahwa kapal tersebut secara sengaja menjauhi Laut Merah dan wilayah Bab el-Mandeb.
"Langkah ini diambil dengan menghindari Laut Merah dan Bab el-Mandeb guna mengantisipasi kemungkinan serangan dari kelompok Houthi," lapor USNI News.
Demi menjaga keamanan personel dan aset, kapal induk tersebut tidak melintasi Selat Gibraltar menuju arah Laut Mediterania.
Jalur Afrika dipilih meskipun lebih jauh demi memastikan armada tetap aman sebelum bergabung dengan pasukan di Laut Arab.
Baca Juga: Israel - Lebanon Akan Berunding, Tapi Anak Buah Donald Trump Mau Nimbrung
Kini armada berbasis Pantai Timur tersebut sedang bersiap untuk memperkuat dominasi angkatan laut di kawasan samudera terkait.
Pemberlakuan Blokade Maritim Selat Hormuz
Komando Pusat Amerika Serikat secara resmi mulai menerapkan blokade total di sepanjang jalur perairan Selat Hormuz.
Kebijakan militer yang sangat ketat ini merupakan perintah langsung dari Presiden Donald Trump untuk menekan posisi lawan.
Blokade diberlakukan sesaat setelah upaya perundingan antara pihak Washington dan Teheran tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Kondisi keamanan di kawasan perairan tersebut kini berada pada status waspada tinggi akibat pengawasan ketat angkatan laut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Apa Saja Efek Blokade Selat Hormuz oleh AS? Ini 5 Konsekuensinya
-
Menhaj Irfan Buka-bukaan Soal War Tiket Haji: Saya yang Tanggung Jawab
-
Nadiem Sebut Audit Kerugian Negara Rp2,1 Triliun Hasil Rekayasa: Terbukti di Sidang
-
5 Fakta Hitam Itamar Ben-Gvir, Anak Buah Netanyahu yang Nodai Kesucian Al Aqsa
-
Geger Isu Dicaplok Gerindra, Nasdem Sebut Tempo Telah Minta Maaf
-
5 Fakta Kasus Pemerasan Gubernur Riau: dari OTT hingga Ajudan Jadi Tersangka
-
Selamat Tinggal Jordi Amat, Pelatih Persija Temukan Sosok Anyar Pendamping Rizky Ridho
-
Apa Saja Penyebab AS-Iran Batal Sepakat Damai? Ini 4 Faktornya
-
Malaysia di Ambang Krisis BBM
-
Saat Menhan Sjafrie 'Guncang' Pentagon, Ini Daftar Kerja Sama Pertahanan RI-AS Terbaru